Ahmad Ifandi tidak pernah merencanakan jadi pembuat anak panah. Ia hanya kesal panahnya sering patah. Tapi dari rasa kesal itulah, sebuah usaha lahir. Dan kini pesanannya datang dari mancanegara.
MUHAMAD BUSTHOMI, Gondangwetan, Radar Bromo
Ahmad Ifandi mengaku tidak pernah jago bertanding. Sudah ikut turnamen panahan tradisional sejak 2019, tapi hasilnya ya begitu-begitu saja. Tapi kalau soal membuat anak panah, ceritanya berbeda.
"Memang dari awal kurang jago dalam pertandingan, tapi senang dengan panahan," tutur pria 41 tahun kelahiran Jember yang kini menetap di lingkungan Jajarkebon, Kelurahan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, itu.
Sebelum tinggal di Jajarkebon, sejak usia empat tahun ia tinggal di Bali. Sempat bergabung dengan Klub Perdana, salah satu komunitas panahan tradisional yang aktif di pulau dewata.
Dari Bali pula ia pertama kali merasakan masalah yang kemudian mengubah hidupnya. Anak panahnya sering patah. "Awalnya bikin arrow buat dipakai sendiri karena gampang patah," katanya.
Dari sana, teman-teman satu klubnya melihat arrow buatannya. Rupanya mereka tertarik dan mulai memesan. Satu, dua, kemudian terus bertambah. Ifandi tidak menyangka kebiasaan iseng itu akan berkembang jadi sesuatu yang lebih serius.
Baca Juga: Ketika Para Atlet Panah Adu Bidikan Gunakan Busur Pipa di Ajang Wilwaktika Archery Open Tournament
Tahun 2022, Ifandi pindah ke Gondangwetan setelah menikah. Di Jawa Timur, dia menjumpai panahan tradisional bukan olahraga pinggiran. Komunitas pemanah tersebar luas. Kompetisi bergulir rutin.
"Setelah pindah ke Pasuruan, sudah semakin mendalami riset anak panah karena Jawa Timur lumbungnya panahan," ujarnya.
Di sinilah Fanz Arrow benar-benar lahir. Bahan yang ia pilih kayu pinus, bukan bambu. Pilihan itu disengaja.
"Tidak memilih bambu karena menurut saya sudah banyak yang bikin, terlalu pasaran. Jadi coba pakai kayu. Kemudian bambu juga ada kelemahan, kalau dipakai lama-lama pasti melengkung," jelasnya.
Tapi memilih kayu bukan berarti mudah. Prosesnya yang membuat Fanz Arrow berbeda.
Kayu pinus yang ia pakai bukan sembarang kayu. Meski Ifandi membeli limbah, tapi kayu-kayu impor. Balok-balok kayu itu dikirim langsung ke Blitar untuk diolah menjadi bentuk silinder. Setelah tiba di workspace di rumahnya, ia memulai proses sortir.
Satu per satu batang kayu diperiksa. Kelurusannya dicek. Bobotnya ditimbang. Kelenturannya diukur.
Menurut Ifandi, setiap anak panah dalam satu set tidak boleh memiliki selisih berat lebih dari 0,5 gram. Tingkat kelenturan atau spine juga tidak boleh berbeda lebih dari 50 AMO Spine.
Presisi itu penting. Karena bagi pemanah, sedikit saja perbedaan berat dapat mengubah arah dan karakter lesat anak panah.
Yang menarik, Fanz Arrow tidak pernah diproduksi secara massal. Tidak ada stok yang menumpuk di rak. Semua dibuat berdasarkan pesanan.
"Saya harus tahu dulu busurnya berapa lbs, draw length-nya berapa inci, lalu digunakan untuk jarak berapa meter. Dari situ baru dihitung berat arrow, spine, titik keseimbangan, sampai berat poin yang paling cocok," jelasnya.
Dengan cara itu, setiap anak panah benar-benar dibuat sesuai karakter pemiliknya. Setelah lolos proses sortir dan uji standar, ujung anak panah dibentuk knock. Batangnya diamplas hingga halus, kemudian diberi vanes.
"Karena sudah disortir dan distandarisasi sejak awal, jadi tidak perlu dicoba satu-satu lagi," katanya.
Presisi itu membuat harga produknya tidak murah. Satu set berisi 12 anak panah dijual antara Rp 950 ribu hingga Rp 1,4 juta.
Fanz Arrow sudah dikirim ke seluruh Indonesia. Tapi sering juga pesanan datang dari Malaysia.
Ada juga pesanan khusus, baru saja ia kerjakan. Yakni, satu set arrow dengan knock dari tanduk kerbau. Harganya dipatok Rp 2,5 juta. Dan yang memesan dari Malaysia juga. Bahkan reseller-nya bisa mengekspor ke negara-negara Eropa.
Ketua Perkumpulan Panahan Tradisional (Perpatri) Kabupaten Pasuruan Khoiron Hadi tidak kaget dengan pencapaian Ifandi. Ia melihat munculnya pembuat anak panah lokal seperti Ifandi sebagai bagian penting dari ekosistem panahan tradisional di Kabupaten Pasuruan yang terus berkembang.
"Produk kita tidak kalah. Skill pemanah kita juga tidak kalah dengan pemanah dunia," kata Khoiron.
Bagi Khoiron, kualitas produk lokal sudah terbukti di lapangan. Bukan hanya di Pasuruan, tapi di panggung nasional dan internasional. Ketika atlet membawa produk buatan anak bangsa ke kompetisi dan pulang membawa medali, itu bukan kebetulan.
"Kami di Perpatri terus mendorong pengembangan panahan tradisional, termasuk mendukung para inovator produk lokal seperti ini," ujarnya.
Pembuktian di lapangan memang sudah ada. Anak panah buatan Ifandi pernah dibawa bertanding di Sentul, Madura, dan Lombok. Semuanya pulang membawa juara.
Bahkan ada beberapa anak panah yang dipinjam temannya terbang ke Turki dan Cina. Lalu pulang juga membawa medali juara.
Tapi Afandi sendiri? Ia masih sesekali ikut turnamen. Bukan untuk bersaing serius. Hanya ikut untuk temu kangen dengan teman-teman pegiat panahan. “Dan sekalian promosi arrow," katanya tertawa.
Meski sudah mendunia, risetnya tidak berhenti. Tahun ini, ia sedang membidik dua proyek baru. Pertama, gaplok, kombinasi bambu dan kayu.
Bambu hanya diambil kulitnya, bagian yang paling keras dan kuat, lalu digabung dengan kayu. Hasilnya diharapkan lebih rigid dari bambu biasa dan lebih ringan dari kayu penuh.
Kedua, ia sedang mencoba membuat anak panah dari kulit bambu yang bagian tengahnya dibiarkan berlubang. Mirip dengan Tonkin Arrow dari China, tapi versi lokal. Nilai ekonomisnya lebih tinggi dan kalau berhasil, bisa membuka segmen pasar baru.
"Sekarang ini sedang riset terus. Belum selesai, tapi sudah kelihatan arahnya. Target saya tahun depan sudah bisa mulai produksi," katanya. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi