DESA Negororejo merupakan salah satu desa di Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo.
Nama Negororejo memiliki makna historis yang dalam dan berasal dari Bahasa Jawa. Di mana, ada kisah menarik yang menyelimutinya.
Sekretaris Desa Negororejo, Syahril Fahrizal menjelaskan nama desa tersebut, terbentuk dari dua kata, yaitu Negor dan Rejo.
Ia mengatakan, dahulu wilayah ini masih berupa hutan lebat atau alas yang belum berpenghuni.
Untuk membuka lahan dan menjadikannya tempat tinggal, masyarakat pada masa itu, harus menebang pohon dan membersihkan hutan.
Dalam Bahasa Jawa, disebut Negor atau babat alas. “Dari situlah kata Negor berasal,” ujarnya.
Setelah dibuka, wilayah ini pun perlahan-lahan berkembang menjadi permukiman yang ramai dan hidup.
Dalam Bahasa Jawa, disebut Rejo. Maka, nama Negororejo dipilih, sebagai simbol dari proses panjang perubahan hutan menjadi desa yang makmur dan ramai seperti saat ini.
Perkembangan Desa Negororejo juga tidak lepas dari peran dua tokoh sesepuh yang sangat dihormati oleh warga, yaitu Mbah Wali Wujud dan Nyai Endang Sukarni. Keduanya diyakini berasal dari Kerajaan Majapahit.
Fahrizal menuturkan, bahwa berdasarkan cerita turun-temurun, tanah tempat berdirinya desa ini, dahulunya merupakan pemberian Prabu Hayam Wuruk kepada Mahapatih Gajah Mada.
Perjuangan membangun desa, kemudian dilanjutkan oleh tokoh lain yang masih memiliki keterkaitan dengan Kerajaan Majapahit, yakni Mbah Biah.
Ia datang ke wilayah tersebut bersama tujuh pasang keluarga atau total 14 orang.
Mereka menetap dan mendirikan permukiman awal. Namun, jumlah penduduk tidak kunjung bertambah, karena setiap kali ada kelahiran anak, musibah selalu datang menghampiri.
Mulai dari bayi yang meninggal hingga peristiwa tragis seperti dimangsa hewan buas. Maklum, saat itu kawasan tersebut masih sangat liar dan dikelilingi hutan.
Selamatan Desa 2 Hari 2 Malam
Untuk mengatasi malapetaka yang kerap datang, para leluhur desa kemudian mengadakan sebuah ritual khusus, berupa selamatan desa yang dilaksanakan selama dua hari dua malam.
Tradisi ini, dipercaya berhasil mengusir bala. Dan sejak saat itu, kehidupan di Desa Negororejo mulai berkembang.
Keturunan dari tujuh pasangan awal tersebut pun, akhirnya bisa hidup tenteram. Jumlah penduduk desa bertambah pesat.
Sejak saat itu, tradisi selamatan desa tetap dilestarikan dan dijadikan agenda tahunan.
Sekretaris Desa Negororejo, Syahril Fahrizal, mengatakan bahwa selamatan desa, dilaksanakan setiap tahun.
Waktunya, ditentukan oleh juru kunci desa. Lokasi pelaksanaan tidak boleh sembarangan. Ritual ini wajib digelar di Dusun Krajan, tepatnya di Blok Kledok.
“Kalau dipindah ke tempat lain, dikhawatirkan akan terjadi musibah. Iringan musiknya pun harus tayub, tidak boleh diganti jenis lain. Semua aturan ini kami patuhi dengan penuh kehati-hatian,” ujar Fahrizal.
Kepala Desa Negororejo, Ngasto memaparkan, dalam pelaksanaan selamatan desa, masyarakat membawa tujuh gendhing atau tujuh lagu tayub.
Serta tujuh jenis air dari sumber mata air yang telah ditentukan.
Selain itu, warga juga membawa ancak yakni wadah yang berisi aneka makanan tradisional. Ancak ini diarak dari rumah ketua RT, menuju rumah kepala desa.
“Karena selamatan berlangsung selama dua hari, maka pada hari pertama masyarakat membawa ancak kecil. Sementara di hari kedua, mereka membawa ancak besar yang lebih lengkap isinya,” tutur Ngasto.
Pada acara selamatan desa, juru kunci juga akan membawa sebuah kotak yang terbuat dari tembaga.
Dipercaya, kotak tersebut berisi sebuah kitab kuno yang ketika bulan gelap, dapat muncul sebuah sosok gaib. Masyarakat menyebutnya sebagai Gajah Oleh.
Kotak tersebut digendong menggunakan selendang dan diberi bunga di atasnya saat acara selamatan desa.
“Tapi, tidak ada yang bisa dan boleh melihat selain juru kunci memang,” imbuh Ngasto.
Gendhing dimulai dari titik Peguron, sebuah lokasi yang diyakini sebagai petilasan atau tempat persinggahan Patih Gajah Mada, sebelum menuju Air Terjun Madakaripura.
Dari sana, perjalanan dilanjutkan ke Mentingan, sebuah tempat di mana terdapat pohon besar di tengah Sungai Laweyan.
Menurut kepercayaan warga, pohon tersebut dijaga oleh seekor ular gaib dan di dekatnya terdapat makam kuno yang dikeramatkan.
Sedangkan untuk ancak, setelah dilakukan doa bersama di lokasi-lokasi tersebut, warga akan memperebutkannya.
Rebutan ini, dikenal sebagai simbol berkah. Isinya pun beragam. Mulai dari nasi, sayuran, buah-buahan, kue-kue tradisional, hingga kerupuk.
Tradisi ini tidak hanya melibatkan warga Desa Negororejo saja. Tetapi juga, warga dari wilayah Kabupaten Pasuruan.
Meski berbeda kabupaten, mereka ikut hadir dan bahkan turut melaksanakan tradisi yang sama.
“Mereka juga menyediakan makanan khas, layaknya perayaan Lebaran. Sama seperti yang kami lakukan di sini. Mereka menerima tamu dari berbagai tempat, baik kerabat maupun teman. Makanan yang disajikan, biasanya berupa nasi, kue, dan makanan khas seperti tape ketan yang dibungkus daun kemiri,” sampainya. (gus/one)
Editor : Jawanto Arifin