Mengunjungi Satu-satunya Kebun Jeruk Siam Madu di Purwodadi Pasuruan yang Manfaatkan Lahan Tidur

Rizal Syatori • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 22:39 WIB
Zainul Arifin, meninjau salah satu pohon jeruk siam di kebunnya. (Rizal Syatori/ Radar Bromo)
Zainul Arifin, meninjau salah satu pohon jeruk siam di kebunnya. (Rizal Syatori/ Radar Bromo)

Desa Purwodadi, Kecamatan Purwodadi, selama ini dikenal sebagai daerah pertanian yang didominasi padi dan jagung. Namun sekitar 2,5 tahun terakhir, warga mulai membudidayakan jeruk siam madu. Buah itu dikembangkan dengan memanfaatkan lahan tidur hingga mampu menghasilkan nilai ekonomi.

RIZAL FAHMI SYATORI, Purwodadi, Radar Bromo

PERUBAHAN itu terlihat di Dusun Parelegi, Desa Purwodadi. Di kawasan yang berada tidak jauh dari Jalan Tol Pandaan–Malang tersebut, hamparan kebun jeruk siam madu membentang di lahan seluas sekitar dua hektare. 

Lokasinya cukup jauh dari permukiman warga. Dikelilingi pemandangan Bukit Sempu dan Gunung Baung di Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi.

Di balik pengembangan kebun tersebut adalah Zainul Arifin, 50, warga Dusun Krajan, Desa Purwodadi. Selama bertahun-tahun, ia berprofesi sebagai petani sayuran. Lahan yang digarapnya pun berada di luar desa yakni di Nongkojajar, Kecamatan Tutur, kemudian di Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, hingga di wilayah Lumajang dan Probolinggo.

Setelah lama menekuni pertanian sayuran, lulusan SMA itu memutuskan kembali ke kampung halamannya dan mencoba bidang baru. Yakni, membudidayakan jeruk siam madu.

"Selama ini saya fokus pertanian sayuran, sekarang pulang kampung fokus bertani jeruk siam madu. Pilih terdekat dari rumah," kata Zainul Arifin saat ditemui Jawa Pos Radar Bromo di kebun jeruk yang dikelolanya.

Keputusan tersebut bukan sekadar berpindah komoditas. Ia juga memilih untuk memanfaatkan lahan yang selama bertahun-tahun tidak digunakan.

Baca Juga: Masuk Prioritas, RSUD Purwodadi Pasuruan Dibangun 2027, Dibiayai Melalui Pinjaman Rp 363 Miliar ke PT SMI

Lahan yang kini menjadi kebun jeruk itu bukan miliknya sendiri. Seluruhnya merupakan lahan milik warga yang ia sewa. Lokasinya berada di dua titik yang saling berdekatan di Dusun Parelegi.

"Dulu yang saya pakai ini lahan tidur, lama nganggur. Saya sewa, dijadikan kebun jeruk seperti ini. Alhamdulillah seiring berjalannya waktu dengan perawatan intensif, ternyata cocok," ujarnya.

Bibit jeruk siam madu di lahannya itu, didatangkan dari Kota Batu yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil jeruk. Untuk pemupukan, ia mengombinasikan pupuk kandang yang berasal dari kotoran kambing dan ayam dengan pupuk pabrikan, Sehingga pertumbuhan tanaman pohon lebih optimal.

Dalam pengelolaannya, kebun tersebut tidak dikerjakan seorang diri. Zainul mempekerjakan sejumlah petani dari Desa Purwodadi, maupun warga sekitar untuk membantu proses budi daya hingga perawatan tanaman.

Masa produksi jeruk siam madu ini juga tergolong cepat. Menurut Zainul, tanaman mulai berbuah sekitar enam hingga tujuh bulan setelah ditanam.

"Dari masa tanam, 6-7 bulan kemudian sudah berbuah dan bisa dipanen. Dalam setahun bisa panen sampai dengan dua kali," tuturnya.

Keberhasilan budi daya jeruk di Purwodadi juga didukung kondisi alam. Kebun berada di kawasan dataran tinggi dengan suhu udara yang sedang atau cenderung sejuk. Selain itu, kebutuhan air untuk tanaman juga tercukupi sehingga mendukung pertumbuhan jeruk.

"Perawatan tiap harinya cukup dengan penyiraman dan pemupukan. Kalau musim hujan, perawatannya lebih ekstra," kata Ripin, sapaan akrabnya.

Produktivitas tanaman pun cukup menjanjikan. Dalam kondisi normal, satu pohon jeruk siam madu dapat menghasilkan hingga 100 kilogram buah. Namun untuk kondisi di kebun yang dikelolanya saat ini, rata-rata setiap pohon menghasilkan sekitar 40–50 kilogram jeruk.

Keberhasilan itu menguatkan keyakinan Ripin bahwa Purwodadi memiliki potensi menjadi daerah penghasil jeruk. "Di sini ternyata juga cocok untuk pertanian jeruk, termasuk siam madu,” cetusnya.

Saat ini, hasil panen yang diperoleh masih dipasarkan untuk  memenuhi kebutuhan pasar lokal. Hanya sebagian yang dikirim hingga Jakarta.

Zainul pun telah menyiapkan rencana pengembangan berikutnya. Ia ingin menjadikan kebun jeruk tersebut bukan hanya sentra produksi. Namun juga sebagai destinasi wisata pertanian.

"Ke depan, rencana saya saat masuk musim panen dikembangkan menjadi wisata pertanian petik jeruk," ujarnya.

Upaya mengubah lahan tidur menjadi kebun jeruk produktif itu mendapat apresiasi dari Kepala Desa Purwodadi Mulyono. Menurutnya, keberhasilan tersebut membuktikan jeruk siam madu dapat tumbuh baik di wilayah yang sebelumnya belum pernah ditanami jeruk.

"Sebagai kades, saya bangga ada warga yang fokus bertani untuk ketahanan pangan. Apalagi ini jeruk siam madu, sebelumnya belum pernah ada dan ternyata bisa. Rasanya manis dan tumbuh subur," kata Mulyono.

Hingga kini, kebun jeruk siam madu milik Zainul Arifin masih menjadi satu-satunya di Desa Purwodadi. Berawal dari lahan yang lama menganggur, kawasan itu kini menjadi lahan produktif yang membuka lapangan kerja dan memberi peluang pengembangan ekonomi desa melalui sektor pertanian dan wisata. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
jeruk siam pasuruan perkebunan Purwodadi