Cerita Bank Sampah Asri Rejoso Sabet Juara INOPAMAS 2026 Kategori Milenial, Mudahkan Pencatatan Sampah secara Real Time

Iwan Andrik • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 06:06 WIB
BERNILAI: Tumpukan botol sampah yang bisa bernilai ketika diolah dengan benar. Kanan, keberadaan bank sampah Asri Rejoso yang berhasil sabet juara INOPAMAS 2026 Kategori Milenial. (Istimewa)
BERNILAI: Tumpukan botol sampah yang bisa bernilai ketika diolah dengan benar. Kanan, keberadaan bank sampah Asri Rejoso yang berhasil sabet juara INOPAMAS 2026 Kategori Milenial. (Istimewa)

Bagi sebagian orang, tumpukan kertas buram, botol plastik kosong, hingga minyak jelantah sisa dapur, hanyalah limbah tak berguna yang berakhir di tempat pembuangan. Namun, di tangan Laily Rochmatin dan komunitas milenial di Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, barang-barang tersebut menjelma menjadi saldo tabungan yang bernilai ekonomi, sekaligus penjaga kelestarian lingkungan.

FAHRIZAL FIRMANI, Rejoso, Radar Bromo

Melalui Bank Sampah Asri Rejoso yang didirikan sejak November 2024, Laily membawa misi besar. Yakni menyuntikkan kesadaran memilah sampah dari rumah.

Awalnya, jalan yang ditempuh tidak mudah. Seiring melonjaknya jumlah nasabah, sistem pencatatan manual dengan buku besar mulai kewalahan.

Potensi salah catat dan lambatnya administrasi, menjadi batu sandungan yang harus segera dipecahkan.

Bergerak cepat, pada April 2025, kelompok milenial ini melahirkan sebuah terobosan baru bernama Sari Asri Digital Hub.

Baca Juga: Tanpa Vendor, Inovasi SAKTI PLUS Diskominfo yang Dipelopori Ratna Widiawati Berbuah Juara

Inovasi platform digital ini, berhasil mengantarkan Bank Sampah Asri menyabet gelar juara dalam ajang INOPAMAS 2026 Kategori Milenial.

"Tujuannya untuk mendigitalisasi pengelolaan bank sampah, agar administrasi lebih cepat, transparan, dan efisien," ujar Laily Rochmatin, sang founder.

Lewat aplikasi satu pintu ini, transparansi menjadi kunci. Warga Rejoso kini bisa memantau saldo tabungan sampah mereka secara real-time langsung dari ponsel, tanpa perlu repot datang ke lokasi.

Platform ini juga memuat panduan lengkap mengenai 22 jenis sampah bernilai jual. Mulai dari kardus, botol bersih, hingga minyak jelantah.

Tantangan terbesar justru muncul dari faktor manusia. Mayoritas nasabah setia bank sampah, adalah ibu-ibu rumah tangga yang awalnya gagap teknologi.

Laily dan tim setianya, turun tangan memberikan pendampingan personal, agar para ibu ini terbiasa mengoperasikan aplikasi.

Kerja keras itu berbuah manis. Saat ini, Bank Sampah Asri telah merangkul 250 nasabah. Setiap dua pekan sekali saat gerai dibuka, mereka mampu menyerap hingga 200 kilogram sampah.

Jika diakumulasikan sejak berdiri, bank sampah ini telah berhasil menyelamatkan lingkungan dengan mengumpulkan total 11 ton sampah.

Hebatnya lagi, perputaran ekonomi tidak berhenti pada rantai jual-beli sampah kering semata.

Bank Sampah Asri kini telah naik kelas, dengan memproduksi lilin aroma terapi berbahan dasar minyak jelantah secara mandiri.

Produk ramah lingkungan hasil olahan hilir ini, bahkan sudah berhasil menembus pasar digital melalui marketplace.

Menatap masa depan, Laily tidak ingin cepat puas. Platform Sari Asri Digital Hub saat ini, sedang dikembangkan untuk menyematkan fitur kecerdasan buatan (AI) yang mampu mendeteksi jenis sampah secara otomatis, hanya lewat jepretan kamera.

"Inovasi ini bukan sekadar digitalisasi administrasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi dan meningkatkan kualitas pemilahan sampah sejak dari sumbernya," beber Laily optimis.

Di tangan generasi muda Rejoso, sampah kini bukan lagi masalah, melainkan berkah yang dikelola secara modern dan berkelanjutan. (one/*)

Editor : Jawanto Arifin
inovasi juara bank sampah Inopamas