Cerita Peternak Burung Puyuh di Kota Probolinggo yang Tetap Bertahan di Tengah Banyak Warga yang Gulung Tikar

Arif Mashudi • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 15:41 WIB
BERTAHAN: Muzammil di tengah kandang buruh puyuh, bantuan usaha yang diberikan Pemkot Probolinggo. Dia berhasil mempertahankan bantuan itu di tengah banyak penerima manfaat lain yang gagal. (Arif Mashudi/ Radar Bromo)
BERTAHAN: Muzammil di tengah kandang buruh puyuh, bantuan usaha yang diberikan Pemkot Probolinggo. Dia berhasil mempertahankan bantuan itu di tengah banyak penerima manfaat lain yang gagal. (Arif Mashudi/ Radar Bromo)

 

Di tengah banyak penerima bantuan budi daya burung puyuh dari Pemkot Probolinggo yang gagal melanjutkan usaha, Muzammil, 41, justru mampu bertahan. Kuncinya bukan karena modal besar. Melainkan kesabaran dan disiplin memutar hasil penjualan telur untuk menjaga usaha tetap hidup.

ARIF MASHUDI, Kedopok, Radar Bromo

Rumah sederhana Muzammil berada di sebuah gang kecil di RT 01/RW X, Kelurahan Jrebeng Lor, Kedopok. Di samping rumahnya, berdiri kandang beratap asbes gelombang yang melindungi sekitar seribu ekor burung puyuh dari panas dan hujan.

Setiap pagi dan sore, burung-burung itu diberi pakan konsentrat. Sementara setiap malam sekitar pukul 20.00, Muzammil bersama istrinya memanen telur yang dihasilkan. Dalam sehari, mereka mampu mengumpulkan sekitar satu peti atau 10 kilogram telur puyuh.

Keberhasilan itu tidak datang begitu saja. Sebelum menerima bantuan, Muzammil mengaku sudah lebih dulu belajar dari temannya yang sukses menjadi peternak burung puyuh. Saat program bantuan dibuka, ia mengajukan proposal melalui kelurahan. Hingga akhirnya terpilih sebagai salah satu penerima manfaat.

"Alhamdulillah, dapat bantuan budi daya ternak burung puyuh ini. Dapat seribu ekor, kandang dan bantuan pakannya selama satu bulan," katanya kepada Jawa Pos Radar Bromo.

Tidak hanya itu. Muzammil juga mengikuti pelatihan cara beternak. Ia memahami bahwa hasil tidak bisa diperoleh secara instan. Setelah mulai dipelihara, burung puyuh baru bertelur sekitar 10 hari hingga dua minggu kemudian.

Baca Juga: Banyak Bantuan Burung Puyuh Mati dan Tak Berkembang, Dewan Minta Bantuan Program Budidaya Dikaji Ulang

Sejak itulah, ia mengambil keputusan penting yang membuat usahanya tetap berjalan. Hasil penjualan telur tidak dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. Dia simpan sebagai modal membeli pakan pada bulan berikutnya. Sebab, bantuan pakan dari pemerintah hanya diberikan selama satu bulan.

"Telur hasil ternak itu saya jual dan hasilnya tidak saya gunakan untuk penuhi kebutuhan keluarga. Tapi saya simpan untuk membeli pakan bulan berikutnya," katanya.

Dari seribu ekor burung puyuh, setiap hari ia menghasilkan sekitar 10 kilogram atau satu peti telur. Dengan harga saat ini sekitar Rp 290 ribu per peti, dalam dua hari ia memperoleh sekitar Rp 580 ribu.

Sementara kebutuhan pakan mencapai satu karung atau 50 kilogram seharga Rp 400 ribu yang habis dalam dua hari. Selisihnya masih menjadi keuntungan, meski besar kecilnya bergantung pada harga telur di pasaran.

"Kalau sekarang harga telur puyuh Rp 290 ribu satu peti. Jadi kalau dua hari dapat uang sekitar Rp 580 ribu. Kemudian pakannya untuk dua hari Rp 400 ribu atau satu karung. Jadi dua hari untung Rp 180 ribu," katanya.

Keuntungan itu pun tidak dinikmati untuk kebutuhan pribadi. Muzammil menabung seluruh sisa hasil penjualan telur agar bisa menambah jumlah burung puyuh.

Baginya, memelihara seribu ekor belum cukup untuk menjadi sumber penghasilan utama. Saat ini, ia tetap bekerja mencari barang bekas atau besi tua. Sedangkan ternak puyuh menjadi penghasilan tambahan.

"Hasil dari ternak ini uangnya tidak saya pakai. Tapi saya tabung untuk bisa nambah jumlah burung puyuh lagi," lanjutnya.

Menurut Muzammil, beternak burung puyuh sebenarnya tidak sulit. Hanya saja, harus disiplinan. Setiap pagi sebelum berangkat bekerja, ia membersihkan kotoran di bawah kandang, mengganti air minum, dan memberi pakan sesuai takaran.

Untuk seribu ekor burung puyuh dibutuhkan sekitar 25 kilogram pakan konsentrat setiap hari. Takaran itu tidak boleh dikurangi karena akan berdampak pada produksi telur.

"Burung puyuh itu makan terus tidak berhenti. Jadi pakan yang harus diberikan jangan sampai dikurangi, harus pas sesuai takaran. Jika tidak, risikonya burung puyuh tidak akan bertelur," terangnya.

Pakan diberikan dua kali sehari, pagi dan sore. Pembersihan kandang dipastikan setiap pagi, sedangkan sore hari menyesuaikan kondisi kandang.

Ada pun panen telur dilakukan setiap malam dan biasanya dikerjakan oleh istrinya. "Panen telurnya malam hari, biasanya istri saya yang kumpulin telur-telurnya," ujarnya.

Meski usahanya mulai membuahkan hasil, Muzammil menyadari beternak burung puyuh membutuhkan perencanaan jangka menengah dan panjang. Burung puyuh baru mulai bertelur pada usia sekitar 45 hari. Setelah berumur sekitar 1,5 tahun, produktivitasnya menurun, sehingga harus diganti dengan bibit baru.

Karena itu, targetnya bukan sekadar mempertahankan seribu ekor burung puyuh. Ia ingin terus menambah populasi, hingga mencapai sekitar 10 ribu ekor. Dengan demikian, usaha tersebut benar-benar bisa menjadi sumber penghasilan utama keluarga.

"Kalau punya 10 ribu ekor puyuh untuk ternak, baru bisa dijadikan penghasilan atau usaha utama. Kalau masih seribu, hasilnya sangat minim. Karena itu, hasil yang sekarang saya dapat akan dikumpulkan untuk nambah burung puyuh," ujarnya.

Ke depan, Muzammil juga ingin menekan biaya produksi yang selama ini paling banyak terserap untuk membeli pakan. Ia bercita-cita membuat pakan sendiri. Sebelum dipasarkan kepada peternak lain dalam paguyuban, pakan tersebut akan diuji coba lebih dulu pada ternaknya sendiri.

"Tapi saya masih mau belajar buat pakannya. Supaya tidak mahal di biaya pakan," harapnya.

Di tengah cerita banyak penerima bantuan yang berhenti di tengah jalan, Muzammil membuktikan bahwa keberhasilan tidak semata ditentukan oleh besarnya bantuan yang diterima. Yang paling penting adalah kesabaran, kedisiplinan, dan keberanian menahan hasil hari ini demi perkembangan usaha esok hari. (hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
kedopok Burung Puyuh probolinggo ekonomi