Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sumber Curah Grinting yang Awalnya Ranu, Airnya Tidak Pernah Mengering

Ronald Fernando • Sabtu, 6 Mei 2023 | 17:01 WIB
TERUS MENGALIR: Hidayatullah, keturunan Mbah Corah menunjukkan sumber air Curah Grinting yang dulu merupakan ranu. Hingga saat ini masih ada dan airnya dimanfaatkan warga. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
TERUS MENGALIR: Hidayatullah, keturunan Mbah Corah menunjukkan sumber air Curah Grinting yang dulu merupakan ranu. Hingga saat ini masih ada dan airnya dimanfaatkan warga. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)
Sumber Curah Grinting di Kelurahan Curah Grinting, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, sudah lama ada. Warga sekitar pun  memanfaatkan sumber ini secara turun temurun untuk kebutuhan air sehari-hari. Bahkan, sumber ini sudah dimanfaatkan sejak zaman Belanda. Dan, hingga kini tidak pernah mengering.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Tidak banyak yang tahu, dulu sumber ini berupa ranu. Sumber ini ditemukan oleh Abdul Hadi atau yang dikenal sebagai Mbah Corah. Ia adalah orang yang membabat alas wilayah yang kini dikenal dengan nama Curah Grinting itu.

Mbah Corah datang ke daerah ini sekitar tahun 1600-an. Saat itu, wilayah tersebut masih berupa ranu. Belum ada permukiman warga. Namun, air mengalir begitu deras. Hingga sering meluber ke desa tetangga. Karena itu, Mbah Corah pun melakukan tirakat di dalam sumber. Hingga orang mengira ia hilang tenggelam.

Hingga pada suatu hari, ada warga luar desa yang mencari air. Sebab, sumber air di daerahnya mengering. Mereka mengikuti arah burung. Hingga akhirnya menemukan sumber di wilayah tersebut.

"Saat itu, warga tersebut menemukan rumput yang tinggi. Kira-kira setinggi tiga meter di dalam air. Bentuk rumputnya keriting seperti tergulung. Ternyata di dalamnya ada Mbah Corah," kata Hidayatullah, keturunan Mbah Corah.

Warga itu melihat Mbah Corah tengah bertapa dalam posisi sujud pada sebuah batu. Warga pun mengangkatnya. Saat itulah baru diketahui, Mbah Corah bertapa di dalam air selama empat tahun. Hingga batu yang dijadikan tempat sujud pun membekas. Ada bentuk timbul tangan dan dahi.

"Warga ini memang sudah lama mencari Mbah Corah. Dikira menghilang karena lama tidak kelihatan. Ternyata, ia sedang tirakat di dalam air. Karena lama tirakat, sampai rumput membungkus wajahnya," jelas Hidayatullah.

Setelah ditirakati, air masih mengalir deras. Meski tidak meluber seperti sebelumnya. Karenanya, Belanda pun sampai menutup lubang sumber ini dengan menggunakan beberapa batang pohon. Namun, air tetap saja mengalir deras.

Mereka lantas meminta tolong Mbah Corah yang terkenal dengan kesaktiannya. Sebab, air kadang sampai ke permukiman di luar desa. Mbah Corah lantas meminta calon menantunya, Mbah Kedungsari agar membantu Belanda. Ia mengeluarkan kerisnya untuk menyerap air.

"Semacam ujian dari Mbah Corah pantas tidaknya Mbah Kedungsari ini melamar anaknya, Nyai Munawaroh. Ternyata dia berhasil. Sisi utara sumber yang ranu pun berupa jadi daratan," kata Hidayatullah. (fahrizal firmani/hn)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Menyimpan Banyak Benda Antik

Sumber Curah Grinting dimanfaatkan untuk mengaliri lahan pertanian hingga kini. Tak hanya itu. Banyak warga yang memanfaatkan air dari sumber ini untuk kebutuhan sehari-hari. Seperti untuk minum, masak, hingga mencuci pakaian.

Selain dikenal dengan sumber airnya yang tak pernah mengering. Sumber Curah Grinting juga menyimpan banyak benda antik di aliran airnya. Namun, benda-benda itu tidak dapat diambil.

Meski demikian, menurut Hidayatullah, ketururan Mbah Corah,  sebenarnya Sumber Curah Grinting tidak angker. Namun, warga yang usil di tempat itu biasanya memang seperti ada yang mengingatkan agar tidak berlaku usil. Terutama bila sengaja mengambil benda di sana.

Photo
Photo
BUKTI: Batu yang menjadi pijakan sujud Mbah Corah saat tirkat di dalam Ranu. (Foto: Fahrizal Firmani/Jawa Pos Radar Bromo)



Pernah ada warga setempat yang mengambil barang berupa mangkok cina dan batu meteor warna cokelat. Usai dibawa pulang ke rumahnya, ia meninggal tiba-tiba. Pihak keluarga mendengar ada bisikan agar barang itu dikembalikan.

Kejadian kedua, ada warga dari luar yang mengambil batu meteor. Ia juga mengalami nasib serupa seperti warga sebelumnya. Dan lagi-lagi, pihak keluarga diminta mengembalikan barang tersebut.

"Kalau angker sih tidak. Cuma kadang ada saja warga usil. Sehingga, dia kena hukuman. Kalau tidak melakukan hal negatif, pasti tidak masalah," jelas Hidayatullah. (fahrizal firmani/hn) Editor : Ronald Fernando
#sumber curah grinting #hikayat