Bridge sering dianggap sebagai salah satu permainan pikiran (mind sport) yang paling menantang dan sulit dikuasai bagi pemula. Tapi tidak bagi Giandra Abdillah. Di usia yang masih belia, pelajar di SMPN 8 Pasuruan ini sudah menjadi atlet andalan bagi Kota Pasuruan.
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
GINADRA Abdillah tumbuh dalam ketertartikan yang berbeda dengan teman sebayanya. Di saat teman lainnya memilih menekuni olahraga fisik seperti sepak bola, futsal atau renang, Giandra malah memilih olahraga otak. Ia menjadikan bridge sebagai olahraga yang ditekuninya.
Pilihan ini tidak terlepas dari campur tangan Novi, guru di SDN Purutrejo 2 empat tahun silam. Saat itu Giandra baru duduk di bangku kelas 4 SD. Giandra kecil diajak oleh Novi untuk menekuni olahraga bridge dan catur. Karena olahraga ini terasa asing, Giandra pun tertarik.
Ia berulang kali melihat latihan dari atlet yang lebih senior. Namun pilihan hatinya akhirnya jatuh pada cabor bridge. Giandra kemudian dilatih Warso, pelatih bridge asal Kabupaten Pasuruan. Sebab Kota Pasuruan belum memiliki pelatih bridge.
"Setelah sempat ikut dan memperhatikan pola permainan bridge ataupun catur, saya lebih tertarik pada bridge. Karena lebih menantang," kata Giandra.
Siswi kelas 8 C ini menuturkan, bridge adalah cabor yang mengandalkan otak dan kartu untuk bermain. Olahraga ini dimainkan oleh empat orang dalam dua pasangan (berpasangan dua lawan dua) menggunakan satu set kartu remi standar sebanyak 52 kartu.
Permainan ini mengandalkan strategi, komunikasi antar pasangan, daya ingat serta kemampuan analitis. Seorang pemula bisa mempelajari mini bridge terlebih dahulu sebelum melangkah ke permainan bridge.
Perbedaaannya, mini bridge itu tanpa tahap penawaran, kontrak ditentukan langsung berdasar jumlah poin kartu yang dipegang pemain. Sementara dalam bridge itu, pemain harus melakukan proses penawaran yang kompleks untuk menentukan kontrak dan target trik.
Ia sempat mempelajari mini bridge dan berhasil menguasai dalam waktu dua tahun. Sementara bridge butuh setahun untuk menjadi mahir. Bridge butuh waktu yang lebih singkat karena ia sudah punya dasar melalui mini bridge.
"Permainan bridge ini ada mini bridge dan bidge. Mini bridge ini versi sederhananya. Kalau pemula lebih baik belajar mini bridge dahulu agar lebih mudah," jelas Giandra.
Remaja yang tinggal di perumahan Tiara Candi 1, Kota Pasuruan ini mengatakan, permainan bridge berlangsung sekitar 15 ronde selama dua jam. Dalam bridge, kartu As dihitung empat poin, King itu punya tiga poin, Queen punya nilai dua poin, dan Jack mendapat satu poin. Mereka yang bisa meraih poin paling besar yang menjadi pemenangnya.
Selama empat tahun terjun di cabor bridge, Giandra mengaku baru meraih dua kali juara. Pertama pada 2022 lalu saat ia duduk di bangku kelas 4 SD. Ia menjadi juara tiga di kejuaraan tingkat kota. Serta tahun 2026, dimana ia menjadi juara pertama di Kejurda di Surabaya.
Kejuaraan terakhir menjadi lebih berkesan bagi Giandra. Sebab setelah menjadi juara di kejuaraan antarkota pada 2022 silam, dia selalu kalah dalam turnamen bridge yang diikutinya. Sehingga juara di kejurda itu menjadi turnamen pertama setelah empat tahun.
Katanya, ia berpasangan drngan Ahmad Aris Saputra. Mereka biasanya berlatih bersama setiap hari Minggu di SDN Purutrejo 2. Diakuinya, rasa gugup dalam turnamen sering terjadi. Apalagi permainan ini mengedepankan trik dan daya ingat.
"Apalagi kalau lawannya itu kuat. Tentu kadang rasa gugup karena takut kalah itu ada. Tapi kami selalu mencoba berupaya percaya diri," jelas Giandra.
Setiap menghadapi turnamen, ia mengaku ritual yang dilakukannya itu selalu sama. Ia selalu meminta doa ke guru dan orang tua demi kelancaran. Ia sadar prestasi yang diraihnya masih jauh dari kata hebat. Karena itu ia ingin terus giat berlatih agar bisa meraih prestasi yang lebih hebat ke depannya.
"Saya membidik kejurprov dan ingin bisa tembus nasional. Saat ini saya masih mengumpulkan poin untuk bisa main di kejurprov," jelas lulusan SDN Purutrejo 2 ini.
Kepala SMPN 8 Pasuruan, Arif Syaifurrahman menyebut Giandra Abdillah adalah siswa yang berbakat. Selain menjadi atlet andalan Kota Pasuruan di cabor bridge, Giandra juga aktif dalam kesenian pantomim. Giandra sempat menjadi yang terbaik di tingkat kota untuk kesenian pantomim tahun ini.
"Kami sangat mendukung minat dan bakat siswa apalagi jika itu positif. Tentu mereka tidak boleh melupakan tugas utama sebagai pelajar," jelas Arif. (fun)
Editor : Abdul Wahid