Fenomena bediding masih berlangsung di Jawa Timur. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), suhu udara di sejumlah daerah bahkan kembali turun. Kawasan Bromo, Kabupaten Probolinggo, jadi wilayah dengan suhu minimum terendah. Mencapai 5,0 derajat Celsius.
INNEKE AGUSTIN, Sukapura, Radar Bromo.
Beberapa hari terakhir, udara di kawasan Gunung Bromo memang terasa jauh lebih menggigit dari biasanya. Berdasarkan data BMKG periode pengamatan 9 Juli 2026 pukul 07.01 hingga 10 Juli 2026 pukul 07.00, kawasan Bromo mencatat suhu minimum 5,6 derajat Celsius. Lalu, hingga periode 12 Juli bahkan turun lagi menjadi 5,0 derajat.
BMKG menjelaskan, suhu dingin ini merupakan bagian dari fenomena bediding. Langit yang nyaris tanpa awan membuat panas bumi lepas begitu cepat ke atmosfer pada malam hari.
Sementara angin muson timur yang bertiup dari daratan Australia membawa massa udara kering dan dingin ke Pulau Jawa. Perpaduan keduanya membuat malam-malam di Bromo terasa begitu menusuk tulang.
Namun bagi warga Desa Ngadisari, desa tertinggi di Kecamatan Sukapura yang sekaligus pintu masuk menuju Gunung Bromo, hawa dingin bukanlah hal yang mengejutkan. Ia telah menjadi sahabat lama yang datang setiap pertengahan tahun.
Budi Setyo Waluyo, 40, tersenyum ketika menceritakan bagaimana warga Tengger memandang musim dingin. Pada siang hari, kata dia, suhu di Ngadisari umumnya sekitar 13–14 derajat Celsius. Ketika malam turun, udara bisa merosot menjadi 4 - 5 derajat Celsius.
Sementara di lautan pasir, suhunya dapat mencapai nol derajat. Sehingga embun berubah menjadi kristal es tipis.
"Kalau di lautan pasir memang bisa sampai nol derajat. Makanya muncul Banyu Pas atau warga menyebut embun Upas," ujarnya.
Warga setempat pun beraktivitas seperti biasa, walaupun suhu udara terasa membekukan tulang. Kebun tetap didatangi, ladang tetap diolah, dan kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Pengalaman turun-temurun membuat mereka memahami kapan alam sedang bersahabat dan kapan harus menyesuaikan diri.
"Sejak zaman nenek moyang memang begini. Kalau Juli ya pasti dingin. Kami sudah biasa," katanya.
Pengalaman itu menimbulkan kearifan yang tercermin dari pilihan tanaman selama suhu dingin. Saat hawa dingin mulai menyelimuti lereng Bromo, sebagian besar petani menanam bawang prei. Sebab, tanaman ini lebih tahan terhadap suhu rendah dibanding kentang yang rentan mati setelah terselimuti embun beku.
"Kalau dingin seperti ini biasanya tanam bawang prei. Kentang jarang karena kalau terkena embun beku sering mati dan hasilnya tidak maksimal," jelas Budi.
Dingin juga menghadirkan kebiasaan-kebiasaan sederhana yang terasa hangat. Jika dahulu warga mengandalkan kayu bakar untuk mengusir hawa beku, kini sebagian besar rumah telah menggunakan kompor gas maupun kompor listrik. Meski demikian, dapur tetap menjadi ruang paling akrab ketika udara mulai menusuk.
Di sanalah keluarga berkumpul, secangkir kopi diseduh, dan tamu yang datang biasanya dipersilakan mendekat agar tubuhnya kembali hangat. "Makanya kalau ada tamu sering diajak ke dapur dulu supaya hangat," ucapnya.
Kepala Desa Ngadisari Sunaryono mengatakan, suhu ekstrem tidak pernah menghentikan denyut kehidupan masyarakat Tengger. Aktivitas sehari-hari tetap berjalan. Termasuk persiapan berbagai ritual adat dan keagamaan. Seperti Kasada, maupun Karo yang akan digelar pada Agustus mendatang.
"Kami tetap menjalankan adat istiadat leluhur kami. Hanya saja ada beberapa tanaman yang biasanya dihindari warga ketika cuaca ekstrem. Warga sudah tahu tanaman apa yang cocok. Kalau terlalu dingin biasanya tidak menanam kentang karena mudah rusak terkena embun," terangnya.
Sementara bagi wisatawan, dinginnya Bromo justru menjadi undangan yang sulit ditolak. Hamparan embun Upas menjadi pemandangan yang diburu para pemburu foto, maupun pencinta alam. Mereka rela berangkat dini hari demi menyaksikan embun yang berubah menjadi kristal putih sebelum matahari mencairkannya.
Pengemudi jip wisata, Umam, 35, mengaku fenomena itu selalu mendatangkan tamu dari berbagai daerah. Bahkan ada wisatawan yang sengaja kembali ke Bromo setelah tahun lalu gagal menyaksikan Upas.
"Ada pelanggan yang datang lagi tahun ini karena tahun lalu tidak sempat melihat Upas. Alhamdulillah sekarang bisa melihat langsung," katanya.
Menurut Umam, lokasi favorit menikmati upas berada di bawah Bukit Mentigen. Namun waktu untuk menikmatinya sangat singkat.
Fenomena itu umumnya hanya bertahan pukul 05.00 hingga 06.00. Ketika sinar matahari mulai menyentuh permukaan tanah, kristal-kristal putih itu perlahan berubah kembali menjadi tetesan air.
Karena itu, wisatawan harus menentukan pilihan. Mengejar matahari terbit atau berburu Upas. Keduanya memang bisa dinikmati sekaligus, tetapi membutuhkan perhitungan waktu yang tepat.
"Kalau mau dua-duanya harus dari Bukit Mentigen supaya tidak terlalu jauh. Kalau tidak ya langsung berburu Upas saja," ujarnya.
Musim dingin tahun ini, menurut Umam, sudah terasa sejak sekitar dua pekan terakhir. Bersamaan dengan masa libur sekolah, jumlah wisatawan yang datang pun melonjak tajam. Pesanan jip wisata bahkan meningkat hingga lipat dua dibanding hari-hari biasa.
"Biasanya seminggu paling ramai saat akhir pekan. Sekarang hampir setiap hari ada tamu," tuturnya.
Umam pun tak pernah lupa mengingatkan setiap wisatawan agar mengenakan jaket tebal, penutup kepala, dan sarung tangan sebelum berangkat. Sebab, suhu Bromo bisa mengejutkan siapa saja yang belum terbiasa.
Namun sesampainya di lautan pasir, rasa dingin itu perlahan seakan terlupakan. Keindahan lanskap Bromo, semburat cahaya pagi, dan kilau tipis Banyu Pas mampu mengalihkan perhatian siapa pun yang datang.
Di sanalah Bromo menunjukkan wajahnya yang paling puitis. Alam memang menghadirkan dingin yang menggigit, tetapi justru dari dingin itulah lahir kehangatan: dari dapur-dapur sederhana warga Tengger, dari tawa wisatawan yang terpukau, hingga dari embun yang sesaat berubah menjadi kristal sebelum akhirnya kembali menjadi air. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi