Dari Desa Terisolasi ke Panggung Juara, Kisah Hebat Bimbel Akar Rumput di Kabupaten Pasuruan

Iwan Andrik • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 14:08 WIB
MENGINSPIRASI: Akhmad Sholeh, warga Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan dengan penghargaan yang diraihnya, atas terobosan Bimbel Akar Rumput yang digagasnya. (Istimewa)
MENGINSPIRASI: Akhmad Sholeh, warga Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan dengan penghargaan yang diraihnya, atas terobosan Bimbel Akar Rumput yang digagasnya. (Istimewa)

Bersama rekan-rekan Karang Taruna, Akhmad Sholeh, 26, warga Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, merintis Bimbel Akar Rumput sejak 22 September 2024. Bukan berangkat dari proyek atau program pemerintah, melainkan dari kegelisahan melihat kualitas literasi anak-anak di desanya yang terus menurun.

FUAD ALYZEN, Lekok, Radar Bromo

Jarum jam baru saja melewati pukul 19.00. Di saat sebagian besar anak-anak di perkotaan asyik menatap layar gawai atau bersiap untuk tidur, atmosfer di sebuah sudut Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan justru tampak berbeda.

Sayup-sayup terdengar suara lantang puluhan anak sekolah dasar. Mereka sedang melafalkan Pancasila dengan khidmat, disusul keheningan sepuluh menit untuk membaca buku.

Di tempat sederhana ini, tidak ada sekat kelas yang mewah. Tidak ada pula tagihan uang SPP atau biaya pendaftaran yang mencekik leher.

Yang ada hanyalah deretan bangku, tumpukan buku, dan ketulusan para pemuda Karang Taruna yang menolak menyerah pada keadaan. Gerakan ini mereka namai: Bimbel Akar Rumput.

Desa Alastlogo selama ini dikenal sebagai wilayah pesisir dengan predikat desa konflik yang terisolasi dari bantuan luar.

Jangankan dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan, dana resmi dari desa pun tidak mengalir ke gerakan ini.

Namun, keterbatasan itu justru memicu lahirnya sebuah perlawanan intelektual.

Semua bermula pada 22 September 2024. Akhmad Sholeh, 26, seorang pemuda setempat, gelisah mendapati kenyataan pahit di desanya.

Banyak rekan sesama Karang Taruna yang berprofesi sebagai guru, mengeluhkan dampak buruk dari kurikulum pendidikan yang terlalu sering berganti.

"Analisis kami, akibat sering berganti-ganti kurikulum, harmonisasi pendidikan menjadi kacau. Guru harus belajar menyesuaikan, sedangkan murid seolah menjadi kelinci percobaan," kenang Sholeh.

Efek domino dari kacaunya harmonisasi itu, sangat nyata di lapangan. Saat melakukan pengamatan langsung, Sholeh dan kawan-kawannya terenyak.

Hampir 75 persen anak usia 7 hingga 12 tahun di desa mereka, belum bisa membaca dengan benar.

Bahkan, 25 persen di antaranya benar-benar buta aksara. Dari keprihatinan mendalam itulah, Bimbel Akar Rumput lahir sebagai oase di tengah gersangnya fasilitas pendidikan formal.

Menjalankan bimbingan belajar gratis, tentu bukan perkara mudah. Buku, alat tulis, hingga konsumsi harian memerlukan biaya yang tidak sedikit.

Alih-alih mengajukan proposal sumbangan atau mencari sponsor, para pemuda Alastlogo memilih jalan mandiri yang mandrat guna.

Mereka mendirikan sebuah unit usaha sosial bernama Dapur Telaga Bakti. Dari dapur inilah roda ekonomi diputar, dan seluruh keuntungan bisnisnya dialokasikan secara penuh sebagai donatur utama kelangsungan Bimbel Akar Rumput.

Mereka membuktikan bahwa kemandirian ekonomi adalah kunci utama agar cita-cita sosial tidak layu di tengah jalan.

Model pendidikan yang diterapkan pun, terbilang unik. Karena mengadopsi filosofi Ki Hadjar Dewantara, tokoh pendidikan favorit Sholeh.

Setiap Jumat dan Sabtu malam, setelah sesi literasi dan bimbingan akademik selama 35 menit, anak-anak diajak bermain permainan tradisional untuk mengasah motorik dan kebersamaan.

Tak hanya itu, pada minggu terakhir setiap bulan, suasana belajar diubah menjadi lebih rekreatif.

Anak-anak diajak menonton film bersama, mempelajari sejarah desa mereka sendiri, hingga mendapatkan materi penguatan mental serta pembentukan karakter.

"Manfaat paling terasa tentu dirasakan orang tua. Anaknya jadi semangat sekolah, bisa membaca, berhitung, dan yang paling penting beradab," ujar Sholeh.

Perjalanan hampir dua tahun ini membuahkan hasil yang organik sekaligus fantastis.

Tanpa spanduk besar, tanpa iklan digital, Bimbel Akar Rumput berkembang murni lewat strategi getuk tular—cerita dari mulut ke mulut antar-orang tua yang puas melihat perubahan anak mereka.

Dari yang awalnya hanya memiliki 10 peserta, kini tempat belajar ini telah menghidupkan mimpi bagi sekitar 100 anak dari kelas 1 hingga 6 SD.

Keberhasilan ini sempat mengejutkan pihak luar. Tanpa pernah mendaftar secara sengaja, pihak kecamatan yang mengendus gerakan ini mendaftarkan Bimbel Akar Rumput ke ajang INOPAMAS 2026 Kabupaten Pasuruan.

Hasilnya luar biasa. Mereka sukses menyabet Juara I untuk kategori teknologi sekaligus nonteknologi.

Namun bagi Sholeh dan kawan-kawannya, piala bukanlah tujuan akhir. "Kami tidak pernah mementingkan juara. Bagi kami inovasi yang kami bangun ini, adalah bentuk pengabdian kepada Allah dan kepada negara sesuai amanat UUD 1945. Namun Tuhan memberikan bonus kepada kami," ucapnya rendah hati.

Meski telah menggenggam penghargaan tertinggi di tingkat kabupaten, langkah kaki para pemuda Alastlogo belum mau berhenti.

Saat ini, mereka sedang sibuk merumuskan rencana besar berikutnya. Yakni menyusun modul ajar mandiri serta kurikulum berbasis pemikiran Dewantara, yang akan disahkan sebagai Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) resmi di bimbel tersebut.

Sholeh menambahkan bahwa mulai Senin depan, mereka akan mulai keluar dari zona nyaman. Sosialisasi resmi dan pengisian formulir pendaftaran akan mulai dibuka langsung ke berbagai sekolah dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di sekitar wilayah Lekok, demi merangkul lebih banyak anak yang membutuhkan.

Dari sebuah desa konflik di pinggiran Pasuruan, para pemuda Alastlogo telah menampar sebuah stigma.

Mereka membuktikan, bahwa perubahan besar tidak selalu membutuhkan anggaran miliaran rupiah atau fasilitas mewah bin megah.

Terkadang, perubahan sejati justru lahir dari rahim kegelisahan, kepedulian, dan keberanian segelintir anak muda yang percaya, masa depan sebuah bangsa bisa diselamatkan hanya dengan mengajari seorang anak membaca. (one/*)

Editor : Jawanto Arifin
bimbel akar rumput inovasi inspirasi Inopamas