Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Inilah Asal Usul Nama Desa Bulujaran di Tegalsiwalan

Ronald Fernando • Sabtu, 4 Februari 2023 | 17:10 WIB
PENANDA: Sebuah patung kuda yang dibangun sebagai tetenger wilayah Desa Bulujaran. Desa dengan cerita sekelompok pengembara yang pernah melintas dan menetap. (Foto : Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
PENANDA: Sebuah patung kuda yang dibangun sebagai tetenger wilayah Desa Bulujaran. Desa dengan cerita sekelompok pengembara yang pernah melintas dan menetap. (Foto : Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)
Nama sebuah tempat umumnya memiliki makna khusus. Termasuk nama desa. Banyak yang asal usulnya mengacu pada legenda atau cerita yang mengakar kuat di lingkungan sekitar. Seperti nama Desa Bulujaran, Kecamatan Tegalsiwalan, Kabupaten Probolinggo. Tempat ini dulu merupakan persinggahan keluarga kerajaan dengan tiga kudanya.

 -----------------------------------------------------------------------------------------------

HIRUK pikuk suara kendaraan melintasi sebuah jalan di Desa Bulujaran Lor, Kecamatan Tegalsiwalan. Kendaraan roda dua maupun roda empat silih berganti melaju ke timur dan barat.

Di sisi selatan jalan itu, terdapat sebuah patung kuda jingkrak yang menjadi ciri khas desa tersebut. Tentu saja patung itu tidak sekenanya dibangun. Patung kuda dipilih karena ada kaitannya dengan asal muasal nama desa tersebut.

Konon sebelum menjadi perkampungan, wilayah Bulujaran merupakan sebuah hutan belantara yang angker. Tidak ada orang yang berani melintas. Apalagi singgah atau menetap di wilayah tersebut.

Hingga suatu hari, ada sekelompok pengembara dari sebuah kerajaan melintas. Mereka berjumlah lima orang, terdiri dari seorang pangeran dan empat orang abdi kerajaan. Serta, tiga kuda yang turut dibawa selama mengembara.

Keempat abdi kerajaan ini sangat patuh pada pangerannya. Sampai-sampai apa yang diperintahkan pangeran, selalu dilakukan dengan ikhlas dan tanggung jawab.

Setelah lelah berjalan, rombongan ini berhenti sejenak di bawah kaki bukit. Mereka beristirahat. Selama beristirahat abdi kerajaan melayani pangeran sebaik mungkin. Termasuk memberi makan kuda yang dibawa mengembara supaya bugar saat melanjutkan perjalanan lagi.

"Cerita itu sudah ada turun temurun. Jadi dulu desa kami ini adalah hutan belantara yang disinggahi rombongan kerajaan. Mereka istirahat setelah melakukan perjalanan. Namun, memang tidak disebutkan dari kerajaan mana," kata perangkat Desa Bulujaran Lor, Urip.

Setelah kondisi rombongan beserta kuda sudah segar, salah satu abdi kerajaan meminta izin kepada pangeran agar melanjutkan perjalanan. Namun, permintaan tersebut tidak langsung disetujui.

Rupanya selama istirahat, pangeran mengamati kondisi lingkungan sekitar. Walaupun merupakan hutan belantara, wilayah itu dilihatnya cukup subur dengan suhu udara yang cukup sejuk. Karena itu, pangeran pun memutuskan untuk bermalam.

"Sang pangeran mulanya hanya bermalam. Namun, rupanya dia merasa nyaman tinggal di sana. Hingga akhirnya mendirikan hunian," ujarnya.

Hunian yang dibangun itu membuat pengembara lain yang kebetulan melintas juga singgah. Dan saat singgah, mereka juga merasakan hal yang sama. Yaitu, kerasan saat bermalam dan ingin tinggal lebih lama.

Akhirnya, wilayah tersebut dikenal dengan nama Wolune Jaran. Sebab, jumlah pengguninya awalnya delapan, terdiri dari lima pengembara dan tiga kuda.

Seiring berjalannya waktu, wilayah Wolune Jaran semakin ramai dan menjadi perdukuhan. Jumlah penduduknya juga terus bertambah.

Mereka yang menetap kemudian mulai mengolah tanah menjadi pertanian. Kehidupan masyarakat pun mulai terbentuk hingga sekarang.

Dengan berjalannya waktu dan bahasa, nama Wolune Jaran kemudian berubah menjadi Bulu Jaran. Nama tersebut sampai saat ini terus bertahan menjadi sebuah nama Desa Bulujaran.

"Mungkin karena kesulitan dalam pengucapan dan perubahan bahasa di masyarakat. Kemudian namanya menjadi Bulujaran. Sampai sekarang melekat menjadi nama desa," tutur Urip. (achmad Arianto/hn)

------------------------------------------------------------------------------------------------------

Photo
Photo
PENANDA: Sebuah patung kuda yang dibangun sebagai tetenger wilayah Desa Bulujaran. Desa dengan cerita sekelompok pengembara yang pernah melintas dan menetap. (Foto : Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

Wilayah Desa Pecah Jadi Dua

Asal muasal nama Desa Bulujaran kini menjadi cerita rakyat. Tersimpan dan dicatat oleh Pemdes Bulujaran Lor yang dulunya dipercaya sebagai tempat awal rombongan kerajaan tersebut menginjakkan kaki dan memutuskan untuk menetap.

Perangkat Desa Bulujaran Lor Urip mengatakan, wilayah Desa Bulujaran begitu luas. Sehingga, untuk melakukan pembangunan dan menyejahterakan masyarakatnya cukup susah.

Karenanya pada tahun 1952, pedukuhan tersebut dipecah menjadi dua. Yakni, Bulujaran Kidul dan Bulujaran Lor. Hingga saat ini, kedua wilayah tersebut menjadi sebuah desa dengan nama yang sama.

"Beberapa cerita dari sesepuh, tokoh masyarakat, dan orang yang dituakan di masyarakat, cerita tersebut ada kesesuaian. Akhirnya, cerita kami tulis dan menjadi legenda desa. Kami simpan di file Pemerintah Desa Bulujaran Lor," bebernya.

Dua wilayah yang saat ini sudah dipecah tersebut memiliki kondisi geografis yang berbeda. Sisi selatan atau Desa Bulujaran Kidul berupa tegalan dan berbatasan dengan bukit.

Photo
Photo
PENANDA: Sebuah patung kuda yang dibangun sebagai tetenger wilayah Desa Bulujaran. Desa dengan cerita sekelompok pengembara yang pernah melintas dan menetap. (Foto : Achmad Arianto/Jawa Pos Radar Bromo)

Sementara sisi utara atau Bulujaran Lor memiliki tanah yang cukup subur. Sehingga, mayoritas penduduk sekitar bertani.

Sistem pengelolaan tanah kedua desa sampai saat ini diprediksi masih sama seperti dulu. Hanya saja ada pembaruan sistem irigasi sejak masuknya pemerintah kolonial Belanda. Selain itu, perubahan yang tampak juga teknologi pertanian dan jumlah penduduk yang menghuni desa.

"Setelah dipecah jadi dua desa dipimpin oleh Demang (Lurah, Red), sistem pemerintahan pun juga berkembang mengikuti zaman," tuturnya.

Lantas apakah makna tugu kuda yang berada di tepi jalan Desa Bulujaran Lor? Urip mengatakan, patung tersebut merupakan salah satu peninggalan kepala desa yang pernah menjabat.

Pembuatan tugu kuda menjadi identitas desa. Sementara kuda menjingkrakkan kakinya dan menghadap ke arah utara, menjadi penunjuk arah tempat pusat pemerintah Desa Bulujaran Lor berada.

"Patung kuda dibangun oleh salah satu kepala desa yang pernah menjabat. Menurut cerita dari perangkat terdahulu, tujuannya untuk mempermudah mengingat wilayah. Namun, bagi orang yang tahu, secara tersirat itu menjadi penunjuk pusat pemerintahan desa," ucapnya.

Namun, menurut Urip, cerita yang ada sejatinya memerlukan penelitian lebih lanjut. Sebab, dulunya pernah ditemukan beberapa peninggalan bersejarah. Sayangnya peninggalan tersebut sudah lenyap seiring dengan berkembangnya waktu dan bergantinya penduduk.

"Perlu diteliti kebenarannya, informasi desa yang ada merujuk pada cerita sesepuh. Bukan hanya satu orang tapi beberapa orang yang dianggap tahu. Dulu ada peninggalan sejarah, tapi saat ini sudah tidak ada," pungkasnya. (achmad arianto/hn) Editor : Ronald Fernando
#desa bulujaran #kecamatan tegalsiwalan