------------------------------------------------------------------------------------------------------
NAMUN, tidak demikian dengan dua gapura yang awalnya merupakan satu kesatuan dengan Sumber Tetek. Dua gapura itu disebut Gapura 1 dan Gapura 2 Candi Belahan. Dua gapura ini adalah akses keluar masuk menuju Candi Belahan.
“Antara Petirtaan Belahan atau Sumber Tetek, Gapura 1 dan Gapura 2, dulunya adalah satu kesatuan atau satu kompleks. Makanya disebut Gapura 1 dan Gapura 2 Candi Belahan,” ujar Koordinator Juru Pelihara Cagar Budaya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) XI Jawa Timur wilayah Kabupaten Pasuruan Astono.
Menurutnya, Petirtaan Belahan dengan Gapura 1 dan Gapura 2 Candi Belahan, saling berkaitan. Namun, jaraknya memang cukup jauh. Sekitar 1 kilometer. Petirtaan Belahan berada di Dusun Belahan Jowo, sedangkan Gapura 1 dan Gapura 2 Candi Belahan di Dusun Belahan Nongko.
Lokasi Gapura 1 dan Gapura 2 Candi Belahan, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Melewati persawahan, curah, dan jalan setapak. Dari perkampungan warga terdekat, jaraknya hanya sekitar 300 meter.
Sedangkan, menuju Petirtaan Belahan, bisa ditempuh langsung dengan naik motor atau mobil. Kendaraan bisa langsung parkir di tepi jalan, di luar pagar Candi Belahan.
“Raja Airlangga dari Kerajaan Kahuripan juga raja-raja lain kerajaan lainnya, termasuk para petapa, dulu sebelum bertapa, lebih dulu ritual bersuci di Pertitaan Belahan. Masuknya melewati Gapura 1, kemudian keluarnya lewat Gapura 2,” jelasnya.
Antara Gapura 1 dan Gapura 2 Candi Belahan, jaraknya hanya sekitar 100 meter. Sama-sama berbentuk paduraksa dan menghadap utara-selatan. Dua gapura ini terdiri dari tiga bagian. Yakni, kaki, badan, dan atap. Dengan tinggi gapura 4,8 meter dan lebar 1,5 meter.
“Material gapuranya dari bata. Gapura 1 bentuknya lebih utuh. Samping kanan dan kiri ada sayapnya. Di Gapura 2 sebagian sudah rusak. Di sekeliling Gapura 1 dan Gapura 2, terdapat bangunan pagar dari bata, namun sebagian besar sudah runtuh,” jelas Astono.
Mengingat Gapura 1 dan Gapura 2 Candi Belahan merupakan akses masuk dan keluar ke Petirtaan Belahan, dua bangunan ini, kata Astono, merupakan bangunan sakral. Kini, semuanya berada di bawah naungan dan pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XI Provinsi Jawa Timur. Setiap hari ada juru pelihara yang menjaga dan merawatnya.
“Saya kalau ke Gapura 1 dan Gapura 2, sering menjumpai penampakan prajurit zaman kerajaan dan selir-selir lewat. Itu hanya sepintas saja, setelah itu menghilang,” ujar pria yang menjadi juru pelihara Petirtaan Belahan sejak 1996 ini.
Kapan Gapura 1 dan Gapura 2 Candi Belahan dibangun? Astono mengatakan, sama dengan Petirtaan Belahan, catatan kepurbakalannya belum diketahui secara pasti pada abad ke berapa.
“Karena sejauh ini belum pernah dilakukan ekskavasi sama sekali. Mengingat situs cagar budayanya memang sudah tampak dan tidak terpendam. Namun, dugaan kuatnya ada sejak Raja Airlangga,” jelasnya. (zal/rud)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Masih Banyak Temuan Benda Bersejarah
PETIRTAAN Belahan, Desa Wonosunyo penuh sejarah. Termasuk di areal Gapura 1 dan 2 Candi Belahan. Di area Gapura 2, dulunya diduga terdapat asrama para pertapa. Juga perkampungan warga pada zaman kerajaan.
Dugaan ini muncul seiring dengan banyak ditemukannya benda-benda cagar budaya. Beberapa di antaranya masih ada di lokasi. Seperti batu lumpang, umpak, dan lain-lain. Selain itu juga terdapat bongkahan bata zaman dulu. Sebagian besar sudah berlumut.
“Di desa ini dulu tidak ada perkampungan warga seperti sekarang. Tapi, yang ada dulunya terdapat asrama para petapa serta perkampungan warga zaman kerajaan di sekitaran Gapura 2 Candi Belahan,” ujar Juru Pelihara Petirtaan Belahan sekaligus Koordinator Juru Pelihara BPK XI Jatim wilayah Kabupaten Pasuruan, Astono.
Peninggalan bata zaman dulu yang berserakan, oleh warga sekitar dikumpulkan. Ditumpuk menjadi satu di atas gundukan tanah. Namun, bangunan utuh berupa asrama petapa atau perkampungan zaman kerajaan, kini sudah tidak ada wujudnya.
“Di lokasi yang sama, dulu juga diduga ada bangunan seperti candi dari bata. Namun, sudah runtuh dan tidak berbentuk,” katanya.
Lalu, tak jauh dari Gapura 1, dijumpai sejumlah makam. Astono mengatakan, makam-makam itu merupakan makam leluhur warga Dusun Belahan Nongko dan sekitarnya. (zal/rud) Editor : Ronald Fernando