Prasasti batu tulis berada di Dusun Krajan, Desa Wangkal, Kecamatan Gading. Untuk sampai di lokasi batu bersejarah ini, warga harus teliti. Sebab, batu itu berada di areal persawahan.
Untuk sampai ke sana, warga harus menempuh jarak sekitar 500 meter ke arah timur kantor Kecamatan Gading. Kemudian mengikuti jalan makadam ke arah utara sejauh 500 meter.
Selanjutnya, pengunjung akan tiba di makam umum dusun setempat. Pada sisi barat makam ada sebuah sawah. Batu tersebut berada pada pematang sawah, berjarak 50 meter dari makam.
Keberadaan prasasti batu tulis ini lama dikenal warga sekitar. Sejak zaman Kerajaan Majapahit ceritanya tetap lestari hingga sekarang. Bahkan, masih banyak masyarakat setempat atau pemerhati sejarah berupaya mengungkap sejarah batu tulis itu. Dengan mencari bukti dan referensi pendukung lainnya.
Konon batu tulis ini merupakan penanda bahwa wilayah yang saat ini bernama Desa Wangkal adalah desa kuno pada zaman Majapahit. Perjalanan Prabu Hayam Wuruk selama di Bumi Banger (Probolinggo kini) pernah singgah di tempat ini.
Desa Wangkal pada zaman dulu memiliki nama Desa Ganding. Wilayahnya cukup luas dan saat ini ini terpecah meliputi empat desa. Yaitu, Desa Wangkal, Nogosaren, Kertosono, dan Gading Wetan.
“Dari cerita turun temurun, Desa Wangkal merupakan desa kuno pada zaman Majapahit. Dulunya desa ini namanya Desa Ganding. Wilayahnya sama dengan empat desa yang ada saat ini,” kata Perangkat Desa Wangkal Sahrul Munir.
Desa Ganding memiliki tanah yang cukup subur. Berbagai jenis komoditas pertanian dan perkebunan tumbuh dengan baik. Tak heran jika pada zaman Kerajaan Majapahit wilayah ini menjadi salah satu lumbung pangan.
Karena tanahnya subur, maka tempat itu kemudian menjadi permukiman masyarakat. Bahkan, R.A. Kuti yang merupakan salah satu anggota Darma Putra Majapahit dipercaya berasal dari Desa Ganding.
“Jadi, Desa Ganding ini tempat lahir dan besar R.A Kuti. Ada beberapa pemerhati sejarah pernah bercerita menemukan bukti lainnya bahwa benar R.A Kuti ada di sini,” katanya.
Bahkan, situs batu tulis itu masih ada kaitannya dengan pemberontakan R.A. Kuti. Pemberontakan yang akhirnya dapat diredam oleh Patih Majapahit Gajah Mada.
Setelah itu, R.A Kuti menghilang tanpa jejak. Namun, banyak yang mempercayai jika R.A Kuti meninggal dan dimakamkan di wilayah Kecamatan Gading. Sementara lokasi pastinya belum dapat ditemukan.
“Situs Batu Tulis Wangkal itu sebenarnya adalah Prasasti Songenep. Tulisannya terbaca, Nya Sepat Roro Hahak Telung Tunggal artinya tiga kekuatan menjadi satu raga. Dipahat pada batu andesit sekitar tahun 1217 Caka. Tentu perlu ada penelitian lebih mendalam dan referensi banyak untuk mengetahui jejak bersejarah ini,” tuturnya.
Kondisi Prasasti Kini Terbengkalai
Keberadaan prasasti batu tulis sejatinya menjadi daya tarik bagi Desa Wangkal di Kecamatan Gading. Sayangnya, prasasti itu terkesan diabaikan dan terbengkalai.
Sampai saat ini, tidak ada perawatan khusus atau upaya untuk mengamankan benda bersejarah ini. Bahkan, lokasinya tetap berada di pematang sawah.
Saat Jawa Pos Radar Bromo mendatangi lokasi, prasasti batu tulis itu nyaris tidak dapat ditemukan. Sebab, tertutup lumpur dan semak belukar.
Untuk memastikan batu yang berada di pematang sawah tersebut adalah prasasti batu tulis, terlebih dahulu semak belukar dan lumpur yang menutupi harus dibersihkan. Baru kemudian tulisan pada permukaan batu terlihat.
Perangkat Desa Wangkal Sahrul Munir mengatakan, sawah yang menjadi lokasi prasasti batu tulis merupakan milik warga. Sehingga, pihak desa hanya bisa mengawasi saja. Sementara untuk pemiliharaan tetap menjadi kewenangan pemilik sawah.
“Batu tulis itu berada di sawah milik warga, kami hanya mengawasi saja. Sesekali bersama dengan pemilik membersihkan batu itu,” katanya.
Batu itu sebenarnya sudah pernah diteliti oleh akademisi dan sejarawan dari beberapa perguruan tinggi negeri di Jawa Timur. Dari penelitian tersebut diyakini jika wilayah sekitar batu tersebut masih terdapat peninggalan lainnya. Namun, masih belum ditemukan.
“Beberapa tahun lalu ada dwarapala sebelum masuk ke areal batu tulis. Sayangnya benda yang terbuat dari batu andesit itu hilang. Makam yang ada di sisi timur, pernah ada temuan patung-patung. Juga hilang tanpa bekas,” bebernya.
Namun, tidak diketahui pasti kapan batu tulis tersebut ditemukan. Hanya diketahui, batu tulis tersebut sudah diketahui warga sejak puluhan tahun lalu.
Sahrul juga berkata, tak jarang kolektor pusaka dan benda bersejarah datang ke desa untuk mecari benda-benda peninggalan kerajaan Majapahit. Sebab, beberapa batu berukir dan memiliki motif khas tanpa sengaja ditemukan warga. Baik saat ke sungai ataupun saat menggali tanah. Karena ketidaktahuan warga, kemudian barang yang memiliki nilai sejarah tersebut dibiarkan begitu saja.
“Saya yakin masih ada benda bersejarah lainnya yang belum ditemukan. Terselip keinginan untuk menjaga peninggalan bersejarah tersebut. Makanya kami masih mencari cara bagaimana bisa tetap menjaga. Termasuk nanti temuan bisa diamankan dan diletakkan terpusat pada satu tempat,” pungkasnya. (achmad arianto/hn)
https://radarbromo.jawapos.com/features/12/03/2022/prasasti-watu-tulis-di-ledug-prigen-yang-sampai-kini-masih-misteri/ Editor : Jawanto Arifin