Suara bambu dipukul perlahan memecah kesunyian di sebuah rumah sederhana di RT 1/RW 11 Dusun Pandean, Desa/Kecamatan Nguling, Kabupaten Pasuruan. Bunyinya masih nyaring. Iramanya tetap terjaga seperti puluhan tahun silam saat kesenian itu menjadi hiburan yang ditunggu-tunggu. Namun, bagi Suparman, bunyi Kentong Jangir hari ini menyimpan kegelisahan besar.
FUAD ALYZEN, Nguling, Radar Bromo
Di usia 81 tahun, Suparman masih setia merawat seperangkat alat musik yang memenuhi sudut rumahnya. Kentong, kendang, cekcek, hingga gong kecil. Benda-benda itu adalah saksi perjalanan panjang sebuah kesenian rakyat yang telah hidup sejak awal Indonesia merdeka.
Yang membuatnya cemas bukan lagi kondisi alat musik itu. Melainkan siapa yang akan memainkannya ketika tangannya tak lagi sanggup mengangkat pemukul.
"Sekarang yang sulit itu mencari penerus. Saya ingin sekali ada anak-anak yang mau belajar. Kalau tidak ada yang meneruskan, nanti kesenian ini bisa hilang," lirih lelaki kelahiran 1945 uty.
Di tengah derasnya perkembangan musik modern, kesenian tradisional yang menjadi identitas masyarakat Nguling itu perlahan kehilangan ruang hidup. Suparman menjadi satu di antara sedikit orang yang masih bertahan menjaga denyutnya.
Asal usul kesenian itu dimulai pada 1949. Saat itu Mbah Jahit atau Mbah Untung, seorang perantau asal Banyuwangi hendak menjual seperangkat gamelan Janger miliknya.
"Gamelan itu akhirnya dibeli paman saya, Mbah Darsin, bersama kakak saya. Dari situlah Janger mulai ada di Nguling," kenangnya.
Setelah itu selama tahun 1950, sejumlah orang mempelajari Janget. Mulai menabuh, hingga menari. Guru penabuh beserta penari didatangkan dari Banyuwangi agar mengajarkan pakem permainan Janger.
Baru tahun 1951 pertunjukan dimulai. Saat itu, Suparman baru enam tahun. Dia masih ingat, antusiasme warga begitu besar hingga berdesakan menyaksikan pertunjukan perdana.
Lalu sejak 1952, kelompok Janger mulai rutin tampil. Undangan datang silih berganti. Tidak hanya di sekitar Nguling.
"Zaman itu sering sekali ditanggap. Hampir terus ada panggilan. Ke Surabaya pernah, Pandaan, Sukorejo, Malang, sampai Puger juga pernah," tuturnya.
Kelompok itu kemudian dikenal dengan nama Janger Budi Utomo. Nama itu dipilih sebagai simbol kebersamaan, sekaligus penanda kelompok Janger pertama di Nguling.
Suparman sendiri mulai menjadi bagian dari perjalanan itu pada 1958, saat kelas enam sekolah dasar. Ia dipercaya menjadi penabuh kenthing. Sejak saat itulah ia tidak pernah benar-benar lepas dari Janger.
Pada masa jayanya, jumlah anggota mencapai sekitar 25 orang. Bahkan, menurut sebagian anggota, jumlahnya pernah mendekati 40 hingga 50 orang.
Namun, kejayaan itu tidak berlangsung lama. Memasuki pertengahan 1960-an, satu per satu pemain senior meninggal. Sementara regenerasi tidak berjalan sebagaimana mestinya.
"Di atas tahun 1965 mulai menurun. Banyak pemain meninggal. Masih ada yang menanggap, tapi harus mendatangkan penabuh dari Banyuwangi karena jumlah di sini sudah berkurang," katanya.
Upaya menghidupkan kembali Janger sebenarnya pernah dilakukan. Pada dekade 1970-an, Kepala Desa Mintarsa bersama sekretaris desa mengusulkan agar kelompok memiliki tempat latihan yang lebih layak di Gedung Gotong Royong yang kini berada di kawasan Pasar Nguling.
Sayangnya, persoalan utama belum juga terpecahkan. Yaitu, sulit menemukan generasi penerus.
Puluhan tahun kemudian, harapan kembali muncul. Pada 2009, keponakannya almarhum Edi, mengajak Suparman ke Banyuwangi untuk memperbaiki perangkat gamelan yang mulai rusak dimakan rayap.
Perjalanan itu menjadi awal kebangkitan Kentong Jangir. Pada 2012, Dinas Pariwisata Kabupaten Pasuruan memanggil Suparman setelah mengetahui masih ada kesenian langka yang bertahan di Nguling.
"Waktu itu saya dipanggil Dinas Pariwisata. Saya tidak pandai bicara, jadi Edi yang membantu menjelaskan semuanya," ujarnya.
Pemerintah kemudian memberikan dana pembinaan agar Suparman melatih anak-anak muda. Pelatih seni Is Madi didatangkan untuk mengajari para penari, sedangkan Suparman bertugas mengajarkan tabuhan.
Dalam proses itu, perangkat gamelan logam diganti menjadi alat musik berbahan bambu. Dari perubahan itulah lahir nama Kentong Jangir. Meski alat musik berubah, namun irama, pola tabuhan, dan jiwa Janger tetap dipertahankan.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 2012, Kentong Jangir dipercaya mewakili Kabupaten Pasuruan pada Festival Seni Budaya Jawa Timur di Surabaya. Membawakan lagu Paman Tani yang diaransemen sendiri oleh Suparman, rombongan beranggotakan sekitar 25 orang itu berhasil memikat perhatian juri yang menilai.
"Katanya, gamelan seperti ini langka. Setelah saya tabuh, banyak yang merinding," tuturnya.
Dua juri bahkan berdiri memberikan tepuk tangan setelah penampilan usai. Dalam perjalanan pulang, ketika rombongan baru sampai di kawasan Waru, telepon dari Kepala Dinas Pariwisata membawa kabar yang tidak pernah dilupakan Suparman.
"'Nomor siji, Pak Edi. Begitu katanya sambil menangis. Kentong Jangir juara pertama mewakili Pasuruan," kenangnya.
Prestasi itu membuat Kentong Jangir beberapa kali tampil dalam agenda pemerintah. Mulai penyambutan tamu, peresmian Wisata Mangrove Penunggul, hingga kegiatan bersama Bupati HM Irsyad Yusuf.
"Bukan soal uangnya. Yang membuat saya bangga, kesenian ini diakui dan dihargai," ujarnya.
Setelah penghargaan dan prestasi berhasil diraih, tantangan terbesar justru datang dari perubahan zaman. Minat generasi muda terhadap kesenian tradisional terus menyusut.
Padahal, menurut Suparman, Kentong Jangir bukan sekadar hiburan. Kesenian itu merupakan identitas budaya Pasuruan yang lahir dari perpaduan tradisi Banyuwangi dan kreativitas masyarakat Nguling.
"Di Pasuruan tidak ada lagi kesenian seperti ini. Ini kesenian langka. Saya hanya ingin ada generasi yang mau meneruskannya supaya tidak punah," pungkasnya.
Kini Suparman jadi sedikit orang yang terus menjaga irama Kentong Jangir. Sebuah warisan budaya yang telah hidup sejak masa awal kemerdekaan. Namun, kini berada di persimpangan antara terus dikenang atau perlahan menghilang. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi