Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Kiai Sepuh Gentong, Waliyullah yang Ajarkan Kesederhanaan

Jawanto Arifin • Sabtu, 13 Mei 2023 | 15:28 WIB
Masjid Al Ghofuriyah di Kelurahan Gentong yang menjadi bukti peninggalan Kiai Sepuh. (Foto: Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
Masjid Al Ghofuriyah di Kelurahan Gentong yang menjadi bukti peninggalan Kiai Sepuh. (Foto: Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)
BANYAK yang meyakini Kiai Sepuh merupakan seorang waliyullah. Dengan beragam karamah yang dimiliki, Kiai Sepuh justru segan terhadap ketenaran. Semasa hidupnya, dia selalu mengajarkan kesederhanaan.

Namanya adalah K.H. Abdul Ghofur. Tetapi, sampai sekarang, masyarakat lebih akrab memanggilnya Kiai Sepuh. Ia merupakan putra tunggal dari pasangan suami istri yang berasal dari Sidayu, Gresik.

Ayahnya, Kiai Dawud adalah seorang ulama asal Hadramaut, Yaman. Ibunya, Nyai Syarifah merupakan keturunan ke-12 dari Sunan Ampel. Dan memiliki garis silsilah ke-33 dari Nabi Muhammad.

Photo
Photo
Aktivitas di Masjid Al Ghofuriyah. (Foto: Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)

Photo
Photo
Bagian dalam masjid Al Ghofuriyah. (Foto: Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)



Sedari lahir sekitar 1810, Kiai Sepuh sudah menjadi anak yatim. Ayahnya wafat ketika Kiai Sepuh masih dalam kandungan. Dilahirkan dengan nama Rasmudin, dia tumbuh sebagai anak yang haus akan ilmu. Ia menyelami ilmu agama di berbagai tempat. Termasuk ke wilayah Pasuruan.

Ketika nyantri, Rasmudin tidak sendirian. Melainkan bersama Mbah Kholil Bangkalan. Keduanya berguru kepada Abu Dharin yang sebelumnya diutus Kiai Nawawi Sidogiri untuk berdakwah di Dusun Tugu, Desa Kedawung Kulon. Sebuah desa paling barat di Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan.

Tempat berdakwah Abu Dharin itu merujuk pada letak jatuhnya batu kerikil yang dilempar Kiai Nawawi. Setibanya Rasmudin dan Mbah Kholil di Dusun Tugu, Abu Dharin ternyata sudah wafat. Namun, itu tidak menghalangi niatan Rasmudin dan Mbah Kholil untuk belajar.

“Pada akhirnya tetap ngaji di Tugu. Tetapi, ngaji bil ghaib dengan keilmuan yang dimiliki Kiai Sepuh (Rasmudin) dan Mbah Kholil,” kata H. Lutfi Rokhman, canggah Kiai Sepuh saat ditemui di rumahnya di Kelurahan Gentong, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan.

Setelah ngaji di Tugu, keduanya berpisah. Mbah Kholil kembali ke Bangkalan, Madura. Sementara Rasmudin tetap berada di Pasuruan. Ia melanjutkan misi belajarnya. Kali ini di perkampungan yang kini berada di wilayah Kelurahan Gentong.

Saat itu, Kiai Sepuh muda bertemu dengan Kiai Surahmin yang mengasuh Pondok Pesantren Gentong. Di pesantren itu pula, Rasmudin menemukan takdir jodohnya. Kiai Surahmin menikahkan dia dengan putrinya, Nyai Solihah.

Photo
Photo
Bedug yang ada di masjid Al Ghofuriyah. (Foto: Muhamad Busthomi/Jawa Pos Radar Bromo)



Kepandaiannya yang di atas rata-rata santri lain itulah yang membuat Kiai Surahmin yakin menantunya bakal sanggup meneruskan perjuangannya berdakwah. Sekaligus mengasuh pesantren. Selama bermukim di Gentong, Rasmudin kemudian dikenal dengan nama Kiai Abdul Ghofur.

Kiai Sepuh memiliki seorang putri bernama Nyai Fatimah yang kelak dipersunting oleh santrinya, Kiai Hasyim. Mula-mula, Kiai Sepuh menyuruh Hasyim sowan kepada Mbah Kholil Bangkalan. Oleh Mbah Kholil, Hasyim diminta pergi ke Arab Saudi.

Tidak hanya mendalami ilmu agama. Melainkan juga untuk membina biduk rumah tangga. Ia diperbolehkan pulang setelah dikaruniai dua anak. Ketawadukannya kepada sang guru, membuat Hasyim mengiyakan permintaan itu.

“Setelah punya dua anak, Mbah Hasyim baru boleh pulang. Mengajak istrinya jika mau. Namun, kalau tidak mau, dia tetap harus pulang sendirian,” kata Lutfi.

Setelah bertahun-tahun hidup di jazirah Arab dan memiliki dua anak, Hasyim teringat pesan Mbah Kholil. Ia lantas mengajak istrinya pulang ke Indonesia.

Namun, istri Hasyim ingin tetap berada di negaranya. Maka, Hasyim pulang seorang diri. Begitu tiba di tanah air, ia segera menuju ke Bangkalan. Ketika sowan, Mbah Kholil langsung menyampaikan bahwa Hasyim sudah ditunggu Kiai Sepuh.

“Kemudian oleh Kiai Sepuh dinikahkan dengan putrinya, yakni Nyai Fatimah,” kata Lutfi.

 

Haul Makin Ramai, Yakini Diizinkan Kiai Sepuh

Panggilan Kiai Sepuh pada Rasmudin atau Kiai Abdul Ghofur, disematkan oleh masyarakat. Panggilan itu kemudian lebih dikenal hingga sekarang. “Di samping karena kedalaman dan ketinggian ilmunya, usianya memang sepuh,” kata Lutfi.



Ia mendapat cerita dari pamannya, Kiai Sepuh berpulang ke Rahmatullah di usia sekitar 125 tahun. Tepatnya pada 9 Jumadil Akhir, 88 tahun yang lalu. Dia dimakamkan di Kelurahan Gentong. Hari wafatnya diperingati saban tahun, sampai sekarang.

Tetapi, sebelum haul dilaksanakan pertama kali puluhan tahun lalu, para dzuriyah Kiai Sepuh sempat bimbang. Mengingat, Kiai Sepuh merupakan ulama yang begitu enggan tersohor. Bahkan, kata Lutfi, sampai sekarang dzuriyah tidak pernah menemukan foto Kiai Sepuh.

“Makanya, ketika awal-awal, haul hanya digelar oleh keluarga dengan masyarakat sekitar lingkungan sini saja,” kata Lutfi.

Ketika tahun-tahun pertama haul digelar, sebagian masyarakat mengkritik. Alasannya, haul tidak perlu dilaksanakan. Karena Kiai Sepuh sendiri menghindari ketenaran. Seiring waktu, semakin banyak masyarakat yang ikut khidmat dalam haul Kiai Sepuh. Jamaah haul yang datang semakin membeludak.

“Pertimbangan dzuriyah, karena haul itu juga suatu kebaikan. Dan semakin lama juga semakin banyak jamaahnya. Jadi, kemungkinan kiai juga sudah mengizinkan,” jelasnya.

Lutfi sendiri ingin melanjutkan perjuangan Kiai Sepuh dalam mensyiarkan agama. Karena pesantren itu sudah tidak aktif sejak generasi ketiga Kiai Sepuh. Untuk mewujudkannya, dia mulai mendirikan Yayasan Al Ghofuriyah.

 

Menara Masjid Jadi Salah Satu Bukti Karamah

Beberapa peninggalan Kiai Sepuh masih ada sampai sekarang. Di antaranya bangunan menara masjid Al Ghofuriyah Gentong. Lengkap dengan bedug yang dipukul sesaat sebelum azan untuk mengingatkan waktu salat. “Masjid itu, menurut Mbah saya, dibangun oleh Kiai Surahmin,” katanya.

Saat itu, bangunan masjid itu belum seperti sekarang. Ukurannya lebih kecil. Menyerupai sebuah langgar. Kiai Sepuh kemudian meneruskan perjuangan Kiai Surahmin. Di masa hidupnya itu pula, dia membangun menara yang berada di sisi selatan masjid.



Menurut cerita yang berkembang, ada beragam peristiwa terkait bangunan menara. Terutama yang menandakan karamah Kiai Sepuh sebagai seorang wali. Di antaranya, Kiai Sepuh pernah memberikan petunjuk bagi orang yang begitu mendambakan pergi haji ke Baitullah.

Ia meminta orang itu untuk menaiki bangunan melalui tangga di dalam menara. Jika melihat lautan setelah berada di atas menara, maka orang tersebut insyaallah bisa menunaikan ibadah haji. Zaman itu, untuk pergi haji memang masih harus menempuh perjalanan laut.

Dalam perjalanan waktu, Masjid Al Ghofuriyah sudah banyak direnovasi. Tetapi, ada beberapa bagian yang masih dipertahankan. Selain keberadaan menara, juga letak pengimaman.

Bahkan, ada tradisi yang masih dijaga sampai saat ini. Masjid itu tidak pernah dipakai untuk tempat kegiatan terbangan. Itu juga atas perintah Kiai Sepuh semasa hidupnya.

“Kami tidak pernah tahu alasan persisnya. Karena dulu kalau sudah tidak boleh, ya tidak boleh,” kata Lutfi.

Padahal, tradisi terbangan sudah ada pada Abad ke-6 Masehi. Saat Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah, juga disambut dengan rebana sembari melantunkan syair.

Tetapi, Lutfi mencoba memahami alasan di balik Kiai Sepuh melarang terbangan di masjid tersebut. “Kemungkinan untuk menjaga kekhidmatan jamaah ketika hormat nabi,” katanya.

Apalagi pernah ada cerita. Sewaktu Kiai Sepuh menghadiri undangan ke pesantren Sidogiri, dia mendapati Fulan, Santri yang melantunkan barzanji saat itu, memiliki suara emas.

Tetapi, Kiai Sepuh rupanya memahami bahwa Fulan menyimpan ria lantaran suaranya yang merdu. Tak disangka-sangka, Kiai Sepuh memintanya berhenti seketika.



Sontak hal itu membuat Fulan menggerutu dalam hati. Namun, ia tetap melanjutkan lantunan diba’. Mengabaikan perintah Kiai Sepuh sambil lalu. Kiai Sepuh kemudian berujar bahwa Fulan tuli lantaran tak mendengarkan perintahnya. Seketika, Fulan kehilangan pendengarannya.

“Mendengar cerita Fulan itu, Kiai Nawawi lalu menyuruhnya seba (menemui) Kiai Sepuh. Setelah itu sembuh, bisa mendengar lagi,” ungkap Lutfi. (muhamad busthomi/hn) Editor : Jawanto Arifin
#kh abdul ghofur #kelurahan gentong #kiai sepuh