------------------------------------------------------------------------------------------------------
TIDAK ingin seperti kacang yang lupa pada kulitnya. Hingga kini, warga Desa Sukokerto, Kecamatan Pajarakan, tidak lupa dengan asal-usul desanya. Desa yang berdiri atas jasa beberapa leluhur. Termasuk tiga kakak beradik. Yaitu, Raden Panji, Mbah Bitingan, dan Mbah Baseman.
Di masa yang sama, juga ada sejumlah tokoh yang ikut membabat alas Desa Sukokerto. Yakni, Mbah Kroweng, Bujuk Skorap, Mbah Bugel di Dusun Sukunan. Kemudian Mbah Malang, Syayid Abdullah, Mbah Bening di Dusun Krajan. Lalu ada Mbah Sera, Mbah Daud, Mbah Cunang, Mbah Damaran, dan Mbah Sinto.
Semua nama-nama itu dikenal hingga saat ini. Walau mereka hidup jauh di masa ratusan tahun lalu. Kisah dan nama mereka disampaikan secara turun temurun. Terutama setiap ada selamatan desa. Juga saat ada kegiatan Agustusan.
“Kami selalu menyebut nama-nama itu saat ada tasyakurang desa. Kami juga mengirim Al-Fatihah kepada mereka sebagai leluhur desa,” terang Kades Sukokerto, Pajarakan, Hasan saat ditemui di Masjid Siti Aminah, Pajarakan.
Dari sejumlah tokoh itu, sosok Raden Panji yang paling sering diceritakan secara turun temurun. Raden Panji merupakan keturunan raja di era Majapahit. Karena itulah, dia dipanggil dengan sebutan raden.
Saat itu, Raden Panji sedang melakukan perjalanan dari barat ke timur. Dia didampingi sejumlah tentara berkuda. Raden Panji lantas singgah di wilayah Desa Sukokerto.
Cerita ini dikuatkan dengan adanya pemandian kuda di desa setempat. Bahkan, pada tahun 1990-an, pemandian kuda itu masih ada di barat petilasan Raden Panji. Yaitu, di Dusun Pandean, Desa Sukokerto.
“Jadi singgah membawa tentara berkuda. Dulu tempat pemandian kudanya masih ada. Sekarang sudah tidak ada. Menjadi tanah lapang dan sekolahan,” lanjut Hasan.
Namun, niat Raden Panji singgah sebentar ternyata berubah. Dia kepincut dengan para penari cantik di Sukokerto. Tidak heran. Daerah itu dulu dikenal sebagai tempat para penari ronggeng.
“Raden Panji akhirnya singgah cukup lama. Kabarnya karena di sini banyak penari ronggeng yang cantik. Sehingga, Mbah Raden Panji jadi kerasan,” tuturnya.
Tak banyak cerita semasa hidup Raden Panji yang tersiar. Hanya saja setelah Raden Panji melanjutkan perjalanannya ke timur, Petilasan Raden Panji pun dikeramatkan.
“Namanya orang dulu, tentu sakti. Sehingga, petilasannya keramat. Banyak hal-hal aneh yang terjadi,” ujarnya.
Salah satu kekeramatan petilasan Raden Panji ialah banyak warga yang mendapatkan pusaka-pusaka atau barang-barang kuno. Penerimanya tidak sembarangan orang, namun mereka yang memang dipilih oleh Raden Panji sendiri.
“Ada yang diberi keris dan akik, bukan pada saat datang ke petilasan. Namun, saat di rumahnya. Dari juru kunci Mbah Raden, disebut bahwa pusaka maupun barang itu diberi oleh Mbah Raden Panji,” katanya.
Hal aneh juga terjadi pada juru kunci perilasan Raden Panji yakni Maya. Perempuan desa yang diketahui masih ada pada tahun 1990-an. Maya diyakini oleh warga setempat adalah juru kunci yang memiliki beberapa kesaktian. Salah satunya di dunia pengobatan.
“Mbak Maya ini bisa menyembuhkan beragam sakit. Saya sendiri dulu pernah berobat pada Mbah Maya ini dan benar sembuh,” kata Hasan.
Anehnya di tahun 1990-an itu, Mbah Maya tiba-tiba hilang. Tidak diketahui keberadaannya. Sehingga, masyarakat sekitar menyimpulkan Mbah Maya telah meninggal dunia.
“Bak ditelan bumi, juru kuncinya ini hilang. Namun, jasadnya tidak ditemukan. Dari keterangan keluarganya disimpulkan Mbah Maya meninggal. Sebab, sudah tidak ditemukan,” ujarnya. (agus faiz musleh/hn)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dilestarikan sebagai Pengingat bagi Anak Cucu
KEBERADAAN petilasan maupun makam pembabat Desa Sukokerto dilestarikan oleh pemerintah desa hingga kini. Bahkan, saat acara-acara desa nama mereka tetap disebut agar generasi saat ini mengenal para pendahulu desanya.
Kepala Desa Sukokerto Hasan menjelaskan, sejumlah lokasi yang jadi tempat tinggal para pendahulu desa tetap ada sampai sekarang. Walaupun, beberapa sudah berupa bangunan.
“Kami tetap menjaga keberadaannya. Karena ini merupakan sejarah desa. Sehingga, para pemuda desa tetap mengenal asal-usul desanya,” tuturnya.
Selain cerita Raden Panji, cerita Mbah Bitingan juga menjadi kisah yang lumrah di kalangan masyarakat Sukokerto. Mbah Bitingan digambarkan sebagai sosok Kepiting yang besarnya seperti mobil. Bahkan, saat menampakan diri, aliran sungai dapat dihalangi dengan tubuhnya.
“Entah manusia atau apa, ceritanya seperti itu. Yang jelas, Mbah Bitingan ini dikabarkan masih satu saudara dengan Raden Panji,” ujarnya.
Terlepas dari kebenarannya, Hasan menyebutkan bahwa pemerintah desa berencana terus melestarikan sejumlah tempat yang diyakini pernah jadi tempat tinggal para pendahului desa. “Sebab, ini merupakan kearifan lokal desa. Terlepas dari benar atau tidak, setidaknya kita menghargai mereka pendahulu kita,” ujarnya.
Disebut Hasan, sejumlah tempat itu dulunya banyak didatangi oleh warga. Namun, kini sudah jarang. Mereka biasanya datang untuk meminta berkah maupun pusaka dari melalui makam-makam ataupun petilasan tersebut.
“Kebanyakan dari mereka tidak kuat. Sehingga, sekarang yang datang mungkin hanya ziarah kubur saja,” ujarnya. (agus faiz musleh/hn) Editor : Ronald Fernando