Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cerita Ana Farida, Juara Terbaik III Festival Qiro’ati Nasional 2026 asal Probolinggo

Muhammad Fahmi • Kamis, 16 Juli 2026 | 18:56 WIB
Ana Farida berpose bareng trofi yang diraihnya. (Arif Mashudi/ Radar Bromo)
Ana Farida berpose bareng trofi yang diraihnya. (Arif Mashudi/ Radar Bromo)

 

Di saat sebagian besar anak seusianya masih asyik bermain, Ana Farida justru akrab dengan lantunan ayat-ayat Alquran. Kebiasaan yang ditanamkan sejak usia 1,5 tahun itu mengantarkannya menjadi Juara Terbaik III Festival Qiro'ati Nasional 2026.

ARIF MASHUDI, Kanigaran – Radar Bromo

Setiap pagi dan sore, Ana Farida diantar kedua orang tuanya menuju TPQ An-Nur di Sumbertaman, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo. Jarak dengan rumahnya di Jalan KH Hasan Gang Bayusari 9, Kebonsari Wetan, Kecamatan Kanigaran, sebenarnya tidak dekat. Namun hal itu tak pernah menjadi alasan bagi keluarganya untuk berhenti mengantar Ana mengaji.

Bahkan, ketika libur panjang sekolah, Ana tidak pernah melewatkan hari tanpa mengaji. Di usianya yang belum genap 6 tahun, jadwal belajarnya tetap berjalan seperti biasa. Pagi dan sore mengaji di TPQ. Malam hari selepas magrib, murojaah atau mengulang hafalan di rumah.

Rutinitas itulah yang akhirnya mengantarkan santri TPQ An-Nur Sumbertaman tersebut menorehkan prestasi membanggakan. Meraih  Juara Terbaik III Festival Qiro'ati Nasional 2026 Kategori Hafidz A yang digelar di Hotel Gracia, Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (4/7). Kategori A adalah kategori untuk santri berusia di bawah 7 tahun.

Afifah, ibu Ana mengaku bersyukur sekaligus bangga atas pencapaian putri sulungnya. Menurut Afif–panggilannya–keberhasilan Ana bukan hanya soal meraih piala. Namun juga buah dari proses belajar yang dimulai sejak usia sangat dini.

Kini di usia yang belum genap 6 tahun, Ana telah menghafal tiga juz Aquran. Yakni, juz 30, juz 1, dan juz 2. Bahkan, hafalan juz 3 hampir selesai.

"Usia anak belum genap 6 tahun. Tapi waktu Festival Qiro’ati Nasional di Semarang dia ikut kategori Hafidz A, yaitu untuk santri usia maksimal 7 tahun. Bagi kami, itu sudah luar biasa. Sebab dia bersaing dengan santri dari semua daerah yang usia 7 tahun,” kata Afif.

Namun, perjalanan menuju panggung nasional tidaklah singkat. Pada awal 2026, Ana lebih dulu mengikuti seleksi di tingkat TPQ. Saat itu, ia sudah menyandang predikat Wisuda Khotmil Quran di usia 5 tahun.

Prestasi tersebut membuat TPQ tempatnya belajar memilih Ana mengikuti seleksi santri hafiz tingkat Probolinggo. Di ajang itu, Ana harus bersaing dengan santri dari berbagai TPQ di Kota dan Kabupaten Probolinggo.

"Beberapa bulan kemarin ikut seleksi hafiz kategori usia maksimal 7 tahun. Waktu itu santri yang ikut tes seleksi di tingkat Probolinggo Raya banyak. Alhamdulillah, Ana juara pertama dan mewakili Probolinggo Raya untuk mengikuti Festival Qiro’ati Nasional," terangnya.

Festival Qiro'ati Nasional 2026 mempertemukan ratusan santri terbaik dari berbagai daerah di Indonesia. Probolinggo Raya mengirim delapan santri terbaik untuk mengikuti berbagai kategori lomba. Mulai Hafidz A putri, Tartil A putra-putri, Tartil B putra-putri, hingga CCQ (Cerdas Cermat Qiro'ati). Dari delapan wakil tersebut, hanya Ana yang berhasil membawa pulang piala.

"Juara Festival Qiro’ati Nasional hanya dipilih terbaik I, II, dan III. Alhamdulillah, Ana menjadi juara terbaik III. Satu-satunya dari Probolinggo yang dapat juara," ujarnya.

Prestasi itu ternyata dibangun dari kebiasaan yang dimulai ketika Ana bahkan belum mengenal huruf hijaiah. Sejak usia 1,5 tahun, Ana mulai dikenalkan dengan Asmaul Husna. Setelah itu, ia dibiasakan mendengarkan dan menghafal surat-surat pendek dalam juz 30.

Belajar mengaji dengan metode Qiro'ati baru dimulai ketika usianya menginjak 3 tahun kurang satu bulan.

"Kalau belajar mengajinya mulai usai 3 tahun kurang 1 bulan. Tapi usia 1,5 tahun sudah diajari hafalan Asmaul Husna dan surat-surat pendek," ungkapnya.

Seiring bertambahnya usia, kemampuan Ana terus berkembang. Ia mulai lancar membaca Alquran. Kemudian memperkuat hafalan juz 30 sebelum melanjutkan hafalan juz 1 dan juz 2.

Di balik perkembangan itu, kedua orang tuanya dengan sabar mengantar dan menjemput Ana mengaji setiap hari. Sebab, lokasi rumah mereka cukup jauh dari TPQ.

Rutinitas itu berlangsung tanpa jeda. Pagi dan sore Ana belajar di TPQ. Ketika malam, setelah salat Magrib, waktunya digunakan untuk murojaah.

Meski demikian, perjalanan menghafal Alquran bukan berarti mulus. Afif menyadari, Ana tetaplah anak kecil yang ingin bermain seperti teman-teman seusianya.

Karena itu, ia tidak pernah melarang putrinya bermain. Hanya saja, ketika waktu belajar tiba, Ana tetap harus kembali mengulang hafalan. Tentu saja, ada kalanya semangat Ana surut.

“Saat anaknya bosan atau males, murojaah jadi tidak semangat. Setoran hafalan pun sulit," katanya.

Bagi keluarga kecil itu, prestasi Ana bukan sekadar tentang menjadi juara nasional. Namun menjadi bukti bahwa ketelatenan, kesabaran, dan kebiasaan baik yang ditanamkan sejak usia dini mampu mengantarkan seorang anak melampaui usianya.  (hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
festival qiroati nasional Kebonsari Wetan alquran probolinggo