Cerita Petugas JPL Masangan Bangil Bertaruh Nyawa Selamatkan Warga yang Nyaris Tertabrak KA

Muhamad Busthomi • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 08:45 WIB
PANTANG LENGAH: Shofi dan jajaran petugas JPL Masangan Bangil saat bertugas.
PANTANG LENGAH: Shofi dan jajaran petugas JPL Masangan Bangil saat bertugas.

PT KAI terus mengintensifkan penutupan perlintasan liar tanpa palang pintu untuk menekan kecelakaan di jalur kereta. Namun di balik upaya itu, keberadaan petugas JPL tetap tak kalah penting. Mereka bukan hanya penjaga palang pintu. Namun menjadi garda terdepan yang memastikan keselamatan pengguna jalan. Bahkan ketika harus mempertaruhkan nyawa sendiri.

MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo

MALAM itu, M. Shofi Bahtiar, 24, sedang berjaga di pos perlintasan JPL 105, Desa Masangan, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan. Prosedurnya berjalan seperti biasa.

Kereta Api Sangkuriang datang dari arah timur. Suara derunya terdengar dari kejauhan. Makin lama makin keras.

Shofi pun menutup palang. Pintu perlintasan diamankan. Ia bersiap memberi salam kepada masinis. Namun tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.

Tepat di tengah rel JPL 105, seorang pria berdiri. Shofi pun memperingatkan pria yang kemudian diketahui bernama Dasuki itu.

”Saya bilangin, Pak ada kereta mau lewat. Tapi orangnya malah menjawab nggak,” tuturnya.

Baca Juga: Puluhan Titik JPL di Kabupaten Pasuruan Belum Aman Bagi Pengendara

Tuuuuut. Kereta semakin dekat. Lampu depannya membesar. Dasuki justru menghadap ke arah datangnya kereta.

Sarungnya berkibar. Dadanya telanjang. Tangannya terangkat, seperti hendak menyetop rangkaian besi seberat ratusan ton yang melaju kencang.

Shofi tidak punya waktu berpikir panjang. Ia langsung melompat dari pos kecilnya dan berlari ke arah rel. Berusaha menyelamatkan Dasuki.

”Sambil menoleh menghadap kereta, tangannya seolah mau nantang kereta. Ya saya refleks, spontan dari pos loncat dan lari,” katanya.

Satu tarikan kuat dari Shofi dan Dasuki terseret keluar dari lintasan. Tapi belum selesai. Pria itu kembali bergerak ke arah rel. Shofi kembali mengejar. Kembali menarik, lebih kuat.

Kali ini sampai membuat Dasuki terbentur pohon. Shofi sendiri nyaris sempoyongan. Karena tumpukan kerikil di dekat rel memang membuat kaki sulit berjalan. Apalagi dalam situasi malam itu.

Dan wuuuush. Kereta melintas. Anginnya menerpa wajah Shofi dari jarak yang sangat dekat. Beberapa detik saja. Itu saja yang membedakan antara selamat dan tidak.

”Alhamdulillah selamat, nggak ada korban,” ujarnya. Dasuki selamat. Shofi juga selamat. Kereta lewat. Udara berdesir kencang.

Jarak kereta dari tempat Shofi melompat diperkirakan sekitar 500 meter. Bagi rangkaian yang melaju, jarak itu menyusut dalam hitungan detik.

Shofi memang hanya punya dua pilihan. Menunggu dan mempertaruhkan nyawa orang di atas rel. Atau melompat dan mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Ia memilih yang kedua. Ketika ditanya apakah takut, jawabannya sederhana. ”Ya namanya pekerjaannya mengamankan. Harus tanggung jawab,” katanya.

Peristiwa Minggu malam, 26 Juli 2026 itu terekam kamera CCTV dan kemudian beredar luas. Tapi bagi Shofi, malam itu hanyalah satu malam kerja seperti biasa yang tiba-tiba berubah menjadi sesuatu yang lain.

Ia warga Desa Masangan, tidak jauh dari tempatnya berdinas. Sebelum jadi petugas JPL, ia sudah lebih dulu jadi relawan di perlintasan yang sama.

Satu setengah tahun terakhir ia bekerja sebagai tenaga outsourcing di bawah koordinasi Dinas Perhubungan Kabupaten Pasuruan. Gajinya Rp 1,6 juta sebulan.

”Saya ikut Dishub, outsourcing sudah 1,5 tahun. Sebelumnya memang relawan di sini,” ujarnya.

Di Kabupaten Pasuruan, sekitar 120 petugas penjaga JPL bekerja sebagai tenaga outsourcing di bawah Dishub. Mereka berdiri setiap hari di antara jalan raya yang penuh kendaraan dan rel yang dilalui kereta seberat puluhan hingga ratusan ton.

Anggota DPRD Kabupaten Pasuruan Febri Irawan Darwis datang langsung menemui Shofi di JPL 105 setelah video tersebar. ”Kami apresiasi luar biasa sikap heroik Mas Shofi. Jarang ditemukan. Dia rela bertaruh nyawa,” kata Febri.

Tapi Febri tidak berhenti di pujian. Ia mendorong agar kesejahteraan para penjaga JPL ikut diperhatikan.

”Kami upayakan ada penambahan gaji. Saat ini ada 120 pegawai outsourcing penjaga JPL,” ujarnya.

Sebab risiko pekerjaan itu tidak pernah bisa dihitung dari nominal gaji. Shofi sendiri tak menganggap dirinya pahlawan. Ia hanya seorang penjaga perlintasan yang malam itu melakukan apa yang menurutnya harus dilakukan.

Setiap hari ia berdiri di pos kecil itu. Setiap hari ia memperhatikan siapa yang menyeberang, siapa yang menerobos, siapa yang terlalu lambat. Dan setiap hari, ia memastikan lintasan tetap aman.

Pekerjaan itu punya satu syarat yang tidak tertulis tapi mutlak. Jangan lengah, bahkan walaupun sedetik. Karena di perlintasan kereta, sedetik bisa memisahkan dua hal yang jaraknya sangat tipis. Selamat atau maut menjemput.

Tuuuuut. Kereta datang lagi. Shofi menutup palang. Klik. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
pasuruan Masangan kereta api JPL bangil