
Di ruang tamu kantor Stasiun Geofisika Kelas I Pasuruan, seorang pria serius menatap layar laptop. Jemarinya sesekali bergerak, mengolah data yang mungkin bagi sebagian orang terlihat rumit dan membosankan. Itulah keseharian Rozikan, 52, analisis petir dan tsunami.
RIZAL FAHMI SYATORI, Pandaan, Radar Bromo
Rozikan merupakan ASN Fungsional Ahli Madya di Stasiun Geofisika Kelas I Pasuruan di Desa Plintahan, Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Warga asal Nganjuk yang kini menetap di Kelurahan Bendomunggal, Kecamatan Bangil, itu juga dipercaya sebagai koordinator tim.
Tiap hari, ia membaca aktivitas petir, sekaligus memodelkan ancaman tsunami. Pekerjaan yang dilakoninya sejak 1997 itu bukan sekadar rutinitas kantor. Ada informasi dan upaya mitigasi bencana yang harus disampaikan kepada masyarakat.
"Tiap hari saya ngantor, dari pagi sampai sore. Kadang juga dinas luar. Di kantor, aktivitas keseharian saya menganalisis petir dan tsunami. Juga didapuk menjadi koordinator tim," kata Rozikan, ditemui Jawa Pos Radar Bromo, Kamis (3/9).
Latar belakang pendidikannya cukup mendukung pekerjaannya. Alumni S-1 Yadika Bangil jurusan informatika itu menempuh S-2 Universitas Negeri Jember (UNEJ) jurusan magister fisika.
Setiap hari, salah satu tugasnya adalah menganalisis data sambaran petir dari perangkat monitoring lightning detector. Data itu kemudian dikonversi ke bentuk Excel dan difilter berdasarkan wilayah.
Selanjutnya, data diolah menjadi peta kerapatan sambaran petir dan kekuatan arusnya. Informasi itu bukan sekadar angka di layar. Menurut Rozikan, hasil analisis dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.
"Penting untuk informasi, juga berguna buat tata kota dan penangkal petir. Termasuk permintaan klaim asuransi," bebernya.
Ia juga menganalisis tren waktu aktivitas petir. Dari sana dapat diketahui kapan petir lebih aktif, termasuk jam dan musimnya. "Biasanya sore hari dan musim hujan puncaknya," kata Rozikan.
Hasil analisis sambaran petir tersebut juga dapat diakses melalui media sosial Stasiun Geofisika Kelas I Pasuruan. Ia menjelaskan, aktivitas petir biasanya meningkat ketika memasuki musim pancaroba dan hujan.
Selain petir, perhatian Rozikan juga tertuju pada tsunami. Ia melakukan pengamatan gempa sekaligus analisis tsunami yang salah satunya dipicu gempa bumi tektonik di zona megathrust atau tumbukan lempeng.
"Gempa bumi tidak bisa diprediksi, tapi tsunami bisa. Fokus kami yaitu menganalisis tsunami akibat gempa bumi tektonik," tuturnya.
Tsunami juga dapat terjadi akibat gunung meletus bawah laut, longsoran di bawah laut, maupun meteor yang jatuh ke laut. Mengakibatkan tsunami atau gelombang laut besar dari tengah laut ke tepi atau pantai.
Di Jawa Timur, khususnya di kawasan Pantai Selatan, tsunami yang dipicu gempa kuat di zona tumbukan lempeng dapat mencapai pantai sekitar 20 menit setelah gempa. Karena itu, analisis dan pemodelan menjadi bagian penting dari pekerjaannya.
Untuk menganalisis tsunami, Rozikan menggunakan software pemodelan. Ia juga turun langsung memberikan sosialisasi mengenai bahaya gempa bumi dan tsunami ke sekolah-sekolah.
Sebab, hingga kini gempa bumi belum dapat diprediksi kapan akan terjadi. Mitigasi menjadi salah satu cara untuk mengurangi risikonya, minimalisasi dampak dan korban jiwa.
Pekerjaan Rozikan tak selalu dilakukan di balik layar laptop. Sesekali ia turun ke lapangan untuk memperbaiki peralatan, memberikan sosialisasi kepada masyarakat dan sekolah, hingga survei jalur serta arah evakuasi tsunami.
"Untuk survei tsunami, menentukan jalan dan arah evakuasi sebelum kejadian. Kemudian untuk gempa bumi, berupa mikrozonasi setelah kejadian seperti di Malang, Lumajang, dan lain-lain," katanya.
Bagi Rozikan, kesibukan itu tidak membuat pekerjaannya terasa monoton. Justru, ada kepuasan ketika data yang ia olah dapat berubah menjadi informasi yang berguna bagi masyarakat.
"Malah menarik. Ke depan memberikan manfaat atau berguna. Berupa informatif dan mitigasi, merupakan tantangan tersendiri selain sudah menjadi pekerjaan selama ini," ungkapnya.
Rutinitasnya sederhana, tetapi membutuhkan ketelitian: membaca data, membuat pemodelan, kemudian menghasilkan peta. Dari pekerjaan itulah tumbuh rasa tanggung jawab, kemampuan berkomunikasi, sekaligus semangat untuk terus belajar.
Sebab, bagi Rozikan, ilmu tentang alam terus berkembang. Ia pun harus ikut berkembang dan mengikuti perubahan zaman. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi