HAMPIR tidak ada seorang yang pernah menjabat sebagai Bupati selama lebih dari setengah abad.
Tercatat dalam sejarah, hanya Pangeran Ario Niti Adiningrat yang pernah menjabat Bupati Pasuruan selama 54 tahun.
Bahkan, disebut-sebut menjadi Bupati terlama di Pasuruan.
Warga Pasuruan menyebut Pangeran Ario Niti Adiningrat, sebagai kanjeng pangeran. Ia adalah trah dari keluarga Niti Adiningrat.
Orang keempat yang memakai gelar Niti Adiningrat dan menjabat sebagai bupati di Pasuruan dalam keluarga itu.
Kanjeng pangeran lahir pada tahun 1816. Ia merupakan putra sulung dari Raden Pandjie Brongtokoesoemo yang bergelar Raden Adipati Niti Adiningrat, Bupati Pasuruan pada 1809 hingga tahun 1833.
Ia menyandang nama Raden Bagoes Amoen. Dengan dekrit tanggal 16 September 1816, ia dianugerahi gelar Adipati.
Lalu melalui resolusi 14 Juni 1832 nomor 21, ia diberi gelar Tumenggung.
Kemudian melalui surat keputusan pada 19 Mei 1864 nomor 51, Bupati berwenang penuh untuk predikat Ario.
Ia pun mendapat izin untuk menyebut dirinya sebagai Raden Tumenggung Ario Notto Koesoemo.
“Setelah ayahnya, Raden Adipati Niti Adiningrat meninggal dunia pada Januari 1833, Kanjeng Pangeran diangkat menjadi Bupati Pasuruan pada 18 Maret 1833,” jelas Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono.
Selama memerintah Pasuruan, Ario Niti Adiningrat dikenal sebagai bupati teladan, setia, tekun dan jujur.
Karena itu, tepat pada pemerintahannya yang ke-50 tahun, ia berhak menyandang nama Pangeran Ario Niti Adi Ningrat.
“Karena itu pula, ia dikenal dengan nama Pangeran Ario. Rakyat Pasuruan sangat mencintainya. Mereka memanggilnya dengan nama Kanjeng Pangeran,” tutur Budiman.
Dimakamkan di Belakang Masjid Jamik Pasuruan
Tepat pada pukul 12.30, di hari Rabu, 20 Juli 1887, kanjeng pangeran Ario Niti Adiningrat meninggal dunia.
Ia meninggal di usia 71 tahun. Penduduk Pasuruan sangat berduka. Ribuan orang dari berbagai etnis, mengiringi prosesi pemakamannya.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menyebut, kanjeng pangeran dimakamkan keesokan harinya, pada Kamis, 21 Juli 1887.
Jenazahnya dikebumikan dengan penuh penghormatan di pemakaman keluarga. Letaknya berada di belakang masjid Jamik Al Anwar Pasuruan.
Jenazah diangkut dengan sebuah kereta yang megah. Dihiasi dengan segala macam bunga yang indah dan harum.
Lalu ditutupi dengan kain yang dilengkapi dengan enam selendang, yang dibuat oleh wanita Eropa.
Diceritakan, di atas jenazahnya, tergantung kostum dan dua ordo (singa Belanda, dan medali emas) miliknya.
Beberapa payung emas juga memayungi jenazah ini. Sehingga, tidak kalah dengan pemakaman orang kaya Eropa.
“Hingga hari kamis pekan berikutnya, ratusan orang dari distrik atau kecamatan di Pasuruan, masih berdatangan mengunjungi makam. Mereka memberikan bunga-bunga,” cerita Budiman.
Yang lebih mencengangkan, saat jenazah dimandikan, ribuan orang berebut bekas air mandi itu.
Hampir setiap tetes air yang hendak jatuh ke tanah, menjadi rebutan. Beberapa orang berbaring di tanah dan menyeruputnya seperti seekor angsa.
“Ini menunjukkan betapa ia sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Sampai-sampai, bekas air mandinya pun menjadi rebutan. Mereka tidak rela, air itu jatuh ke tanah,” kisahnya.
Trah Terakhir Niti Adiningrat Di Pasuruan
Sepeninggal Kanjeng Pangeran Ario Niti Adiningrat, harapan ditujukan kepada putra sulungnya, Raden Mas Ario Tirto Kusumo.
Ia sempat diharapkan berganti nama menjadi Raden Mas Tumenggung Ario Niti Adiningrat, mengikuti jejak ayahnya.
Namun harapan ini pupus. Karena yang ditunjuk oleh pemerintah Hindia-Belanda yang memerintah saat itu, bukanlah dia.
Pemerintah Hindia-Belanda menunjuk Raden Mas Tumenggung Ario Soegondo.
Pemerhati Sejarah Pasuruan, Achmad Budiman Suharjono menyebut, Bupati baru Pasuruan sepeninggal Kanjeng Pangeran, bukanlah keturunannya. Melainkan seorang mantan Bupati Banyuwangi.
“Juga bukan kerabat dari Kanjeng Pangeran. Ia adalah putra dari pangeran Ario Mangkoe Negoro IV dari ikatan tidak sah. Ia adalah saudara tiri dari Mangkoe Negoro V,” sampainya.
Untuk diketahui, Bupati Pasuruan yang menggantikan Kanjeng Pangeran ini, mengawali karir di pemerintahan sebagai Wakil Jaksa di Kediri.
Kemudian, menjadi Wedono (setingkat camat) di Kertosono, Kabupaten Nganjuk. Sebelum akhirnya menjadi Bupati Banyuwangi dan Pasuruan.
“Dengan penunjukan Ario Soegondo, maka berakhirlah trah keluarga Niti Adiningrat di Pasuruan. Mereka menjadi Bupati selama lebih dari 135 tahun. Mulai 1751-1887,” terang Budiman. (riz/one)
Editor : Jawanto Arifin