Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Sosok Mbah Bujuk Macan Laut Raden Mas Soetedjo, Keturunan Darah Biru yang Dikenal Sakti dan Punya Karomah

Inneke Agustin • Sabtu, 27 Juli 2024 | 20:45 WIB
SAKRAL: Pendiri Haul Akbar Bujuk Macan Laut, Muhammad Khoirul Anam sedang berdoa di makam Mbah Bujuk Macan Laut, Jalan Ikan Tengiri, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.
SAKRAL: Pendiri Haul Akbar Bujuk Macan Laut, Muhammad Khoirul Anam sedang berdoa di makam Mbah Bujuk Macan Laut, Jalan Ikan Tengiri, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

SEBUAH makam di Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, dianggap sakral oleh masyarakat sekitar.

Konon, sosok yang dimakamkan tersebut, merupakan orang yang memiliki karomah. Banyak yang datang bertawasul, agar hajatnya terkabul.

Makam tersebut, bernama Makam Mbah Bujuk Macan Laut. Lokasinya, berada di Jalan Ikan Tengiri, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Kata bujuk atau buju` berasal, dari Bahasa Madura yang berarti Mbah atau orang yang sangat tua. Atau dituakan dalam silsilah keluarga.

Selain itu, ada pula yang menyebutnya sebagai sebutan bagi para leluhur yang memiliki kesaktian.

“Kesaktian tersebut dikenal sebagai karomah atau keistimewaan yang diberikan Allah kepada hamba-Nya yang terpilih,” tutur Pendiri Haul Akbar Bujuk Macan Laut, Muhammad Khoirul Anam.

Sementara kata macan, menggambarkan karakter kepribadian seorang yang tegas. Seperti sosok Bujuk Macan Laut yang tangguh dan tidak pernah gentar.

Seperti macan yang dianggap sebagai simbol keberanian dan kekuatan.

Kata macan juga mengibaratkan seorang pendiam, tapi jangan sampai diganggu atau diusik.

Sehingga membuat terbangun. Sama seperti peribahasa, jangan membangunkan macan yang sedang tidur.

Artinya, jangan membuat marah orang yang sabar. Bisa jadi, orang tersebut membalas dengan yang lebih parah.

“Sementara kata laut, diambil karena berhubungan dengan pesisir Mayangan,” kata Khoirul yang merupakan warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan.

Khoirul mengisahkan, Bujuk Macan Laut merupakan sosok yang selalu mengamalkan ajaran Rasulullah secara kaffah.

Serta, memberikan teladan kepada masyarakat. Ia menjalani kehidupan batiniyah dan selalu menata hatinya, agar bersifat qona`ah.

“Beliau selalu menjaga hati dari sifat tercela seperti hasud, sombong, dengki, riya, dan sifat buruk lainnya,” sampainya.

Lelaki 36 tahun tersebut mengatakan, berdasarkan sumber yang ia dapat, Bujuk Macan Laut diperkirakan hidup pada tahun 1760 hingga 1880.

Nama aslinya, adalah Raden Mas Soetedjo. Bila dilihat dari silsilahnya, Bujuk Macan Laut ini, masih memiliki ikatan darah dengan kerajaan Surakarta.

Ia masih memiliki ikatan dengan Kyai Ageng Brondong atau Sunan Boto Putih.

Sehingga, bila diruntut namanya, menjadi Raden Soetedjo bin Raden Achmad bin Raden Djoyopayitno bin Raden Tumenggung Djoyodirono bin Raden Adipati bin Kyai Temanggung IV bin Raden Tumenggung Onggojoyo bin Ki Ageng Brondong.

“Namun, beliau memilih untuk keluar dari lingkaran kekuasaan darah biru. Ia berkelana untuk menyiarkan agama Islam hingga ke pesisir Mayangan ini,” imbuh Khoirul.

Khoirul menambahkan, Raden Mas Soetedjo atau Bujuk Macan Laut ini, sebenarnya juga masih memiliki hubungan dengan Bupati Perempuan Probolinggo yang dimakamkan di belakang Masjid Agung Raudlatul Jannah.

“Bahkan jauh sebelum masa Bupati Djojolelono,” urainya.

 

Karomah Mbah Bujuk Macan Laut

Bujuk Macan Laut dipercaya oleh masyarakat Mayangan memiliki sejumlah karomah atau keajaiban.

Dikisahkan pada masa perang melawan penjajah Belanda, Raden Mas Soetedjo ini tidak mempan ditembak oleh peluruh lawan.

“Tentunya ini juga atas izin Allah. Sehingga, membuat para penjajah merasa ketakutan seolah-olah penjajah tersebut melihat sosok macan pada diri Raden Mas Soetedjo,” tutur Khoirul.

Tak hanya itu, Bujuk Macan Laut juga pernah membantu sebuah kapal besar yang kandas.

Akibat adanya sosok ular besar di lautan. Raden Mas Soetedjo lantas turun ke laut dan berusaha melawan sosok tersebut.

“Nah, ketika beliau ini masuk ke dalam perairan, masyarakat yang melihat ini seolah melihat sosok macan putih yang sedang berkelahi dengan ular besar. Hingga atas izin Allah juga, pertarungan tersebut dimenangkan oleh Bujuk Macan Laut ini,” jelasnya.

Khoirul mengatakan, makam Mbah Bujuk Macan Laut masih sering dikunjungi oleh sejumlah petakziah.

Baik dari dalam kota maupun luar kota. Biasanya, mereka berdoa di sana. Membaca Yasin ataupun Tahlil.

Kadang ada juga, yang menepati nadzarnya. “Ada yang ingin berhasil ketika ujian dan ada juga yang ingin sembuh dari penyakitnya. Kadang mereka ini didatangi oleh sosok Bujuk Macan Laut ke mimpinya,” ceritanya.

Meski demikian, Khoirul menghimbau agar masyarakat tetap bersikap sopan dan tidak meminta hal-hal yang buruk ketika ziarah ke makam Mbah Bujuk Macan Laut.

Sebab dulu ada cerita. Pernah ada orang berdoa untuk mendapatkan nomor togel.

Akhirnya dia ditampakkan sosok macan yang menyeramkan. Hingga membuatnya lari terbirit-birit.

Khoirul mengatakan, tiap tahun di Kelurahan/Kecamatan Mayangan selalu diadakan Haul Akbar Bujuk Macan Laut.

Haul tersebut dilakukan sejak tahun 2008.

“Acaranya berdoa bersama, bersholawat, serta menceritakan sejarah Bujuk Macan Laut. Insya Allah tahun ini akan menggandeng pemerintah kota (pemkot) untuk ikut meramaikan kegiatan ini,” jelasnya. (gus/one)

Editor : Jawanto Arifin
#haul #makam #mayangan probolinggo #karomah #probolinggo #sakti