Di bawah temaram lampu-lampu malam, denting gitar berpadu dengan aroma kopi dan kepulan asap dari tungku angkringan. Tawa pengunjung berbaur dengan alunan lagu yang mengalir pelan. Pemandangan itu selama ini mungkin dianggap biasa di Kota Probolinggo. Namun bagi Yayasan Sekola Konang Indonesia (YSKI), ruang-ruang sederhana itu menyimpan potensi besar untuk melahirkan wajah baru ekonomi kreatif berbasis budaya.
INNEKE AGUSTIN, Probolinggo, Radar Bromo
Gagasan tersebut kemudian diwujudkan dalam program SMIPRO (StreetArt Management Improvement Probolinggo). Sebuah kajian bertajuk revitalisasi seni jalanan sebagai kekuatan modernisasi budaya dan pengembangan zona legal ekonomi kreatif berbasis teknologi informasi.
Penelitian ini mencoba memotret bagaimana angkringan, seni pertunjukan jalanan, dan teknologi dapat dipadukan menjadi sebuah ekosistem yang saling menghidupi.
Ketua YSKI Eko Antony Sofian menuturkan, Kota Probolinggo memiliki modal yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Letaknya yang berada di koridor pesisir utara Jawa Timur menjadikan kota ini simpul strategis penghubung Surabaya dengan Pulau Bali.
Ribuan orang datang dan pergi setiap hari, membawa beragam budaya, gagasan, dan peluang. Di tengah lalu lintas manusia yang terus bergerak, lahirlah identitas Pendalungan.
Perpaduan harmonis budaya Jawa dan Madura yang membentuk karakter masyarakat Probolinggo menjadi terbuka, inklusif, serta memiliki daya lenting sosial yang tinggi menghadapi perubahan zaman.
Namun derasnya arus globalisasi dan transformasi digital juga membawa tantangan baru. Kota Probolinggo dituntut tidak sekadar menjadi kota transit. Melainkan berkembang menjadi kota kreatif yang mampu memanfaatkan setiap sudut ruang publik sebagai penggerak ekonomi.
Fenomena itu kini terlihat jelas di sejumlah kawasan. Stadion Bayuangga, depan TWSL, Jalan Siaman, hingga Jalan Cut Nyak Dien, perlahan menjelma menjadi sentra angkringan yang hidup ketika malam tiba. Meja-meja sederhana menjadi ruang bertemunya pedagang, seniman, pekerja, mahasiswa, hingga wisatawan. Di sanalah transaksi ekonomi berlangsung, persahabatan tumbuh, dan karya seni menemukan penontonnya.
Anton–panggilannya–menilai, selama ini angkringan kerap dipandang sebelah mata. Banyak orang menganggap usaha tersebut semata-mata dijalankan oleh mereka yang terdesak kondisi ekonomi.
Padahal, realitas di lapangan jauh lebih berwarna. "Beberapa di antara mereka yang punya angkrikan bahkan merupakan orang berada," katanya.
Hal serupa juga dialami para pelaku seni jalanan. Mereka menjadi bagian yang tak terpisahkan dari wajah malam Kota Probolinggo. Musik akustik, pertunjukan vokal, hingga berbagai bentuk hiburan sederhana menghadirkan suasana hangat bagi para pengunjung angkringan.
Sayangnya, keberadaan mereka belum sepenuhnya mendapatkan tempat. Seniman jalanan masih sering dipandang sebagai pengganggu ketertiban, minim regulasi, dan belum memperoleh pengakuan institusional. Akibatnya, potensi ekonomi kreatif yang sebenarnya besar belum mampu berkembang secara optimal.
"Kami ingin unsur-unsur ini berkolaborasi dan menghadirkan business opportunity masing-masing. Kami mencoba membangun budaya apresiatif di antara mereka meski memang tidak mudah," tuturnya.
Berangkat dari kondisi tersebut, YSKI melakukan penelitian menggunakan pendekatan Sustainable Livelihood Approach (SLA). Berbeda dengan penelitian yang umumnya dimulai dari persoalan, pendekatan ini justru berangkat dari aset dan kekuatan yang telah dimiliki masyarakat.
"Kalau biasanya penelitian berbasis dari masalah, ini berbasis dari aset masing-masing," jelas Anton.
Kajian dilakukan dengan mengukur lima aset utama atau Pentagon Aset, yakni pertumbuhan ekonomi, budaya kolaborasi, edukasi vokasi, legitimasi, dan keberlanjutan (sustainability).
Kelima aspek itu kemudian divisualisasikan dalam bentuk pentagram analisis untuk melihat sejauh mana ekosistem ekonomi kreatif dapat tumbuh secara berkelanjutan.
Salah satu lokasi utama penelitian berada di kawasan Angkringan Stadion Bayuangga. Sebanyak 120 responden dilibatkan, terdiri atas pemilik angkringan, seniman jalanan (street performer), serta masyarakat sebagai pengunjung. Hasilnya menunjukkan sesuatu yang menarik. Tanpa disadari, kawasan tersebut telah berkembang menjadi creative hub organic.
"Mereka saling bersimbiosis secara natural tanpa pengorganisasian khusus atau campur tangan manajerial yang formal," paparnya.
Dari temuan tersebut, lahirlah salah satu rekomendasi utama, yakni pembangunan platform digital StreetArt.ID. Platform ini dirancang bukan sekadar menjadi laman informasi, melainkan jembatan yang mempertemukan seniman, pelaku usaha angkringan, dan masyarakat dalam satu ruang digital.
Pengunjung dapat mengetahui jadwal pertunjukan, memesan makanan, hingga melakukan reservasi tempat tanpa harus datang terlebih dahulu.
"Mulai dari mengetahui jadwal perform, pesan makanan, hingga booking tempat. Semua bisa dilakukan melalui satu platform ini. Ke depan akan terus kami sempurnakan sehingga dapat melayani banyak kebutuhan masyarakat di lapangan. Termasuk jumlah performer dan jenisnya. Kalau sekarang hanya bernyanyi, tidak menutup kemungkinan nantinya bisa beatbox atau DJ," ujarnya.
Tak berhenti pada digitalisasi, kajian tersebut juga menyusun rekomendasi melalui pendekatan Logical Framework Analysis (LFA). Dari penelitian ini nantinya ada tiga pilar utama sebagai fondasi pengembangan ekosistem. Pertama, zonasi legal yakni mendorong Stadion Bayuangga menjadi kawasan ekonomi kreatif resmi dengan proses perizinan mikro yang lebih sederhana bagi para pelaku seni.
Kedua, digitalisasi sistem melalui penerapan QR-Partisipasi dan profil digital guna menciptakan transparansi ekonomi, sekaligus memperkuat kemandirian finansial para performer.
Ketiga, inkubasi vokasional berupa pelatihan manajemen, pengembangan kapasitas, hingga kurasi pertunjukan agar kualitas seni jalanan mampu memenuhi standar kota kreatif yang inklusif.
Bagi YSKI, revitalisasi seni jalanan bukan sekadar mempercantik wajah kota. Lebih dari itu, ia adalah ikhtiar membangun ruang hidup yang memberi kesempatan setara bagi siapa saja untuk berkarya, memperoleh penghasilan, dan dihargai.
“Sebab, ketika musik menemukan panggungnya, angkringan memperoleh pelanggan, teknologi menjembatani kebutuhan, dan masyarakat belajar saling mengapresiasi, yang tumbuh bukan hanya ekonomi kreatif,” tutur Anton.
Yang lahir kemudian adalah sebuah ekosistem budaya baru, di mana denyut kehidupan malam Kota Probolinggo tak lagi sekadar menjadi latar, melainkan menjadi masa depan yang dirancang bersama. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi