Dulu, Laily Maulidiana Aprilya hanya ikut bermain woodball agar bisa jalan-jalan gratis. Siapa sangka, pilihan sederhana itu justru mengubah arah hidupnya. Kini dia resmi menjadi bagian dari Tim Nasional Indonesia Woodball Association (IWBA) dan bersiap tampil pada 10th World Cup Woodball Championship di Malaysia.
ARIF MASHUDI, Paiton, Radar Bromo
Perjalanan gadis kelahiran Probolinggo, 9 April 2006, itu dimulai pada awal 2023. Saat itu, pengurus IWBA Kabupaten Probolinggo baru saja berdiri. Jumlah atlet yang bergabung pun masih sangat sedikit.
Laily menjadi salah satu atlet pertama yang ikut membangun olahraga tersebut di Kabupaten Probolinggo. Termasuk dua rekannya, Agil Rahmatullah dan Rhenata Dwi Sucahyo yang sampai sekarang masih bertahan berjuang untuk IWBA Kabupaten Probolinggo.
"Waktu awal berdiri, atletnya bisa dihitung jari. Hanya ada beberapa orang, termasuk saya dan dua teman saya,” kenang warga Dusun Sekar RT 007/RW 003, Desa Sumberanyar, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, itu.
Alasan Laily bergabung saat itu bukan karena dia sudah mengenal olahraga tersebut secara mendalam. Awalnya, ia hanya ingin melihat temannya bertanding. Sekaligus berharap bisa memperoleh kesempatan bepergian tanpa mengeluarkan biaya.
Dari niat sederhana itu, Laily mulai mengenal woodball. Semakin sering berlatih, semakin besar kecintaannya terhadap olahraga yang menggunakan bola kayu dan gawang kecil (gate) tersebut.
Mahasiswi Universitas Insan Budi Utomo Surabaya itu kemudian menemukan bahwa woodball bukan hanya mengajarkannya teknik bermain. Lebih dari itu, olahraga tersebut membentuk kepribadiannya.
"Woodball mengajarkan saya bersabar, teliti, percaya diri, dan mengambil keputusan yang sangat tepat. Efeknya terasa dalam kehidupan sehari-hari. Saya yang awalnya tidak sabaran menjadi lebih sabar dan yang dulunya ceroboh kini menjadi sangat teliti," urai bungsu dari dua bersaudara tersebut.
Perjalanan mengejar prestasi ternyata tidak selalu berjalan mulus. Di saat semangatnya tumbuh untuk menjadi atlet, Laily justru harus menghadapi ujian dari keluarganya.
Ayahnya Jupriadi yang memiliki latar belakang sebagai pemain voli, sangat berharap putrinya mengikuti jejaknya. Pilihan Laily menekuni woodball sempat mendapat penolakan keras.
Penolakan itu membuat hubungan ayah dan anak tersebut merenggang. Mereka bahkan sempat mengalami "perang dingin" hingga tidak saling bertegur sapa.
Cobaan terberat datang ketika Laily harus mengikuti kejuaraan di Sidoarjo dan Mojokerto selama empat hari. Saat itu, ia berangkat tanpa restu dan tanpa dukungan finansial dari sang ayah. Bekal yang dibawanya hanya sisa uang saku sekolah yang nilainya tidak sampai Rp 100 ribu.
Di sisi lain, klub mewajibkan atlet membayar biaya pendaftaran secara mandiri. Demi tetap bisa bertanding, Laily menggunakan uang yang seharusnya menjadi jatah makan dari ibunya untuk membayar biaya tersebut.
"Itu momen paling menyedihkan buat saya. Saya harus serba mencukup-cukupkan uang yang sangat minim itu selama empat hari di luar kota," kenangnya emosional.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, Laily tidak menyerah. Ia terus berlatih dan mengikuti berbagai kejuaraan. Satu per satu prestasi mulai diraih. Piala demi piala berhasil dibawa pulang.
Perjuangan dan konsistensinya di lapangan akhirnya mengubah pandangan sang ayah. Melihat kesungguhan putrinya, Jupriadi yang sebelumnya menolak justru berbalik menjadi pendukung terbesar Laily.
Bahkan, ia langsung membelikan mallet woodball terbaik agar putrinya bisa tampil maksimal dalam setiap pertandingan. Dukungan keluarga yang kini telah utuh menjadi salah satu kekuatan terbesar Laily untuk terus berkembang.
Sederat prestasi gemilang diraihnya. Meraih satu perunggu nomor Single Stroke di Jatim Open 2023; satu emas nomor Team Fairway dan satu perunggu nomor Mix di Kejurprov Sidoarjo 2023; satu perunggu nomor Single Stroke Piala KONI Surakarta 2024; satu perak nomor Single Stroke di Kejuaraan Woodball Bangkalan.
Lalu satu perak nomor Single Stroke dan satu perunggu Double Stroke di Probolinggo Woodball Championship; satu perunggu nomor Single Stroke dan satu perak Team Fairway di Banyuwangi Championship; satu perak nomor Team Stroke KU 18 dan satu perunggu Team Stroke Senior di Kejuaraan Koni Klaten; dan satu perak nomor Single Fairway Senior di Bupati Cup Probolinggo Open.
Selanjutnya, satu perak nomor Single Stroke di Kejurprov Malang 2025; satu emas nomor Single Stroke dan satu perak Mix Fairway di Situbondo Woodball Challenge 3; satu perak nomor Single Stroke dan satu perunggu Doble Stroke di Semangat Pagi Competition Jatim 2026.
Kemudian, satu perak nomor Mix Fairway di Kejurprov Tulungagung; satu perunggu nomor Single Stroke di Jatim Open 2026; satu emas nomor Single Stroke dan satu emas Team Stroke di Kejurnas Jakarta 2026. Dan masuk peringkat 7 Mix Fairway.
Selain keluarga, Laily juga menemukan keluarga baru di IWBA Kabupaten Probolinggo. Baginya, tim bukan hanya tempat berlatih, tetapi juga tempat berbagi perjuangan.
Mereka merasakan kemenangan bersama, mengalami kegagalan bersama, merayakan kebahagiaan bersama. Bahkan, saling menguatkan ketika harus menangis bersama.
Semangat itulah yang terus dibawa Laily. Hingga akhirnya mampu menembus persaingan ketat dan masuk ke dalam skuad elite Tim Nasional Indonesia Woodball Association (IWBA).
Kini Laily bersiap membawa nama Indonesia dan Kabupaten Probolinggo di ajang dunia. Bekal ketahanan fisik, ketelitian, kekuatan mental, pengalaman bertanding, serta restu penuh dari keluarga menjadi penguatnya.
"Saya mengikuti TC di Sidoarjo mulai 17 sampai 22 Juli untuk persiapan 10th World Cup Woodball Championship di Malaysia. Setelah itu berangkat ke Jakarta untuk kumpul dengan teman-teman yang lain. Lalu tanggal 24 berangkat ke Malaysia," terangnya.
Pelatih Woodball Kabupaten Probolinggo Nur Huda mengaku sudah melihat potensi besar Laily sejak pertama kali bergabung. Menurutnya, kemampuan Laily berkembang bukan hanya karena mengikuti jadwal latihan dari pelatih. Dia juga memiliki inisiatif tinggi untuk terus meningkatkan kemampuannya.
"Laily sering berlatih sendiri sepulang sekolah. Apalagi menjelang pertandingan selalu ke lapangan dan mengajak teman-temannya untuk berlatih tambahan," terangnya.
Semangat itu terlihat menonjol. Sebab, jarak dari rumah Laily di Paiton menuju lapangan latihan di Kadungcaluk, Kecamatan Krejengan, tergolong cukup jauh. Namun Laily hampir tidak pernah absen berlatih.
Tidak hanya disiplin terhadap dirinya sendiri. Ia juga kerap menjadi pemimpin bagi rekan-rekannya saat mengikuti kejuaraan. Huda menilai Laily memiliki karakter yang selalu ingin berkembang.
"Laily lebih keras lagi untuk berlatih atau disiplin karena lawannya sedang tidak tidur untuk mengalahkannya," terangnya.
Selain disiplin, ketenangan menjadi keunggulan lain yang dimiliki Laily ketika bertanding. Ini sangat penting. Sebab, woodball adalah permainan individu.
“Saat tenang, maka ayunan mallet atau stik terkontrol dengan baik. Mohon doanya, semoga Laily dapat emas dalam ajang 10th World Cup Woodball Championship di Malaysia," terangnya.
Kini, gadis yang dahulu mengenal woodball karena ingin "jalan-jalan gratis" itu telah berdiri sejajar dengan atlet-atlet terbaik Indonesia. Perjalanannya dimulai dari rasa penasaran, ditempa oleh keterbatasan, diuji oleh penolakan keluarga, dan dibuktikan lewat kerja keras. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi