Di Desa Alastlogo seharusnya berjalan seperti biasa. Tapi belakangan ada satu hal yang membuat suasana desa ini berbeda. Setiap kali suara latihan militer terdengar dari arah Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Grati, warga langsung mengingat insiden peluru nyasar.
FUAD ALYZEN, Lekok, Radar Bromo
SUASANA di Desa Alastlogo, Kecamatan Lekok, tampak seperti hari-hari biasa. Beberapa warga duduk di teras rumah. anak-anak mulai kembali bermain, sementara para peternak menggiring kambing menuju lahan kosong.
Sekilas tak ada yang berbeda. Namun, jika percakapan mulai mengarah pada latihan militer di kawasan Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir Grati, raut wajah mereka berubah. Nada bicara melambat. Tatapan mengarah ke atap-atap rumah yang sebagian masih menyisakan bekas hantaman proyektil.
Trauma itu rupanya belum benar-benar pergi. Bukan hanya karena peluru nyasar yang beberapa kali masuk ke permukiman. Tetapi juga karena tidak ada satupun warga yang bisa memastikan kejadian serupa tidak akan kembali terulang ketika latihan militer digelar.
Di RT 1 Desa Alastlogo, Solihin, 36, masih mengingat betul bagaimana warga berhamburan keluar rumah setiap kali mendengar suara benda keras menghantam genteng. Rumahnya sendiri pernah menjadi salah satu lokasi jatuhnya peluru nyasar, pada 2 Juli lalu.
Menurutnya, kehidupan masyarakat berubah setiap kali jadwal latihan dimulai. Aktivitas yang biasanya dilakukan tanpa beban mendadak dipenuhi rasa waswas. Warga memilih membatasi kegiatan di luar rumah. Anak-anak diminta tidak bermain terlalu jauh. Bahkan sekadar keluar rumah pun memunculkan kekhawatiran.
"Kalau latihan berlangsung, ya pasti takut. Warga cemas. Mau keluar rumah rasanya waswas karena takut peluru nyasar lagi. Itu yang sekarang dirasakan masyarakat," ujarnya.
Jangan di luar rumah, di dalam pun masih merasa was was. Ia mengaku tidak ingin menyudutkan siapa pun. Namun sebagai warga yang merasakan langsung dampaknya, ia hanya ingin menyampaikan kondisi yang sebenarnya terjadi di lapangan.
"Kami ini hanya menyampaikan apa yang dirasakan. Mau bilang begini salah, bilang begitu juga salah. Sementara ada pernyataan kalau peluru itu bukan dari mereka (TNI). Kami hanya berharap rasa aman itu saja," katanya.
Ucapan Solihin bukan tanpa alasan. Beberapa meter dari rumahnya, Azmar Hidayat, 36, masih menyimpan proyektil yang jatuh di rumahnya sebagai pengingat betapa tipis batas antara selamat dan petaka.
Peristiwa itu terjadi Kamis (23/7) sekitar pukul 10.00. Saat itu anaknya yang masih berusia tiga tahun sedang bermain di dalam rumah. Tanpa diduga, sebuah benda keras menghantam atap dengan suara menggelegar.
Beberapa detik kemudian, peluru itu jatuh ke lantai. Jaraknya hanya sekitar satu langkah dari posisi sang anak bermain. "Benturan di atap membuat anak saya langsung kaget. Setelah jatuh ke lantai sempat muncul percikan api. Anak saya menangis menjerit karena ketakutan," tuturnya.
Azmar mengaku masih sulit melupakan kejadian tersebut. Sebab, andai saja arah jatuh peluru bergeser sedikit, bukan tidak mungkin anaknya menjadi korban.
Ia menyebut putranya sempat mengalami trauma cukup berat. Selama beberapa hari setelah kejadian, anaknya menjadi pendiam dan sulit merespons ketika diajak berbicara.
"Dia seperti masih syok. Diajak bicara kadang tidak nyambung. Alhamdulillah sekarang sudah mulai membaik, tetapi masih mudah kaget kalau mendengar suara keras," ujarnya.
Sebagai seorang ayah, Azmar mengaku resah dan kecewa. Menurutnya, masyarakat tidak pernah menolak adanya latihan militer. Namun keselamatan warga seharusnya menjadi prioritas utama.
Di sekitar desa, kata dia, bukan hanya terdapat rumah-rumah penduduk. Setiap hari banyak warga beraktivitas di luar. Ada yang menggembalakan kambing dan domba, bekerja di sawah, hingga anak-anak yang bermain di halaman rumah.
"Kami hanya berharap, latihan jangan dilakukan terlalu dekat dengan permukiman. Di sini banyak warga beraktivitas. Jangan sampai ada korban baru kemudian semua menyesal," ucapnya.
Hal senada disampaikan Sekretaris Desa Alastlogo, Sugianto. Menurutnya, suasana desa sebenarnya kembali normal ketika tidak ada latihan. Masyarakat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa.
Namun, keadaan berubah setiap kali suara tembakan mulai terdengar dari arah lokasi latihan. "Kalau hari biasa tidak ada masalah. Tapi saat latihan dimulai, rasa takut itu muncul lagi. Hampir semua warga waswas," katanya.
Ia memahami kondisi psikologis masyarakat yang berubah. Sebab, beberapa kali peluru benar-benar ditemukan di rumah warga. "Bukan karena isu atau cerita. Warga menemukan sendiri peluru di rumah mereka. Itu yang membuat rasa takut masih ada sampai sekarang," jelasnya.
Di tengah keresahan itu, warga juga mulai menghitung sendiri jumlah rumah yang terdampak.
Akhmad Sholeh, 26, menunjukkan daftar yang ia kumpulkan dari hasil pendataan warga. Sedikitnya sepuluh lokasi dilaporkan terdampak dalam kejadian Kamis (23/7). Di antaranya rumah Sujab, Azmar, Juned, Karman, Bebun, Sudi, Sugianto serta beberapa titik lainnya. Sebagian proyektil berhasil ditemukan, sementara beberapa lokasi hanya menyisakan bekas hantaman.
Bahkan menurutnya, insiden tersebut bukan yang pertama. Pada 2 Juli 2026, rumah Ketua RT Solihin juga sempat terkena peluru nyasar. Kejadian itu bahkan sempat direkam dalam bentuk video.
"Trauma lama seperti muncul lagi. Warga masih ingat kejadian tahun 2007. Setelah peristiwa kemarin, rasa takut itu muncul lagi," katanya.
Dampaknya tidak hanya dirasakan orang dewasa. Menurut Akhmad, beberapa anak usia sekolah dasar mulai mengaku takut ketika latihan berlangsung. Bahkan ada yang meminta orang tuanya tidak berangkat sekolah karena khawatir peluru kembali nyasar.
"Psikologis warga benar-benar terganggu. Anak-anak juga ikut merasakan ketakutan itu," ujarnya.
Yang paling disesalkan, lanjut Akhmad, warga sebenarnya telah berupaya menyampaikan keluhan jauh sebelum aksi protes dilakukan. Beberapa waktu lalu masyarakat sudah mendatangi pihak Puslatpur untuk meminta evaluasi setelah ditemukan peluru nyasar di permukiman. Mereka berharap latihan berikutnya dilakukan dengan pengamanan yang lebih baik sehingga tidak lagi membahayakan warga.
Namun menurutnya, harapan itu belum terjawab. "Kami sudah menyampaikan dengan baik-baik. Warga hanya minta dievaluasi supaya tidak ada peluru yang masuk ke rumah lagi. Tapi saat latihan berikutnya, peluru justru terdengar seperti menghujani genting rumah warga. Itu yang membuat masyarakat akhirnya bereaksi," pungkasnya.
Bagi warga Alastlogo, yang mereka tunggu bukan sekadar penjelasan mengenai asal-usul proyektil yang ditemukan di rumah-rumah mereka. Lebih dari itu, mereka ingin setiap dentuman latihan tidak lagi dibarengi rasa cemas. Sebab, rumah semestinya menjadi tempat paling aman untuk pulang, bukan tempat yang membuat penghuninya menengadah ke atap dengan penuh kekhawatiran. (fun)
Editor : Abdul Wahid