Makam ini cukup unik. Tidak ada gundukan tanah sebagai penanda seperti makam pada umumnya. Hanya ada potongan bambu persegi yang dibentuk menyerupai plakat. Di tengahnya bertuliskan Makam Landeur.
Wahyudi Bahtiar, ketua Kelompok Teras Tanah yang mengelola lokasi wisata Bukit Dami mengungkapkan, makam Landeur ini sudah ada sejak lama. Landeur ini dipercaya sebagai makhluk dengan perawakan tinggi besar. Menyerupai raksasa.
Karena sosoknya yang menjulang seperti raksasa ini, pijakannya berukuran selebar bukit. Tempat yang dipijak oleh Landeur ini lantas tumbuh subur dan menjadi perbukitan. Di antaranya Bukit Dami.
“Makam Landeur ini semacam folklore atau cerita rakyat. Tapi, masyarakat sangat meyakini kisah tersebut,” katanya.
Diceritakan pula, Landeur ini sangat menyukai pohon bidara. Di dekat makam Landeur di Bukit Dami ini, pohon Bidara pun tumbuh subur. Namun, makam Landeur di Bukit Dami hanyalah potongan kaki.
Potongan tubuh lainnya dipercaya tersebar di sejumlah lokasi. Itulah mengapa, cerita tentang makam Landeur tidak hanya ada di Kabupaten Probolinggo. cerita serupa juga ditemukan di Madura.
Meski begitu, sosok Landeur tidak pernah mengganggu orang. Ia pernah diceritakan oleh seorang pria yang disebut memiliki indra keenam. Pria itu bercerita melihat ada sosok tinggi besar di Bukit Dami.
Sosok Landeur itu justru tersenyum ke pria itu. Kata pria ini, sosok Landeur hanya ingin menjaga alam. Landeur ini berpesan agar masyarakat tidak merusak ekosistem alam.
“Katanya, sosoknya itu tinggi besar. Semakin kita mendongak ke atas, maka sosoknya semakin menjulang,” kata Wahyudi.
Kaur Umum Desa Tigasan Wetan Edi Siswanto menyebut, ada cerita yang menyebut bahwa tubuh Landeur sengaja dimakamkan terpisah. Sebab, jika disatukan, maka Landeur ini bisa hidup kembali.
Warga desa setempat atau pengunjung Bukit Dami dari desa lain jarang yang ditampakkan olehnya. Mereka yang bisa melihat biasanya karena memiliki indera keenam. Sebab, Landeur ini bukan sosok pengganggu.
“Adapula yang bilang sengaja dimakamkan terpisah karena sosoknya yang tinggi besar. Ukuran kakinya saja sepanjang puncak Bukit Dami ini,” tutur Edi. (Fahrizal Firmani/hn) Editor : Ronald Fernando