Vanessa Callie, 11, gadis cilik asal Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo kembali mengukir prestasi. Dia baru saja meraih prestasi dari ajang Duta Anak Indonesia 2026. Di panggung nasional itu, dia memperkenalkan budaya, permainan tradisional, hingga keindahan Probolinggo kepada peserta dari berbagai penjuru Nusantara.
INNEKE AGUSTIN, Kanigaran, Radar Bromo
AJANG yang berlangsung pada 1–5 Juli itu menjadi pengalaman yang tak akan mudah dilupakan. Vanessa berhasil menyabet sejumlah penghargaan bergengsi.
Yakni Finalis Duta Anak Indonesia 2026, Best Charming, Duta Anak Indonesia Permainan Tradisional 2026, Nominasi Top 5 Best Video Profile, serta Nominasi Top 3 Best Video Permainan Tradisional.
Meski begitu, di balik pencapaian tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang penuh latihan dan pengorbanan.
Sang ibu, Yonatha Devi Anggraini, 40, menuturkan bahwa putri bungsunya terlebih dahulu mengikuti seleksi tingkat Jawa Timur sekitar dua bulan sebelum babak nasional digelar. Di tahap itu, Vanessa harus bersaing dengan ratusan peserta dari berbagai daerah.
Berbeda dengan tingkat provinsi, pada seleksi tingkat Kota Probolinggo tidak ada proses penyaringan karena Vanessa menjadi satu-satunya calon yang mendaftar. Otomatis, ia dipercaya mewakili daerahnya menuju seleksi provinsi.
"Di tingkat provinsi Vanessa diminta mengirimkan data diri, video catwalk, lalu mengikuti wawancara secara daring. Syukur Alhamdulillah, hasilnya lolos dan dipercaya menjadi wakil Jawa Timur di tingkat nasional," tutur Devi.
Lolos ke putaran nasional bukan berarti perjuangan selesai. Justru tantangan yang lebih besar menanti. Selama dua bulan, Vanessa rutin mengikuti pembekalan setiap akhir pekan di Surabaya bersama tim Duta Anak Jawa Timur.
Sedikitnya lima kali pertemuan ia jalani. Di sana, Vanessa belajar berbagai hal, mulai dari teknik catwalk, public speaking, etika tampil di depan publik, hingga membangun rasa percaya diri sebagai representasi anak Indonesia.
"Semua dipelajari. Tidak hanya bagaimana berjalan di atas panggung, tetapi juga bagaimana berbicara dan menyampaikan gagasan dengan baik di depan banyak orang," ujar Devi.
Tak hanya kemampuan berbicara, kreativitas para finalis juga diuji. Setiap peserta diwajibkan mengenakan busana adat yang merepresentasikan daerah asal masing-masing saat malam final.
Vanessa memilih mengenakan Batik Lintang Samudra dan Etnika Probolinggo rancangan sang kakak, Candida Adellia Adele.
Balutan batik bernuansa merah bertema budaya Pandalungan dipadukan dengan kebaya dan kerudung yang anggun, membuat penampilannya memancarkan pesona khas perempuan Jawa Timur sekaligus memperkenalkan identitas budaya Kota Probolinggo kepada peserta dari seluruh Indonesia.
Selain itu, setiap finalis juga diminta membuat video profil yang memperkenalkan kepribadian sekaligus potensi wisata daerah asal. Bersama keluarga, Vanessa mengambil gambar di sejumlah destinasi ikonik Probolinggo, termasuk hamparan lanskap Gunung Bromo yang memesona.
"Harapannya bukan hanya memperkenalkan Vanessa, tetapi juga mengenalkan Probolinggo agar semakin dikenal masyarakat Indonesia," kata Devi.
Tak berhenti di situ, Vanessa juga membuat kampanye video anti-bullying dan memperkenalkan permainan tradisional. Ia memilih permainan tali karet karena dinilai sederhana, akrab, dan masih sering dimainkan anak-anak hingga sekarang.
Seluruh video kemudian diunggah melalui media sosial resmi Duta Anak Indonesia 2026 untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Jumlah tanda suka menjadi salah satu komponen penilaian.
Walau dukungan di media sosial belum maksimal, Vanessa tak membiarkan hal itu mengurangi semangatnya. "Tentu kami berharap dukungan lebih banyak. Tetapi Vanessa tetap fokus memberikan penampilan terbaik selama karantina," ungkap Devi.
Selama masa karantina, hari-hari Vanessa dipenuhi berbagai aktivitas. Ia berlatih koreografi, mengikuti city tour sembari mempelajari sejarah berbagai tempat yang dikunjungi, mengasah kemampuan public speaking, hingga mempersiapkan penampilan bakat.
Di hadapan dewan juri, Vanessa menampilkan modern dance yang memang telah lama menjadi bidang yang digelutinya. Ia juga mengikuti sesi wawancara mengenai kehidupan sehari-hari, cita-cita, hingga pandangannya sebagai seorang anak Indonesia.
Bagi Devi, pencapaian putrinya bukan semata soal piala ataupun gelar yang berhasil diraih. Lebih dari itu, ajang tersebut mengajarkan arti persaudaraan. Di tengah ratusan peserta dari berbagai provinsi, tak ada sekat yang membatasi. Mereka saling menyemangati, saling membantu, bahkan saling bangga ketika salah satu peserta tampil di atas panggung.
"Kami datang hanya bertiga, sementara ada daerah yang membawa satu bus penuh pendukung. Tetapi mereka tetap ikut menyemangati Vanessa. Mereka berteriak, 'Semangat Jawa Timur'. Momen itu benar-benar membuat kami terharu," kenang Devi. (fun)
Editor : Moch Vikry Romadhoni