Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Dinginnya Tretes saat Bediding Membuat Wisatawan Berdatangan, Petani Waspada

Muhamad Busthomi • Jumat, 17 Juli 2026 | 15:48 WIB

 

BEDIDING: Deretan wisata kuliner di kawasan Tretes, Prigen, Kabupaten Pasuruan. Kawasan Tretes masuk wilayah terdingin kedua di Jawa Timur saat musim Bediding. (M Busthomi/ Radar Bromo)
BEDIDING: Deretan wisata kuliner di kawasan Tretes, Prigen, Kabupaten Pasuruan. Kawasan Tretes masuk wilayah terdingin kedua di Jawa Timur saat musim Bediding. (M Busthomi/ Radar Bromo)

 

Angka itu kecil. Tapi dampaknya tidak. Pada 13 Juli 2026, Stasiun Geofisika Pasuruan mencatat suhu minimum Tretes menyentuh 13,6 derajat Celsius. Menempatkannya sebagai wilayah terdingin kedua di Jawa Timur. Hanya kalah dari kawasan Gunung Bromo.

 M. BUSTHOMI, Prigen, Radar Bromo

Di kawasan wisata Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, dingin adalah magnet. Sejak kabar suhu rendah ramai diperbincangkan di media sosial, deretan kafe dan penginapan di lereng Arjuno-Welirang semakin ramai.

Menjelang petang, embun sudah membasahi kaca-kaca warung kopi dan beranda vila. Aroma kopi hitam, jagung bakar, dan wedang jahe bercampur dengan udara pegunungan yang menusuk kulit.

Rina, wisatawan asal Surabaya, sengaja datang lebih awal bersama keluarganya, Sabtu (11/7). Ia ingin menutup libur panjang sekolah.

“Memang sengaja datang karena penasaran. Rasanya beda dibanding di Surabaya. Minum kopi jadi lebih nikmat kalau udaranya begini,” ujarnya.

Baca Juga: Brrrr…… Bromo Jadi Kawasan Terdingin di Jatim, Tretes Nomor Dua: Ini Daftar Wilayah Terdingin Jatim Versi BMKG

Di sepanjang jalan utama, semangkuk mi rebus dan kopi panas menjadi menu yang paling banyak dipesan. Bagi warga yang menetap, dingin adalah keseharian yang perlu disiasati.

Riko Hardiansyah, warga setempat mengaku sudah terbiasa. Tapi kali ini, ia harus memanaskan air sebelum anak-anaknya mandi dan memulai sekolah di hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang.

“Kalau pagi airnya dingin sekali. Tapi kami senang karena banyak wisatawan datang. Warung-warung juga jadi lebih ramai,” katanya.

Di lereng pegunungan, para petani menghadapi cerita yang berbeda. Embun yang menempel pada daun tanaman bukan sekadar pemandangan indah di pagi hari. Ia bisa menjadi ancaman.

Baca Juga: Buron Penembakan Airsoft Gun di Wilayah Tretes Prigen Pasuruan Akhirnya Diringkus saat Bersembunyi di Rumah Istri Sirinya

“Suhu dingin membuat daun menjadi basah karena tertutup embun. Kondisi itu dapat memengaruhi proses pernapasan tanaman, sehingga berpotensi menyebabkan daun layu. Terutama pada tanaman hortikultura di lereng pegunungan,” jelas Prakirawan Stasiun Meteorologi Juanda Sidoarjo Rendy Irawadi.

Ia menjelaskan, suhu rendah di Tretes dipengaruhi kombinasi beberapa faktor. Musim kemarau membuat kelembapan udara menurun dan tutupan awan berkurang. Sehingga pada malam hingga dini hari, panas permukaan bumi lebih mudah lepas ke atmosfer.

“Tretes berada di wilayah yang lebih tinggi sehingga proses pendinginan berlangsung lebih cepat. Itulah yang menyebabkan suhu minimum bisa mencapai sekitar 13 hingga 14 derajat Celsius,” jelasnya.

Kondisi ini mulai terasa sejak Juni dan diperkirakan mencapai puncaknya Juli hingga Agustus sebelum perlahan mereda. BMKG pun mengimbau pengunjung kawasan pegunungan menyiapkan pakaian hangat dan menjaga kondisi tubuh. Perbedaan suhu antara dini hari dan siang cukup besar dan berpotensi memengaruhi kesehatan.

Menjelang malam, kabut kembali turun menutupi perbukitan. Lampu-lampu vila menyala satu per satu. Uap dari kopi masih mengepul di tangan para pengunjung.

Tretes, 13,6 derajat. Bagi wisatawan, itu alasan untuk datang. Bagi warga, itu rutinitas. Bagi petani di lereng pegunungan, itu sesuatu yang perlu diwaspadai. (hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
bmkg bediding pasuruan prigen tretes