Tak semua barang yang tersimpan di sudut rumah pantas berakhir di tempat pembuangan. Di tangan orang-orang yang peduli, benda-benda yang nyaris dilupakan itu justru kembali menemukan maknanya. Bukan sekadar dipakai ulang, tetapi juga menjadi jembatan kepedulian bagi lingkungan dan sesama.
INNEKE AGUSTIN, Kanigaran, Radar Bromo
GAGASAN itulah yang dihidupkan oleh Paguyuban Pecinta Sampah (Papesa) Kota Probolinggo melalui program Barbekqu. Jangan bayangkan aroma daging yang dipanggang di atas bara api. Barbekqu merupakan akronim dari Barang Bekas BerQualitas, sebuah gerakan yang mengajak masyarakat melihat kembali nilai dari barang-barang yang masih layak digunakan.
Program tersebut sebenarnya telah berjalan sekitar sebulan terakhir. Namun, Papesa sengaja memilih momen car free day (CFD) di Alun-alun Kota Probolinggo, Minggu (19/7), sebagai ajang peluncuran resminya. Harapannya, gaung gerakan ini dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
Di antara keramaian warga yang berolahraga dan menikmati suasana pagi, sebuah stan sederhana dipenuhi aneka barang bekas yang tertata rapi.
Mulai dari peralatan elektronik, pakaian, celana, tas, hingga berbagai perlengkapan rumah tangga dipajang layaknya barang baru. Harganya pun ramah di kantong, berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu.
"Alhamdulillah, banyak ibu-ibu yang antusias berburu barang. Mereka senang karena masih layak pakai dengan harga yang sangat terjangkau," ujar Ketua Papesa Kota Probolinggo, Syaifudin.
Di balik setiap barang yang dipajang, tersimpan perjalanan panjang sebelum akhirnya sampai ke tangan pembeli.
Seluruh barang berasal dari para donatur yang dengan sukarela menyumbangkan barang-barang yang sudah tak lagi digunakan, tetapi masih memiliki nilai manfaat.
Untuk memastikan kualitasnya, Papesa membentuk tim khusus. Ada anggota yang bertugas menjemput barang dari rumah para donatur, ada yang memilah dan memeriksa kelayakan, hingga tim yang bertanggung jawab mempublikasikan kegiatan melalui media sosial.
Tak berhenti pada proses penyortiran. Barang-barang yang memerlukan sentuhan kecil pun diperbaiki terlebih dahulu. Pakaian yang sobek dijahit kembali, sepatu yang solnya terlepas direkatkan, sementara barang elektronik diperiksa agar tetap berfungsi dengan baik.
"Kami ingin memastikan barang yang dijual benar-benar masih layak digunakan. Kalau ada yang perlu dijahit atau diperbaiki sedikit, kami lakukan dulu sebelum dipasarkan," terang Udin.
Bagi Papesa, Barbekqu bukan semata aktivitas jual beli barang bekas. Gerakan ini menjadi cara sederhana untuk memperpanjang usia pakai suatu barang sekaligus menekan jumlah sampah yang berakhir di tempat pembuangan.
Setiap rupiah yang terkumpul pun tak berhenti sebagai keuntungan. Seluruh hasil penjualan kembali diputar untuk mendukung berbagai kegiatan sosial dan aksi pelestarian lingkungan yang dijalankan komunitas tersebut. Pada pelaksanaan perdananya, Barbekqu berhasil menghimpun lebih dari Rp 1 juta.
"Alhamdulillah, hasil sesi pertama sudah lebih dari Rp 1 juta. Nantinya dana itu kami gunakan lagi untuk kegiatan lingkungan dan sosial," katanya sembari tersenyum.
Meski demikian, perjalanan Barbekqu masih menghadapi tantangan. Jumlah donatur yang belum banyak membuat variasi barang yang tersedia masih terbatas. Karena itu, Papesa berupaya memperluas jangkauan melalui media sosial agar semakin banyak masyarakat yang ikut berpartisipasi.
"Harapannya semakin banyak donatur yang bergabung, semakin banyak pula barang yang bisa dimanfaatkan kembali. Dengan begitu, sampah yang dibuang ke lingkungan juga semakin berkurang," ujarnya.
Menariknya, semangat Barbekqu tidak berhenti di meja penjualan. Bersama BPBD Kota Probolinggo dan sejumlah mahasiswa, Papesa turut menyelipkan edukasi tentang pengelolaan sampah kepada para pengunjung CFD.
Pamflet-pamflet berisi ajakan menjaga lingkungan dibagikan dengan pendekatan yang ringan, menggunakan kalimat-kalimat jenaka dan bahasa yang akrab di telinga generasi masa kini.
"Kami ingin masyarakat tidak hanya datang untuk berbelanja. Mereka juga pulang membawa kesadaran bahwa barang bekas bukan berarti tak berharga, dan menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal-hal sederhana," pungkas Udin.
Di tengah derasnya arus budaya konsumtif, Barbekqu seolah menjadi pengingat bahwa setiap barang masih memiliki kesempatan untuk bercerita. Selama masih layak digunakan, ia tak seharusnya menjadi sampah. Sebab terkadang, yang dibutuhkan bukan barang baru, melainkan cara pandang baru untuk menghargai apa yang telah ada. (fun)
Editor : Abdul Wahid