
Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) mulai padam, Senin (10/8). Di balik padamnya kobaran api itu, ada orang-orang yang tidak kenal kata menyerah.
Mereka datang dari berbagai latar belakang, berdiri dalam satu barisan, bahkan ada yang tak pernah saling mengenal. Namun, mereka berdiri dengan satu tujuan: menghentikan kobaran sebelum semakin jauh melahap hutan dan sabana Bromo.
INNEKE AGUSTIN, Sukapura, Radar Bromo
SEJAK titik api pertama kali muncul di kawasan Bantengan, Kabupaten Lumajang, Senin (3/8), api yang membakar sabana di kawasan Bromo meluas. Hingga Senin (10/8), api berhasil padam sekitar 90 persen.
Namun, 742 hektare kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) terdampak. Mulai Kabupaten Lumajang, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Pasuruan.
Sabana yang semula membentang berubah menjadi hamparan hitam dan abu.
Di balik padamnya kobaran api itu, ada orang-orang yang tidak kenal kata menyerah. Bukannya menjauh, mereka memilih untuk tetap mendekat.
Baca Juga: Kebakaran Bromo Berangsur Padam, Petugas Fokus Pendinginan di Dua Titik Ini
Mereka bukan hanya petugas. Ada relawan, Manggala Agni, TRC BPBD, TNBTS, Damkar, Polri, TNI, masyarakat, hingga berbagai unsur yang datang dari sejumlah instansi.
Mereka meninggalkan rumah, keluarga, dan kenyamanan untuk berdiri di tengah panas, asap, serta medan terjal. Menghadang api dengan peralatan sederhana dan keberanian yang kadang harus lebih besar daripada rasa takut.
Kepala Resor Taman Laut Pasir TNBTS, Haryono menjadi salah satu yang merasakan langsung kerasnya medan tersebut. Pada awal kebakaran, pihaknya menyiagakan dua unit fire truck di kawasan Bantengan, titik awal api muncul.
Namun, kendaraan tidak selalu bisa menjangkau titik api yang berada jauh di atas bukit atau tebing. Maka, kaki menjadi satu-satunya kendaraan.
"Kami mendaki bukit secara manual agar api tak melompat ke sisi bukit, yakni arah Ranu Pani saat itu," katanya.
Peralatan yang digunakan pun jauh dari kata canggih. Gebyok, jet shooter, dan ranting pohon menjadi senjata untuk meredam kobaran.
Di kawasan lautan pasir, medan memang relatif datar. Namun, ketika api menjalar menuju tebing, tantangannya berubah.
Petugas harus meninggalkan kendaraan dan berjalan kaki sambil mengulur selang dari fire truck. Sebagian lainnya membawa gebyok untuk memukul dan memutus jalur rambatan api.
"Kami jalan kaki dan mengolor selang dari fire truck, sambil bawa gebyok juga. Kami naiki tebingnya agar api tak meluas," tutur Hary.
Tebing dengan kemiringan sekitar 70 - 80 derajat bukan medan yang mudah ditaklukkan. Untuk menjaga keseimbangan, petugas bahkan harus berpegangan pada rerumputan atau semak yang tumbuh di lereng.
Salah pijakan sedikit saja, tubuh bisa tergelincir ke bawah. Namun, bahaya dari medan belum seberapa dibandingkan ancaman api.
Angin yang tiba-tiba berubah arah membuat kobaran sulit diprediksi. Api yang semula berada di satu sisi, bisa dalam hitungan menit menjalar ke tempat lain. "Lahan yang semula kami jaga agar tak terbakar, akhirnya terbakar juga," katanya.
Ketinggian api yang mencapai lebih dari 3 meter pun tak membuat langkah mereka surut. Jarak petugas dengan kobaran terkadang hanya 3-10 meter. Di jarak sedekat itu, panas api terasa menampar kulit.
Asap menyesakkan dada. Angin membawa bara ke segala arah. Dalam kondisi tertentu, api bahkan berbalik mengejar mereka.
Hary masih mengingat satu momen ketika angin kencang tiba-tiba meniup kobaran ke arah petugas.
"Bahkan pernah ada angin kencang saat itu yang membuat api menjilat ke arah kami. Kami (Manggala Agni, Red) dikejar api. Termasuk Kepala Balai Besar TNBTS yang saat itu berupaya membantu," kenangnya.
Mereka nyaris terjebak. Satu-satunya pilihan adalah berlari menjauh, mencari jalur yang lebih aman sebelum kobaran menutup jalan.
"Kami hampir terbakar. Ya kami segera lari lagi karena api menjalarnya juga cepat karena tiupan angin," lanjutnya.
Perjuangan itu tidak berhenti ketika matahari tenggelam. Malam justru menghadirkan tantangan lain.
Gelap membuat kontur medan semakin sulit dilihat, ditambah suhu yang tembus 3 derajat. Namun, api tetap harus diawasi agar tidak menjalar ke kawasan lain. Headlamp menjadi penerang di tengah gelapnya sabana.
"Jadi siang kepanasan, malam kedinginan. Ini agar api tak merambat ke lokasi lain. Meski malam gelap, kami bela-belain bawa headlamp," katanya.
Para relawan dibagi dalam beberapa kelompok. Sebagian ditempatkan di jalur puncak, sebagian lainnya berjaga di lembah. Mereka bertugas memastikan api tidak merambat lebih jauh ataupun melompati bukit menuju kawasan lain.
Posko sementara didirikan di sekitar titik kebakaran. Di sanalah petugas beristirahat dan menyimpan logistik.
Namun, ketika malam tiba, posko di dekat titik api tak selalu aman untuk ditempati. Risiko kobaran yang kembali menyala terlalu besar. Karena itu, para petugas biasanya turun dan beristirahat di kawasan Cemoro Lawang, Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Di tengah asap dan debu, kesehatan juga menjadi perhatian. Masker dan buff tetap dikenakan. Sebagian bahkan membasahinya agar lebih mampu menyaring debu dan asap yang beterbangan.
Sebab, memadamkan api bukan sekadar bertahan dari panas. Ada paru-paru yang harus dijaga, tubuh yang harus tetap kuat, dan tenaga yang harus disimpan untuk menghadapi hari berikutnya.
Di lapangan, dukungan dari para pimpinan berbagai stakeholder menjadi penyemangat tersendiri. Bukan sekadar memberikan instruksi atau motivasi dari kejauhan, sebagian pimpinan bahkan ikut turun langsung ke lokasi.
Di antara panas dan kepungan asap, sesekali tawa pun pecah. Bukan karena situasi menjadi ringan. Melainkan karena mereka membutuhkan jeda dari ketegangan yang terus menekan.
"Kadang kami juga selingi pemadaman sambil bergurau untuk menghilangkan rasa penat dan stres di lokasi," ujar Hary.
Namun, di balik gurauan itu, ada kerinduan yang tak bisa disembunyikan. Selama berhari-hari berada di medan kebakaran, sebagian petugas harus jauh dari keluarga.
Bagi mereka yang rumahnya tak terlalu jauh, pulang masih menjadi kemungkinan. Tetapi bagi mereka yang berasal dari daerah lain, telepon menjadi satu-satunya jembatan untuk melepas rindu.
"Bagi yang rumahnya dekat, bisa pulang. Tapi yang jauh biasanya melepas rindu melalui telepon," katanya.
Mereka mungkin berada di tengah sabana yang terbakar. Namun, pikiran mereka sesekali tetap terbang pulang—kepada anak, pasangan, orang tua, atau keluarga yang menunggu kabar.
Perjuangan serupa dirasakan Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Probolinggo. Petugas TRC BPBD Kabupaten Probolinggo Saiful Lana mengatakan, tebalnya vegetasi kering dan kencangnya angin membuat api semakin sulit dikendalikan.
Ditambah medan lautan pasir yang menjadi tantangan tersendiri bagi kendaraan. Terutama saat kendaraan selip di lautan pasir.
“Untuk mengeluarkan itu butuh dibantu mobil lain. Tapi kalau tidak ada kendaraan lain, maka kami harus menggali pasir di sekitar roda mobil," katanya.
Dalam kondisi tertentu, petugas bahkan harus melewati lahan yang baru saja terbakar. Tanah memang telah kehilangan kobaran, tetapi panas masih tersimpan di bawah permukaan.
Angin yang berubah-ubah membuat arah api tak selalu bisa ditebak. Kadang petugas yang semula merasa berada di jalur aman justru harus mencari jalan keluar secepat mungkin.
"Kondisi angin yang tidak menentu membuat arah api juga tidak bisa diprediksi. Kadang kami terjebak, akhirnya melintasi lahan yang baru padam," ujarnya.
Panas yang ekstrem meninggalkan jejak pada peralatan dan perlengkapan yang mereka gunakan.
"Sampai sepatu kami meleleh. Gebyok juga kadang rusak dan harus menggunakan ranting akhirnya," lanjut Lana.
Sepatu yang meleleh, peralatan yang rusak, tubuh yang lelah, serta pakaian yang dipenuhi asap menjadi saksi bahwa medan yang mereka hadapi bukan perkara ringan. Namun, semua itu seakan menemukan maknanya ketika mereka melihat orang-orang dari berbagai latar belakang berdiri dalam satu barisan.
Mereka datang dari instansi berbeda. Sebagian bahkan tak pernah saling mengenal sebelumnya. Tetapi di hadapan api, sekat-sekat itu menghilang.
Yang tersisa hanya satu tujuan. Menghentikan kobaran sebelum semakin jauh melahap hutan dan sabana Bromo.
"Kami yang tadinya tidak kenal, dari berbeda instansi tapi bisa sangat kompak. Ini luar biasa," kata Lana.
Di sanalah api justru memperlihatkan sesuatu yang lain. Bahwa ketika alam sedang terluka, manusia masih bisa memilih untuk saling menggenggam.
Di antara tebing terjal, asap pekat, hawa dingin malam, dan kobaran api yang mencapai langit, para relawan berdiri menjadi pagar terakhir. Mereka tahu api bisa kembali menyala, angin dapat berubah sewaktu-waktu dan satu kesalahan kecil di medan itu bisa berujung petaka.
Tetapi mereka tetap datang. Tetap berjalan. Tetap memadamkan. Sebab bagi mereka, setiap api yang berhasil dijinakkan bukan sekadar kemenangan atas kobaran. Melainkan ikhtiar untuk menyelamatkan bentang alam Bromo, agar suatu hari nanti sabana yang kini menghitam dapat kembali menghijau. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi