Program Dosen Pulang Kampung 2026 IPB tak sekadar membawa akademisi kembali ke daerah asal. Di Kabupaten Probolinggo, program itu menjadi pintu masuk untuk membicarakan masa depan pertanian: tanah yang mulai lelah, ketergantungan pada input sintetis, regenerasi petani, hingga pesantren yang didorong menjadi lumbung pangan baru.
AGUS FAIZ MUSLEH, Kraksaan, Radar Bromo
Ada yang pulang membawa oleh-oleh. Ada pula yang pulang membawa pekerjaan rumah. Bagi Prof. Dr. Ir. Abdul Munif, M.Sc. Agr., Pulang ke Kabupaten Probolinggo bersama rombongan guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) bukan sekadar agenda akademik. Program Dosen Pulang Kampung 2026 menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat wajah pertanian di daerah.
Rombongan guru besar ini dipimpin Prof. Abdul Munif bersama Prof. Dr. Ir. Hari Wijayanto, M.Si., Prof. Dr. Ir. Elis Nina Herliyana, dan Dr. Ir. Yudiwanti Wahyu EK, yang merupakan dosen IPB asli warga Kabupaten Probolinggo.
Di satu sisi, Probolinggo tetap dikenal sebagai daerah agraris dengan komoditas andalan seperti tembakau dan bawang merah. Di sisi lain, para petani menghadapi persoalan yang tak selalu terlihat dari hamparan sawah yang menghijau.
Produktivitas mulai dikeluhkan menurun. Kualitas tanah tergerus. Penggunaan pestisida dan pupuk sintetis masih tinggi. Sementara itu, anak-anak muda yang diharapkan meneruskan profesi orang tua justru semakin banyak yang memilih jalan lain.
“Keluhan petani, produksi pertanian beberapa terus menurun, kemudian juga lahan pertanian sudah mulai menurun kualitasnya. Kemudian minat anak-anak muda untuk ke pertanian juga sudah mulai menurun,” kata Abdul Munif.
Persoalannya, menurut dia, bukan semata-mata bagaimana membuat tanaman menghasilkan lebih banyak. Yang tak kalah penting adalah memastikan tanah tempat tanaman tumbuh tetap sehat.
“Tanah-tanah itu makin mengeras, kemudian kadar airnya makin menurun. Mikroba yang menguntungkan tidak berkembang. Karena toksik kan susah,” ujarnya.
Di titik inilah Munif melihat perlunya perubahan cara pandang. Ketika produksi turun, menambah pupuk atau pestisida belum tentu menjadi jawaban. Bisa jadi, persoalan justru berada lebih dalam: pada kesehatan tanah. “Kenapa petani terus menggunakan pestisida? Karena tanahnya mungkin kurus, terus ditambahi lagi. Padahal itu kan bukan mengatasi,” katanya.
Lahan pertanian tidak mungkin terus diperluas. Karena itu lahan yang sudah ada harus dipertahankan produktivitasnya. “Kita nggak mungkin lagi memperluas, yang ada ini harus kita sehatkan. Supaya ini, karena memperluas di mana lagi? Sudah nggak ada lagi lahan,” tegas Munif.
Gagasan itulah yang kemudian mengarah pada regeneratif agriculture atau pertanian regeneratif. Bukan sekadar mengejar panen, tetapi juga mengembalikan kesehatan tanah sehingga lahan tetap mampu menopang produksi dalam jangka panjang.
Isu residu pestisida juga menjadi perhatian. Munif mengingatkan, dampak paparan bahan kimia tidak selalu muncul seketika. “Efek seperti itu biasanya efeknya akumulasi, panjang,” ujarnya.
Karena itu, perubahan pola bertani tidak cukup dilakukan lewat ceramah atau imbauan. Petani perlu melihat sendiri hasilnya. “Petani kan nggak percaya kalau kita coba. Nah, karena itu perlu ada pendampingan,” katanya.
Di sinilah program dosen pulang kampung menemukan relevansinya. Program tersebut disiapkan bukan berhenti pada pertemuan satu atau dua hari. Tahap berikutnya diarahkan pada pelatihan dan pembuatan demplot atau lahan percontohan. IPB juga membawa sejumlah alternatif teknologi, mulai benih padi unggul, biopestisida hingga biofertilizer untuk diuji bersama petani.
“Kami membawa juga beberapa temuan, termasuk benih padi unggul, biopestisida, biofertilizer. Ya, kita akan coba itu,” tutur Munif.
Dengan pola itu, petani tidak hanya mendengar teori. Mereka bisa membandingkan sendiri hasil budidaya dan melihat apakah teknologi yang ditawarkan benar-benar memberikan manfaat.
Menariknya, pertanian dalam program dosen pulang kampung kali ini tidak hanya dibicarakan di antara akademisi dan petani. IPB membawa satu gagasan yang lebih jauh: pesantren mandiri pangan. Pada Kamis (13/8), rombongan guru besar IPB mengunjungi Pondok Pesantren Darut Tauhid, Desa Patemon, Krejengan. Kunjungan itu mengusung tema model pesantren mandiri pangan melalui pembelajaran pertanian berbasis alam di Kabupaten Probolinggo.
Di lingkungan pesantren, kegiatan diawali dengan penanaman bibit pohon produktif. Peserta juga diperkenalkan pada pupuk organik dan biopestisida hasil pengembangan IPB.
Bagi pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid KH. M. Syakur Dewa, kehadiran akademisi pertanian itu membuka cakrawala baru bagi santri. “Alhamdulillah kami kedatangan tamu dari IPB dalam rangka memberikan wawasan kepada para santri, alumni dan seluruh masyarakat di Kabupaten Probolinggo tentang pertanian yang baik,” katanya.
Pesantren, menurut dia, tak cukup hanya menjadi tempat menempa ilmu agama. Santri juga perlu memiliki keterampilan yang relevan dengan kehidupan. “Ke depan santri ini ilmunya tidak hanya dalam pendidikan agama saja, tetapi juga bisa berkembang di bidang pertanian,” jelasnya.
Bahkan lahan yang terbatas tidak harus menjadi penghalang. Dengan teknologi dan pendampingan yang tepat, pekarangan pesantren pun dapat diubah menjadi ruang belajar sekaligus ruang produksi. “Harapan ke depan kami ingin pertanian ini bisa berkembang dengan baik, terutama di Kabupaten Probolinggo yang dipelopori oleh para santri-santri,” tegas Gus Dewa.
Bagi Munif, pilihan pesantren bukan tanpa alasan. Pesantren memiliki modal sosial yang kuat. Berada dekat dengan masyarakat pedesaan, memiliki generasi muda dalam jumlah besar, dan mempunyai ruang pendidikan yang memungkinkan pertanian dikenalkan bukan hanya sebagai teori, melainkan praktik sehari-hari.
“Lingkungan pesantren mempunyai kedekatan dengan masyarakat pedesaan dan aktivitas pertanian sehingga memiliki modal sosial untuk mengembangkan gerakan tersebut,” ungkapnya.
IPB ingin pertanian diperkenalkan kepada santri sebagai sesuatu yang lebih modern dari sekadar pekerjaan tradisional. “Melalui pendidikan pertanian, santri diharapkan memahami bahwa sektor pertanian bukan sekadar pekerjaan tradisional, melainkan bidang yang dapat dikembangkan menjadi profesi dan kegiatan ekonomi yang menjanjikan,” jelas Munif.
Dari pupuk organik hingga regenerasi petani yang dibawa IPB juga bukan semata teori. Pupuk organik dan biopestisida menjadi salah satu alternatif yang diperkenalkan. Bahan bakunya relatif tersedia di sekitar masyarakat sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan secara mandiri.
“Para petani dan anak-anak generasi muda, termasuk para santri, juga tertarik untuk memproduksinya,” terang Munif.
Jika dikembangkan secara tepat, kegiatan itu bahkan bisa bergerak dari sekadar kebutuhan pertanian menjadi kegiatan ekonomi. Di sinilah benang merah program Dosen Pulang Kampung menjadi semakin jelas.
Persoalan pertanian Probolinggo tidak berdiri sendiri. Tanah, input pertanian, produktivitas, lingkungan dan regenerasi petani merupakan satu rangkaian.
Tanah yang tidak sehat dapat memengaruhi produktivitas. Produktivitas yang turun bisa mendorong petani menambah input. Sementara generasi muda yang tidak tertarik masuk sektor pertanian membuat persoalan semakin panjang.
Maka yang dibutuhkan bukan hanya teknologi baru, tetapi juga cara berpikir baru. Pemerintah Ingin Kolaborasi Tak Berhenti di Kunjungan.
Pemkab Probolinggo menangkap peluang tersebut. Bupati Probolinggo dr. Mohammad Haris menyebut daerahnya memiliki basis pertanian yang kuat. Tembakau dan bawang merah menjadi contoh komoditas yang selama ini menopang sektor pertanian.
“Kami punya harapan besar hal-hal begini karena IPB memang spesifikasinya di pertanian. Sedangkan daerah kita ini daerah agraris. Hasil kita bagus, tanah kita subur, kita ada tembakau yang cukup besar produksinya, bawang merah dan banyak hal lain,” kata Haris.
Namun potensi tersebut perlu diperkuat pengetahuan dan inovasi. Haris berharap keberadaan akademisi tidak berhenti pada transfer pengetahuan sesaat. Pemerintah daerah membutuhkan pendampingan agar inovasi benar-benar dapat diterapkan.
“Harapannya ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini. Kita ingin ada pendampingan dan kolaborasi yang berkelanjutan, sehingga ilmu dan teknologi yang dimiliki IPB bisa benar-benar diterapkan di Kabupaten Probolinggo,” tegasnya.
Pemkab Probolinggo juga melihat pesantren sebagai salah satu ruang strategis untuk pemberdayaan masyarakat.
Pesantren memiliki generasi muda, memiliki jejaring sosial, dan pada sebagian tempat mempunyai lahan yang bisa dikembangkan. Jika dikelola dengan baik, pesantren bukan hanya menjadi tempat pendidikan, tetapi juga dapat menjadi pusat pembelajaran pertanian dan kemandirian pangan.
Asisten Pemerintahan dan Kesra Sekda Kabupaten Probolinggo Abd. Ghafur mengatakan kolaborasi tersebut akan diarahkan menjadi kerja sama yang lebih formal.
“Dosen pulang kampung dari IPB ini merupakan bentuk kolaborasi antara pemerintah, akademisi, perguruan tinggi, masyarakat dan dunia usaha,” ujarnya.
“Kegiatan ini akan kami tingkatkan menjadi kerja sama dan PKS. Harapannya, kapasitas masyarakat di lingkungan pesantren, khususnya dalam bidang pertanian semakin meningkat,” sambungnya.
Tak hanya sawah. Ada buku yang harus fibuka. Menariknya, langkah dosen pulang kampung tidak berhenti di lahan pertanian dan pesantren. Pada Jumat (14/8), rombongan Guru Besar IPB mengunjungi Yayasan Islahul Ummah di Kraksaan. Dari sana, perhatian bergeser kepada generasi yang kelak akan menentukan masa depan daerah.
Rombongan mengunjungi sejumlah unit pendidikan, mulai TPAIT, KBIT, TKIT, SDIT hingga SMPIT Permata. Di hadapan siswa SMPIT Permata, Munif mengingatkan pentingnya membaca. “Anak-anak harus rajin membaca. Membaca itu merupakan jendela dunia. Dengan membaca, kita bisa mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan sehingga bisa lebih maju ke depan,” ungkapnya.
Pesannya sederhana tetapi relevan dengan misi besar dosen pulang kampung.
Sebab membangun pertanian tidak hanya membutuhkan tangan yang mau turun ke sawah. Ia juga membutuhkan kepala yang mau belajar, membaca dan menerima pengetahuan baru.
Ketua Yayasan Islahul Ummah H. Yasin mengatakan kehadiran akademisi IPB menjadi pengalaman berharga bagi siswa. “Anak-anak tadi juga banyak yang bertanya, salah satunya bagaimana triknya supaya bisa rajin membaca. Ini menunjukkan mereka memiliki keinginan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan,” ujarnya.
Dari sawah ke pesantren. Dari pupuk organik ke ruang kelas. Dari persoalan tanah menuju persoalan regenerasi. Semua itu bertemu dalam satu kata: masa depan. Pulang Kampung, bukan sekadar pulang.
Jumat (14/8), rombongan Guru Besar IPB juga diterima Bupati Probolinggo dalam audiensi untuk membahas pengembangan program pesantren mandiri pangan.
Dalam kesempatan itu, IPB menyerahkan sertifikat apresiasi kepada Pemkab Probolinggo sebagai mitra Program Dosen Pulang Kampung 2026.
Namun sertifikat hanyalah simbol. Pekerjaan sesungguhnya justru berada setelah rombongan pulang. Demplot harus dibuat. Petani harus didampingi. Teknologi harus diuji. Santri perlu terus dikenalkan dengan pertanian. Pesantren perlu diberi ruang untuk mencoba. Dan yang paling penting, tanah harus kembali diperlakukan sebagai aset yang harus dirawat, bukan sekadar media produksi.
Munif menyebut pekerjaan tersebut memang bukan pekerjaan pendek. “Intinya bahwa ini harus disadari bahwa pertanian ini adalah ujung tombak kita, tapi pertanian kita terus landai ini produktivitasnya karena penanganan lahan masih menggunakan pestisida sintetis yang terlalu tinggi. Ini memang pekerjaan panjang, tapi harus disadari,” ujarnya.
Kalimat itu barangkali menjadi inti dari seluruh rangkaian dosen pulang kampung di Kabupaten Probolinggo. Sebab pulang kampung kali ini bukan sekadar kembali melihat tanah kelahiran. Lebih dari itu, membawa pulang pengetahuan untuk tanah yang mulai lelah.
Jika sawah tetap subur, generasi muda mau kembali bertani, dan pesantren mampu menjadi ruang belajar sekaligus produksi pangan, maka Probolinggo tidak hanya memiliki cerita tentang pertanian masa lalu.
Ia punya alasan untuk percaya pada pertanian masa depan. Dan mungkin, masa depan itu sedang dimulai dari sebuah program sederhana: dosen yang memilih pulang kampung, lalu mengajak masyarakat kembali melihat tanah dengan cara yang berbeda. (mu/fun)
Editor : Abdul Wahid