Bina Juang Amputasi Pasuruan FC, Satu-satunya Tim Bola Penyandang Disabilitas Amputasi di Pasuruan

Rizal Syatori • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 19:24 WIB

TETAP SEMANGAT: Para pemain Bina Juang Amputasi Pasuruan FC, foto bareng bersama pelatih dan pembina usai latihan. (Istimewa)

TETAP SEMANGAT: Para pemain Bina Juang Amputasi Pasuruan FC, foto bareng bersama pelatih dan pembina usai latihan. (Istimewa)

Bagi Akhmad Khoirobi, 23, sepak bola bukan sekadar permainan. Di atas lapangan, kruk yang menjadi penopang tubuhnya justru membawanya menemukan kembali kepercayaan diri yang sempat hilang.

RIZAL FAHMI SYATORI, Winongan, Radar Bromo

Pria asal Desa Plososari, Kecamatan Grati, Kabupaten Pasuruan itu menjadi kiper Bina Juang Amputasi Pasuruan FC. Tangan kanannya diamputasi akibat kecelakaan kerja.

Sebelum bergabung dengan tim tersebut, ia sempat minder dan kurang percaya diri. Namun, perasaan itu perlahan berubah setelah bergabung dan berlatih bersama para penyandang disabilitas amputasi lainnya.

“Setelah gabung dan latihan bareng, akhirnya malah betah, tambah teman sesama amputasi, tambah percaya diri dan tidak minder lagi. Apalagi sepakbola memang hobi saya,” terang Robi, panggilannya.

Para pemain Bina Juang Amputasi Pasuruan FC saat berlatih.
Para pemain Bina Juang Amputasi Pasuruan FC saat berlatih.

 

Dari yang awalnya canggung dan kesulitan, Robi mulai terbiasa. Latihan demi latihan membuatnya semakin nyaman. Bahkan, ia merasa menemukan keluarga baru.

“Pokoknya saya tambah semangat. Tim ini serasa sudah menjadi keluarga baru bagi saya dan teman lainnya,” ucapnya.

Pengalaman serupa dirasakan M. Ali Sodikin, 30, warga Desa Plinggisan, Kecamatan Kraton. Kaki kanannya diamputasi setelah kecelakaan lalu lintas tunggal. Kini, ia bermain sebagai bek kiri.

Ali bergabung karena ajakan teman, sekaligus kemauan sendiri. Sama dengan Robi, sepak bola juga menjadi hobinya.

Baginya, bergabung dengan Bina Juang Amputasi Pasuruan FC bukan hanya membuat hobi kembali tersalurkan. Ada manfaat lain yang dirasakan, terutama dalam menguatkan mental.

“Tim ini menguatkan mental kami dan teman-teman pemain lainnya. Di tim ini, kami saling support. Jatuh bangun sudah biasa, tetap asyik dan seru,” ucapnya penuh semangat.

Cerita Robi dan Ali menjadi gambaran bagaimana Bina Juang Amputasi Pasuruan FC hadir sebagai ruang bagi penyandang disabilitas untuk saling menguatkan. Sambil tetap bergerak dan berolahraga.

Para pemain Bina Juang Amputasi Pasuruan FC saat berlatih.
Para pemain Bina Juang Amputasi Pasuruan FC saat berlatih.

 

Tim yang menjadi satu-satunya tim sepak bola penyandang disabilitas amputasi di Kabupaten Pasuruan itu mulai dirintis pada 2025. Kemudian, tim resmi terbentuk pada Januari 2026 dan hingga kini terus aktif.

“Bina Juang Amputasi Pasuruan FC adalah tim sepak bola yang para pemainnya penyandang disabilitas amputasi, baik kaki dan tangan. Mulai dirintis 2025, kemudian terbentuk Januari 2026,” kata Febrian Eko Surdiyantoro, pendiri sekaligus pelatih tim.

Kini, belasan pemain bergabung. Usianya berkisar 22 hingga 34 tahun. Mereka berasal dari sejumlah wilayah di Kabupaten Pasuruan.

Seperti Lekok, Grati, Winongan, Gondangwetan, Kraton, Wonorejo, dan Beji. Ada pula pemain dari Kota Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo.

Sekitar 80 persen pemain mengalami amputasi akibat kecelakaan lalu lintas, maupun kecelakaan kerja. Sisanya mengalami kondisi bawaan sejak lahir atau sejak kecil. Seperti kaki kecil sebelah dan lainnya.

Latihan rutin digelar setiap Minggu pagi di Lapangan Desa Mendalan, Kecamatan Winongan, yang sekaligus menjadi home base. Ada pula tambahan latihan setiap Kamis sore.

Dalam latihan maupun pertandingan, pemain yang mengalami amputasi kaki menggunakan tongkat penyangga atau kruk berbahan aluminium tanpa penopang siku. Peralatan itu, termasuk bola, selama ini diperoleh secara swadaya.

“Baik tongkat penyangga dan bolanya, serta peralatan lainnya didapat dari swadaya selama ini,” terang Febri, panggilannya yang juga guru olahraga SMPN 1 Grati.

Permainan sepak bola amputasi menggunakan lapangan berstandar internasional dengan panjang 55–60 meter dan lebar 35–40 meter. Pertandingan dimainkan tujuh lawan tujuh selama 2x25 menit dengan jeda 10 menit.

Satu pemain bertugas sebagai kiper yang mengalami amputasi atau keterbatasan pada lengan. Enam pemain lainnya merupakan pemain lapangan dengan amputasi atau keterbatasan pada kaki. Mereka mengisi posisi bertahan, gelandang, hingga penyerang dengan mengandalkan dua kruk.

“Kruk dihitung sebagai bagian dari tangan, sehingga menyentuh bola dengan kruk secara sengaja dinilai sebagai pelanggaran,” jelas Febri, yang juga pembina Perkumpulan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI) Kabupaten Pasuruan.

Pemain tidak diperbolehkan menggunakan kaki atau tangan palsu selama pertandingan. Tidak ada aturan offside, sementara lemparan ke dalam diganti dengan tendangan ke dalam. Kuota pergantian pemain juga tidak dibatasi.

Di luar lapangan, tim tidak hanya berlatih sepak bola. Ada kegiatan refleksi, penguatan karakter, dan mental. Semua itu menjadi bagian dari upaya membangun keberanian dan rasa percaya diri para pemain.

Bina Juang Amputasi Pasuruan FC kini berada di bawah naungan PSAI Kabupaten Pasuruan dan PSAI Jawa Timur. Dukungan tersebut membuat tim semakin aktif mengikuti berbagai kegiatan.

Salah satu target terdekat adalah Piala Gubernur Jatim yang rencananya digelar di Kota Malang pada akhir Oktober atau awal November. Selain tim dari Jawa Timur, turnamen itu juga akan diikuti tim dari daerah lain, termasuk Jawa Barat dan Jakarta.

“Meskipun kami tim baru dari Pasuruan, tidak menyurutkan niat kami untuk bertanding dengan penuh semangat,” kata bapak dua anak itu.

Bagi Bina Juang Amputasi Pasuruan FC, kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Di antara kruk, bola, latihan, dan pertandingan, mereka menemukan sesuatu yang tidak kalah penting. Yaitu keberanian untuk kembali bermimpi, persahabatan, serta keyakinan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bergerak.

Bagi para pemainnya, lapangan sepak bola menjadi tempat untuk membuktikan bahwa mereka tetap bisa bermain, berkarya, dan tumbuh bersama. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
amputasi pasuruan disabilitas piala gubernur jatim