Diputus hubungan kerja karena dampak efisiensi tak membuat Ahmad Jawahir patah semangat. Pria 67 tahun ini membuktikan, di usia senja dia masih produktif. Walau pusat perbelanjaan dan marketplace menjamur, dia membuka jasa servis sepatu dan sandal demi bertahan.
FAHRIZAL FIRMANI, Pasuruan, Radar Bromo
DERU sepeda motor dan mobil silih berganti melintas di Jalan Pati Unus, Kelurahan Krampyangan, Kecamatan Bugul Kidul. Di tengah lalu lintas padat dan bangunan, sebuah lapak semipermanen berada di atas trotoar. Tulisan "Servis Sepatu dan Sandal" tampak di bagian tengah meja lapak itu.
Di balik meja kecil itu, Ahmad Jawahir duduk di bangku plastik. Sesekali ia menunduk mengoleskan lem kuning pada bagian sol sepatu. Lalu mengambil benang kecil yang tersimpan di bawah meja berbentuk persegi panjang itu. Meja kecil itu menjadi saksi perjuangannya mencari rezeki.
Ahmad Jawahir menuturkan, dia baru tiga bulan terakhir menekuni jasa servis sepatu dan sandal. Sejak memilih pekerjaan ini, dia sering mangkal di sekitar SDN Krampyangan.
Sebelumnya, ia bertahun tahun menjadi karyawan di sebuah home industry sepatu dan sandal di wilayah Panggungrejo. Lebih dari lima belas tahun dia menjadi karyawan di tempat itu. Tapi dia harus di-PHK karena tempatnya bekerja harus melakukan efisiensi.
Keahlian yang diperolehnya selama menekuni pekerjaan di home industry sepatu dimanfaatkan menjadi ladang penghasilan.
Tidak hanya menerima perbaikan sepatu dan sandal rusak, ia juga melayani perbaikan tas yang jahitannya lepas. Meski penghasilan tidak menentu, namun ia puas dengan pekerjaannya itu.
"Sebelumnya, 15 tahun menjadi karyawan home industry. Terus berhenti dan akhirnya menekuni jasa servis sepatu," katanya.
Mad-sapaanya menuturkan, penghasilan yang diperolehnya memang tidak menentu. Di awal menekuni pekerjaan ini, ia sempat tidak mendapatkan pelanggan selama sepekan. Saat ini, tiap hari selalu ada masyarakat yang menggunakan jasanya. Paling banyak adalah perbaikan sepatu.
Kerusakan yang diterimanya beragam. Ada yang bagian sole nya lepas, dan ada bagian atasnya jebol. Ayah dua anak itu juga sering menerima permintaan tas yang jahitannya lepas hingga bagian kepala retsleting yang rusak. Rata-rata kerusakan karena aus akibat pemakaian.
"Ada juga yang baru pakai tapi sudah rusak. Cuma rata rata memang karena sudah dipakai bertahun tahun," terang mad saat ditemui di lokasi.
Warga Trajeng, Kecamatan Panggungrejo ini kerap membuka lapaknya setiap hari mulai pukul 08.00 sampai 15.00. Tarif yang dikenakan pada pelanggan bervariasi. Tergantung kerusakan.
Untuk tas mulai dari Rp 15 ribu, sementara sandal dipatok mulai Rp 20 ribu. Sedangkan jasa perbaikan sepatu lebih mahal, mulai Rp 30 ribu. Sebab sepatu memiliki kerumitan yang lebih kompleks dibandingkan sandal atau tas.
Diakuinya, memang tidak mudah bertahan sebagai tukang servis sepatu di Kota Pasuruan yang terus berkembang. Apalagi saat ini, pusat perbelanjaan dan e-commerce semakin banyak. Mereka menawarkan harga yang terjangkau. Sehingga saat sepatu rusak, banyak yang memilih membeli baru.
"Tapi saya yakin tetap bertahan. Karena tidak semua bisa membeli baru. Ada yang suka karena kenangan, adapula yang merasa mubazir jika selalu beli, apalagi jika kerusakan bisa diperbaiki," jelasnya.
Mad menyebut, perbaikan sepatu dan sandal bisa ditunggu. Paling lama satu jam bisa selesai. Jika sol-nya lepas, perbaikannya dengan mengoleskan lem di kedua sisi. Lalu dianginkan selama 30 menit. Setelah agak kering baru dipasang seperti semula.
Namun jika bagian atasnya yang terlepas maka ia akan memperbaiki dengan menjahitnya. Untuk tas robek, diperbaiki dengan cara dijahit sementara jika resletingnya tidak berfungsi, ia mengganti kepala resletingnya. Tarif yang dipatok bagi pelanggan yang menunggu atau diambil keesokan harinya sama.
"Pelanggan bisa membayar saat diambil. Tapi jika sepatu itu sudah rusak parah, saya biasanya meminta uang muka. Sebagai jaminan khawatirnya tidak diambil," tutur Mad.
Pria kelahiran September 1959 ini menerangkan, selama membuka jasa servis ini, ia sempat mendapatkan pengalaman kurang menyenangkan.
Ada pelanggan yang menawar dengan harga jauh dengan tarif yang diminta. Padahal penampilan pelanggan itu terlihat mampu.
"Pernah ada yang menawar murah sekali. Tarifnya itu 40 ribu, tapi ditawar sampai 20 ribu. Akhirnya tidak jadi karena terlalu murah. Padahal harga lem juga mahal," jelas Mad.
Ia mengaku saat menikmati pekerjaannya saat ini. Dengan tetap beraktivitas, ia memiliki penghasilan untuk membeli kebutuhan.
Bagi Mad, menganggur setelah diberhentikan bukanlah solusi. Kata dia, seharian di rumah juga tidak membuat nyaman. Dengan adanya kesibukan, maka ia bisa lebih bahagia karena bisa bertemu orang baru.
"Yang penting tidak kebingungan membeli makanan. Kalau telaten dan ramah, pasti ada pelanggan yang datang. Saya yakin itu," katanya.
Bagi Mad, hidup bukanlah tentang siapa yang paling cepat melaju, melainkan siapa yang ikhlas bertahan hingga garis akhir. Di bawah payung langit senja, di antara deru kendaraan yang acuh tak acuh, ia dan sepatu-sepatu usang itu saling menguatkan—menyimpan cerita tentang kesetiaan yang tak lekang digilas waktu. (fun)
Editor : Abdul Wahid