------------------------------------------------------------------------------------------------------
PADA masa akhir Kerajaan Majapahit, rombongan raja keluar dari istana. Mencari tempat baru untuk tinggal, jauh dari kerajaan. Mereka berjalan dari arah Malang menuju ke Pasuruan. Rombongan sempat berhenti di Mendit, Singosari dan di Winongan.
"Rombongan kemudian berhenti dan menetap di Tosari. Tapi, dua prajurit yang mengawal tandu kemudian turun dari Tosari. Mereka lantas menetap di Winongan. Ia adalah Mbah Kebut dan Mbah Tombro," kata Subandi, juru kunci makam Mbah Kebut.
Kedua orang itu memiliki latar belakang yang berbeda. Kebut merupakan seorang mpu atau pembuat keris yang andal. Sedangkan Tombro adalah seorang petani. Belakangan, Tombro dikenal sebagai penemu ikan yang ada di pemandian alam Banyubiru.
"Mbah Tombro peninggalannya adalah ikan Tombro yang ada di Banyubiru," terangnya.
Setelah menetap di Winongan, Mbah Kebut memperistri warga sekitar. Namanya, Khaipa. Dengannya ia dikaruniahi beberapa anak.
Adapun Mbah Kebut, selama menetap di Winongan terus membuat keris. Salah satu keris yang dibuatnya adalah keris Winongan Melati Renteng.
"Saya ada kerisnya. Saya diberi dengan cara tak masuk di akal," ungkap Subandi. (Mukhamad Rosyidi/hn)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Meninggalkan Alat Pembuat Keris
Baik Mbah Tombro maupun Mbak Kebut memiliki peninggalan yang sampai saat ini masih ada. Terjaga dan terpelihara.
Mbah Tombro meninggalkan ikan Tombro yang bisa dilihat di pemandian alam Banyubiru. Adapun Mbah Kebut meninggalkan keris dan alat membuat keris.
Yang pertama adalah paron. Paron berbentuk besi dengan panjang 30 sentimeter dan lebar 10 sentimeter. Inilah yang digunakan untuk memipihkan besi dalam proses membuat keris.
Oleh Subandi, paron tersebut dijaga dan dicor. Diletakkan di sekitar makam Mbah Kebut.
"Dulu sering hilang. Karena itu, kemudian saya ambil dan saya cor. Biar nggak hilang lagi," ungkap Subandi.
Paron itu sendiri sering hilang bukan karena hal gaib. Tapi, sering diambil oleh warga yang memiliki kepentingan tertentu. Seperti pencalonan kades. Banyak dari cakades yang berebut mengambil paron.
"Tapi, mereka nggak kuat. Akhirnya paronnya dikembalikan," terangnya.
Selain paron, ada juga lumpang. Lumpang ini berfungsi untuk mendinginkan besi dalam proses pembuatan keris. Setelah dipipihkan, sesekali besi dicelupkan ke dalam lumpang tersebut.
"Selain untuk pendinginan, fungsinya juga untuk mengisi keris. Jadi kesaktian keris ini diisi dari lumpang," tandasnya. (Mukhamad Rosyidi/hn)
------------------------------------------------------------------------------------------------------
Tak Ada Keturunan yang Mewarisi Keahliannya
Cerita tentang Mbah Tombro dan Mbak Kebut sudah mengakar di Winongan. Cerita yang disampaikan turun temurun itu mudah diterima akal. Sebab, ada penguat cerita yang masih terpelihara. Tidak lain ikan Tombro, paron, dan lumpang.
Yang tak kalah penting yaitu makam kedua prajurit kerajaan Majapahit itu. Hingga kini, makam keduanya masih ada. Terjaga kondisinya.
Makam itu berada di sebelah utara pemandian alam Banyubiru. Dulu memang makam itu tak terawat. Kondisinya seperti halnya makam lain. Tak beratap, hanya berpagar. Tapi, setelah tahun 1992, makam itu dibangun lebih bagus.
"Saya pernah diwawancara terkait cerita dua tokoh ini. Kemudian setelah wawancara itu tayang, saya ada yang mendatangi. Dia ngaku keturunannya Mbah Kebut dan berasal dari Jember," kata Subandi.
Setelah kedatangan warga Jember itulah, makam pun dibangun. Diberi dinding dan atap. Hingga kondisinya lebih terawat.
Namun, meskipun ada keturunannya, tapi tak ada yang meneruskan keahlian Mbah Kebut. Yaitu, membuat keris. "Kalau membuat keris tidak ada. Ya orang biasa, tidak membuat keris," ungkapnya.
Ada kisah berbeda tentang penerus Mbah Kebut membuat keris. Yaitu, kisah Joko Untuk atau Dewa Kusuma. Ia adalah anak Joko Seger dan Roro Anteng yang dilarung ke kawah Gunung Bromo. Saat dilarung itu, tubuhnya tak terbakar. Namun, malah hanyut hingga ke daerah Winongan.
Di daerah Winongan, ia ditemukan oleh seorang mpu sakti. Mpu tersebut lantas mengangkatnya menjadi anak. Oleh mpu itu, Dewa Kusuma kemudian diberi nama Joko Untuk. Dia pun meneruskan keahlian mpu itu membuat keris. (Mukhamad Rosyidi/hn) Editor : Ronald Fernando