Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perguruan Silat Ciung Elang di Pasuruan, Embrio Perlawanan pada Penjajah

Ronald Fernando • Sabtu, 11 Februari 2023 | 16:16 WIB
MENJAGA TRADISI: Pesilat dari Perguruan Ciung Elang yang sampai kini masih bertahan di Kota Pasuruan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
MENJAGA TRADISI: Pesilat dari Perguruan Ciung Elang yang sampai kini masih bertahan di Kota Pasuruan. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
Ciung Elang boleh dibilang perguruan silat yang melintasi zaman. Lahir pada 1890-an di sebuah kampung yang kini berada di wilayah Bugul Kidul, Kota Pasuruan. Mula-mula ilmu bela diri itu diajarkan secara rahasia.

------------------------------------------------------------------------------------------------------

MBAH Singo Bejo, pendiri Ciung Elang hanya mempercayai orang-orang di lingkaran terdekatnya untuk mengajarkan silat. Seperti keluarga, kerabat, dan tetangga. Alasannya cukup mendasar. Sebab, silat Ciung Elang diajarkan di tengah-tengah masyarakat yang terjajah.

Sementara setiap pergerakan rakyat di zaman kolonial Belanda dibatasi. Segala aktivitas yang dilakukan oleh pribumi diawasi secara ketat. Apalagi jika ada pribumi yang memiliki ilmu bela diri. Pemerintah kolonial tak mungkin membiarkannya begitu saja. Sebab, khawatir pencak silat menyebar luas dan akan membahayakan posisi mereka.

“Kalau sampai terpantau Belanda, pilihannya hanya dua. Mau menjadi centeng penjajah atau jadi bahan siksaan,” kata Masrukhin, pemimpin perguruan silat Ciung Elang.

Mbah Singo Bejo sendiri memilih setia dengan bumi nusantara. Apalagi, Mbah Singo Bejo masih memiliki garis keturunan dengan Mas Karebet alias Joko Tingkir.

Tidak heran jika dia mengajarkan silat dengan sembunyi-sembunyi. Semua itu merupakan bagian dari siasat. Agar embrio perlawanan rakyat luput dari pengawasan kolonial.

Sepeninggal Mbah Singo Bejo, perguruan Ciung Elang berada di bawah kendali putranya, Khamijan. Dia dikenal sebagai saudagar kaya. Dia berdagang beras dari gabah-gabah yang dipanen petani di sekitar Winongan hingga Nguling.

Namun, kesaktiannya juga tak bisa dipandang sebelah mata. Suatu ketika, Khamijan dihadang perampok sepulang dari kulak gabah. Di tengah perjalanan pulang, para perampok memintanya untuk menyerahkan gabah-gabah itu.

Nyali Khamijan sama sekali tak ciut. Sebenarnya dia bisa saja melawan satu per satu bandit di depannya. Tetapi, itu tak dilakukan. Khamijan hanya turun dari pedati. Lantas mengangkat pedati itu dengan tangannya.

Dan, aksi itu justru berhasil membalikkan situasi. Gabah yang diangkut kocar-kacir. Bahkan, kerbau yang menghela pedati itu sampai terlepas dari tali pengikatnya. (Muamad Busthomi/hn)

Photo
Photo
Sudah banyak pesilat dari Perguruan Ciung Elang yang menuai prestasi. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Ajarkan Turun Temurun tanpa Ditulis

 SAMPAI saat ini, perguruan Ciung Elang dipimpin oleh keturunan Mbah Singo Bejo. Yang membedakan hanya pengajarannya yang tidak lagi dirahasiakan. Pola semacam itu berlangsung sejak era kepemimpinan Maksum Sabari, ayah Masrukhin.

“Karena sudah masuk tahun-tahun kemerdekaan republik,” kata Masrukhin.

Bapak tiga anak itu mulai memimpin perguruan Ciung Elang pada 1993. Ia menggantikan pamannya, Abdurohman yang memegang perguruan sejak 1973. Meski berusia lebih dari satu abad, jurus-jurus Ciung Elang diajarkan secara turun-temurun.

“Tidak ada ajaran yang dituliskan. Karena memang lahirnya kan sembunyi-sembunyi. Jadi diajarkan langsung kepada anak-anak dan muridnya,” kata Masrukhin.

Beberapa jurus yang diajarkan di antaranya bolangbaking, gebrag, jurus kulit, ropel, dan jurus sayap. Nama-nama jurus itu memang tak lepas dari nama perguruan; Ciung Elang yang berarti Raja Elang.

Tetapi belakangan, Masrukhi menambahkan jurus baru yang ia kembangkan sendiri. Yaitu, jurus pedang ruyung dan jurus cahaya bumi. Yang terakhir merupakan bentuk persembahannya kepada sang ibu yang bernama Nurul Wardah.

“Jadi ada tambahan salah satu jurus yang namanya saya ambil dari nama ibu,” ungkapnya. (Muhamad Busthomi/hn)

Photo
Photo
Perguruan silat Ciung Elang konon merupakan keturunan Mbah Singo Bejo. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)

Bumikan Ciung Elang lewat Prestasi

SEJAK didapuk memimpin perguruan, Masrukhin mulai getol membumikan silat Ciung Elang. Langkah pertama dilakukan pada 1996. Saat itu, Masrukhin menggelar pertunjukan tanding di Taman Kota.

Seiring waktu, dia juga berusaha agar murid-murid silat Ciung Elang bisa menembus olahraga prestasi. Dari 80 murid yang ada, sebagian besar sudah memiliki jam terbang dalam pertandingan resmi.

Tidak hanya melalui olahraga silat sendiri. Beberapa di antaranya juga mengikuti kompetisi dalam olahraga bela diri lain. Seperti wushu, kick boxing, muaythai, kungfu, hingga sambo.

Masrukhin sendiri enggan membatasi ruang gerak muridnya. Dia justru mendorong agar mereka bisa menoreh prestasi di manapun berada. Asalkan jangan sampai lupa dengan asal-usulnya.

“Kami tekankan pada prestasi. Tetapi, di manapun mereka berada, silat tetap di dada,“ ujarnya.

Dia menginginkan murid-murid silat bisa memiliki talenta mumpuni dalam berbagai olahraga bela diri. Prinsip itu juga dia tekankan kepada anak-anaknya.

Terbukti, anak bungsunya, Muhammad Si Elang Herlino sudah beberapa kali menyabet prestasi dari bela diri silat. Di usianya yang masih 7 tahun, Elang menjuarai National Champhionship Pencak Silat di Jember pada awal 2023. Tahun lalu, dia menjadi juara dua dalam Tugumuda Champhionship.

Lebih dari itu, Masrukhin juga menekankan agar semua muridnya menjaga tingkah laku di tengah masyarakat. Dia yakin bahwa semua perguruan silat tidak bertujuan untuk menjadikan seseorang jumawa. Tetapi, memberikan bekal bela diri.

Karena itu, setiap murid yang baru bergabung harus ditata niatnya. Sebab, memiliki ilmu silat bukan untuk gagah-gagahan. Apalagi dipakai serampangan. Menurut Masrukhin, setinggi apapun ilmu yang terpenting adalah akhlak.

“Dan, itu yang selama ini kami tekankan sesuai moto perguruan. Andap ashor lan tepo seliro,” pungkasnya. (Muhamad Busthomi/hn) Editor : Ronald Fernando
#perguruan silat ciung elang #beladiri tradisional #ipsi kota pasuruan