DESA Wates merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan. Penamaan Desa Wates, erat kaitannya dengan sosok Syekh Sayyid Yusuf bin Yusuf atau dikenal Mbah Song.
Karena ialah yang disebut-sebut mencetuskan nama Wates yang akhirnya menjadi nama pada desa setempat.
Wates sendiri beralah dari Bahasa Jawa. Artinya adalah batas atau pemisah.
Maknanya, masyarakat yang sudah baik, telah terpisah atau tidak terkontaminasi oleh perilaku warga yang tidak baik.
Sebelum berubah menjadi Desa Wates, dulunya wilayah setempat dinamai Pelala’an.
Nama Pelala’an disebut-sebut memiliki makna, tempat berkumpulnya orang-orang yang berasal dari berbagai daerah.
Konon, nama Pelala’an diambil, karena banyak orang dari berbagai daerah yang tinggal di sana, Mereka datang, dengan tujuan sama. Untuk membangun tempat pemukiman.
“Dahulu, sebelum menjadi Desa Wates, di sini disebut Pelala’an. Karena, ya mereka orang pendatang, lalu berkumpul,” kisah Sekretaris Desa Wates, Kecamatan Lekok, Muhaimin.
Muhaiman bercerita, sebelum menjadi tempat pemukiman, pada 1700-an silam, daerah setempat merupakan hutan balantara.
Mereka yang tinggal di dekat hutan, berinisiatif untuk membabat alas.
Mereka mengajak saudaranya, untuk membuka lahan hutan. Tak sekedar untuk bercocok tanam. Tapi lebih untuk menjadikan tempat tinggal.
Seiring berjalannya waktu, warga yang menetap, semakin banyak. Hingga dari situlah, orang menyebut daerah setempat sebagai Pelala’an yang artinya berkumpul.
Kehidupan warga yang tinggal di Pelala’an, terbilang berkecukupan. Selain tanahnya yang subur atau disebut gemah ripah lojenawi, juga lantaran berada di wilayah dekat pantai.
Secara geografis wilayah ini sangat strategis. Warga dapat melakukan transaksi perdagangan hasil bumi dan laut. Selain itu, akses menuju pulau lainnya mudah.
Dengan sederet kenikmatan itulah, banyak masyarakat yang kemudian lupa diri. Banyak dari mereka, yang akhirnya berbuat tidak baik.
“Banyak dari mereka, melakukan hal yang merugikan orang lain demi kesenangannya,” ujarnya.
Dalam kondisi seperti itu, datanglah seorang pengembara. Masyarakat menganggapnya, memiliki pengetahuan dan kemampuan lebih. Khususnya dalam hal spiritual.
Dia adalah Syekh Sayyid Yusuf bin Yusuf. Masyarakat menyebutnya Mbah Song.
Dia adalah seorang pengembara. Konon, ia merupakan ulama yang datang dari Kerajaan Mataram.
Selain mengembara, Mbah Song datang ke wilayah setempat, untuk menyiarkan agama Islam.
Namun, perjalanan menyiarkan Islam di Pelala’an tidak lah mudah. Karena ia banyak mendapat penentangan, hingga cemoohan.
Hal ini terjadi, lantaran mereka masih terlena dengan keberhasilan dalam kehidupannya. Meski mendapat tanggapan tak mengenakkan, Mbah Song tak lantas menyerah.
Dengan penuh kesabaran, ia terus menyiarkan Islam.
Dengan penuh kelembutan, keberadaan Mbah Song mulai mendapat simpati masyarakat.
Mbah Song yang disebut-sebut melakukan tirakat di dalam air selama tujuh tahun, membuat masyarakat mulai tersentuh dengan tekadnya. Mereka mulai mencari keberadaan pengembara tersebut.
Pada akhirnya, mereka yang rindu akan nasihat dan dakwahnya, mulai ingin menemuinya.
Mereka ingin selalu berada di sisi seorang pengembara, yang memiliki kelebihan spiritual tersebut.
Masyarakat yang mengetahui Mbah Song melakukan semedi dalam air selama tujuh tahun, mulai menganggapnya bukan sosok sembarangan. Mbah Song dianggap seorang wali.
Dari situlah, masyarakat mulai percaya dengan agama yang disyiarkan Mbah Song. Banyak dari mereka yang akhirnya memluk Islam dan berbuat kebaikan.
Mbah Song kemudian membuat batas yang dalam bahasa Jawa adalah Wates. Artinya, pemisah.
Maknanya masyarakat yang sudah baik, tidak terkontaminasi oleh perilaku warga yang tidak baik.
“Sejak itulah, masyarakat akhirnya bisa tentram. Dan nama Pelala’an akhirnya berubah menjadi Wates,” sebutnya.
Kejadian tersebut, diperkirakan berlangsung sebelum Pemerintahan Kepala Desa Wates, yang bernama Sinwari atau julukan lainnya Bandeng.
Dia memimpin desa setempat, sejak tahun 1766 hingga 1953.
Menurutnya, jejak peninggalan tempat Mbah Song tirakat masih ada. Yakni gua yang berlokasi di tepi laut Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok. Oleh warga, lokasi tersebut dikeramatkan.
“Jadi, tidak hanya tirakat di laut. Mbah Song, juga banyak menghabiskan waktunya untuk tirakat, di gua. Sekarang gua ini dikeramatkan,” ujar Jumaali, 65, warga Desa Wates, Kecamatan Lekok.
Gua yang Menjadi Tempat Tirakat Terpelihara
Kisah tentang Syekh Sayyid Yusuf bin Yusuf atau Mbah Song dikenang hingga sekarang.
Ia meninggalkan jejak positif di Desa Wates, Kecamatan Lekok dan sekitarnya.
Sampai-sampai, gua yang digunakan Mbah Song untuk tirakat, dirawat sampai sekarang.
Jumaali, 65, warga Wates, Kecamatan Lekok mengatakan, Mbah Song meninggalkan cerita yang bagus. Jejak keberadaannya, dikenang sampai sekarang.
Gua tempatnya tirakat dan makamnya, dirawat oleh warga.
Gua tersebut, memang ada sebelum Mbah Song tiba di Desa Wates. Bahkan, sejak Desa Wates masih hutan belantara.
“Gua tersebut sudah ada sejak lama. Bahkan, sebelum Mbah Song tiba di sini. Sekarang, gua tersebut dirawat baik oleh masyarakat,” sampainya.
Dulu Mbah Song merupakan orang yang menyiarkan agama Islam. Tak heran, begitu dia datang, banyak masyarakat yang menentang dakwahnya.
Untuk menghadapi tentangan itu, ia selalu berzdikir, Mbah Song memilih gua tersebut, untuk dijadikan tempatnya bertirakat.
Sekretaris Desa Wates, Kecamatan Lekok, Muhaimin mengatakan, apa yang ditinggalkan Mbah Song, dirawat betul oleh warga. “Yang bersihkan itu, biasanya ngalap berkah,” ujarnya.
Tak hanya punden tempat Mbah Song dimakamkan. Tetapi juga gua tempatnya tirakat. Dua tempat itu, senantiasa dibersihkan.
Bahkan pada pintu gua, warga menutupinya dengan kain berlafal Lailahaillallah Muhammadar Rasululah.
Jadi Jujukan Ngalap Berkah
Banyak warga yang datang untuk berziarah ke pesarean Mbah Song.
Meski lokasinya di ujung utara Pasuruan, mereka tak memperdulikannya. Demi ngalap berkah.
Jumaali, 65, warga Wates, Kecamatan Lekok mengatakan, lokasi pesarean dan gua Mbah Song, tepat berada di tepi laut. Pesareannya dibelakang masjid Baitul Makmur.
Meski lokasi jauh dari jalan raya, banyak warga yang mengunjungi makamnya untuk keberkahan.
“Tak hanya warga sekitar. Tapi banyak pula yang berasal dari luar kota, hingga luar jawa,” ungkapnya.
Semasa hidupnya, Mbah Song dikenal sebagai sosok yang dermawan. Begitu juga, saat ia meninggal. Konon setelah mendoakannya, masyarakat diberi keselamatan.
Konon selama hidupnya, Mbah Song tak sekedar berdakwah. Ia juga menyejahterakan masyarakat. Dari gelap menjadi terang atau dari buruk menjadi baik, hingga yang terbaik.
“Sampai sekarang Mbah Song berjasa. Karena bisa mengubah masyarakat Wates dulu menjadi baik,” ujar lelaki yang juga Takmir Masjid Baitul Makmur ini.
Dan yang umum diketahui masyarakat, Mbah Song tirakat di dalam air selama tujuh tahun.
Lokasinya tepat di depan gua Desa Jatirejo, Kecamatan Lekok.
Itu pun masih ada orang yang keperluannya bukan untuk ngalap berkah. Atau mendoakan Mbah Song.
Mereka yang berniat buruk, seperti minta pesugihan, bantuan judi dan lainnya, mereka akan terlempar ke laut.
“Dulu pernah ada kejadian seperti itu. Namun, sekarang sudah tidak ada,” sambung dia.
Selain itu, setiap tahun sekali masyarakat mendoakan secara bersama-sama. Mereka datang dari berbagai daerah. Masyarakat menggelar tumpengan. “Ini yang disebut Haul Mbah Song. Jadi, warga kompak mendoakannya untuk keberkahan,” bebernya. (zen/one)
Editor : Jawanto Arifin