Di sebuah warung sederhana bernama Robokop, tepat di samping Museum Probolinggo, aroma kopi hitam mengepul dari gelas-gelas yang tersaji di atas meja kayu. Di tempat itu, tak ada sekat antara polisi dengan pengemudi ojek online (ojol). Obrolan ringan dan tawa yang mengalir serta secangkir kopi, mencairkan jarak.
INNEKE AGUSTIN, Probolinggo, Radar Bromo
DI sudut warung itu, polisi dan para pengemudi ojek online duduk berdampingan. Mereka tidak sedang membahas tilang ataupun pelanggaran lalu lintas. Mereka sedang berbicara tentang keselamatan, keamanan, dan bagaimana menjaga Kota Probolinggo tetap menjadi rumah yang nyaman bagi siapa saja.
Inilah wajah lain kepolisian. Wajah yang memilih mendengar sebelum berbicara, merangkul sebelum memerintah. Program itu diberi nama Ojol Kamtibmas.
Sejak awal 2026, Satlantas Polres Probolinggo Kota menggandeng komunitas ojol Driver Probolinggo Raya (DPR) sebagai mitra menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Sebuah langkah sederhana, namun berdampak besar.
Bagi polisi, para pengemudi ojek online adalah "CCTV berjalan". Mereka hadir hampir di setiap sudut kota, menyusuri gang-gang kecil hingga jalan protokol, dari pagi hingga larut malam. Tidak banyak mata yang mampu melihat Kota Probolinggo seluas mereka.
Kanit Kamsel Satlantas Polres Probolinggo Kota, Aiptu Eko Juliavianto mengatakan, kedekatan itu dibangun bukan melalui rapat formal, melainkan lewat komunikasi yang hangat. "Awalnya mereka masih malu-malu. Masih ada rasa canggung. Tapi setelah sering bertemu dan ngopi bersama, kami menjadi akrab. Sekarang mereka tidak sungkan berbagi informasi kepada kami," ujarnya.
Hubungan itu tumbuh perlahan, seperti kopi yang semakin nikmat setelah diseduh. Kini, lebih dari 500 pengemudi ojol yang tergabung dalam grup WhatsApp menjadi perpanjangan mata dan telinga kepolisian.
Setiap informasi yang mereka temukan langsung dibagikan secara real time. Mulai dari kecelakaan lalu lintas, aksi kriminalitas, dugaan begal, orang dengan gangguan kejiwaan yang tersesat, hingga anak kecil yang terpisah dari orang tuanya.
Tidak sedikit pula laporan mengenai kendaraan mogok, pohon tumbang, atau kondisi jalan yang membahayakan pengguna jalan.
Bagi polisi, informasi itu menjadi alarm dini. Bagi masyarakat, kecepatan informasi berarti pertolongan datang lebih cepat. "Semua informasi dibagikan di grup. Jadi kami bisa segera memantau kondisi wilayah sekaligus mengambil langkah penanganan," kata Eko.
Di sela obrolan santai, Eko juga menitipkan pesan-pesan sederhana tentang keselamatan berkendara. Menggunakan helm berstandar SNI, memastikan kondisi ban dan rem sebelum bekerja, membawa surat kendaraan, hingga mengingatkan agar penumpang juga mengenakan helm. Pesan-pesan itu kemudian diteruskan para pengemudi kepada setiap penumpang yang mereka antar.
Tanpa disadari, edukasi keselamatan itu menyebar dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya. Di balik profesinya sebagai pengemudi, mereka pun menjadi penyampai pesan keselamatan.
Kedekatan yang terjalin itu ternyata melampaui urusan lalu lintas. Sering kali para pengemudi juga memanfaatkan momen ngopi untuk berkonsultasi mengenai persoalan hukum, berdiskusi tentang kondisi sosial di lingkungan sekitar, bahkan membahas isu nasional yang sedang ramai diperbincangkan.
Seperti momen yang paling membekas terjadi ketika kabar duka datang dari Jakarta. Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online, meninggal dunia setelah terlibat kecelakaan dengan kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan.
Peristiwa itu sempat memicu gelombang emosi di berbagai daerah. Namun suasana berbeda justru terlihat di Kota Probolinggo.
Alih-alih turun ke jalan untuk berdemonstrasi, polisi dan komunitas ojol memilih duduk bersama di halaman Museum Probolinggo.
Sore itu, mereka menundukkan kepala. Tak ada teriakan. Tak ada amarah. Yang terdengar hanyalah doa yang dipanjatkan bersama untuk almarhum.
Sekretaris komunitas ojol Driver Probolinggo Raya (DPR), Djunaidi, 50 mengaku kebersamaan yang selama ini terjalin dengan kepolisian membuat para pengemudi memilih menyikapi setiap persoalan dengan kepala dingin.
Baginya, menjaga suasana tetap teduh merupakan bagian dari ikhtiar bersama agar Kota Probolinggo tetap menjadi tempat yang aman bagi seluruh masyarakat.
Menurut warga Kecamatan Mayangan itu, ketika situasi keamanan terganggu, dampaknya akan dirasakan oleh semua pihak. Aktivitas masyarakat menjadi kurang nyaman, roda perekonomian melambat, dan para pengemudi ojek online yang menggantungkan penghasilan di jalan pun ikut merasakan imbasnya.
"Kalau kota aman dan masyarakat merasa nyaman beraktivitas, kami juga ikut merasakan manfaatnya. Karena itu, saat ada musibah, kami memilih berkumpul dan mendoakan almarhum. Bagi kami, doa adalah bentuk empati sekaligus penghormatan yang paling tulus," ujarnya.
Djunaidi berharap masyarakat dapat menyikapi setiap peristiwa secara arif dan proporsional. Menurutnya, kesalahan yang dilakukan oleh segelintir oknum tentu harus diproses sesuai ketentuan hukum. Namun, hal itu tidak semestinya menghapus begitu saja berbagai ikhtiar dan pengabdian aparat lain yang selama ini telah bekerja dengan tulus melayani masyarakat.
"Setiap kesalahan tentu harus dipertanggungjawabkan. Tetapi kami juga berharap jangan sampai perbuatan segelintir oknum membuat kita menutup mata terhadap banyaknya anggota yang setiap hari bekerja dengan baik, melayani, dan membantu masyarakat. Selama kami bermitra melalui program Ojol Kamtibmas, kami merasakan sendiri bagaimana polisi di Probolinggo terbuka untuk berdiskusi, melibatkan kami dalam menjaga keamanan, serta cepat merespons setiap laporan dari warga. Nilai-nilai baik seperti itulah yang menurut kami perlu terus dijaga dan dirawat bersama," tuturnya.
Kapolres Probolinggo Kota, AKBP Rico Yumasri mengaku hubungan yang terjalin dengan komunitas ojol menjadi salah satu bentuk nyata kemitraan antara kepolisian dan masyarakat. Ia masih mengingat momen ketika para pengemudi datang memberi kejutan saat peringatan Hari Bhayangkara beberapa waktu lalu. Kehadiran mereka menjadi hadiah sederhana yang justru meninggalkan kesan mendalam.
"Kami sangat terharu. Hubungan ini bukan sekadar kerja sama, tetapi sudah seperti keluarga. Mereka datang memberikan kejutan dan memberi selamat," ujarnya.
Menurut Rico, sinergi itu membuat polisi mampu menjangkau informasi hingga ke sudut-sudut wilayah yang mungkin sulit dipantau secara langsung. Ketika masyarakat mau berbagi informasi dan polisi bergerak cepat memberikan respons, rasa aman bukan lagi menjadi tanggung jawab satu institusi, melainkan menjadi kerja bersama.Sebab menjaga sebuah kota ternyata tidak selalu dimulai dari sirene yang meraung atau patroli yang berkeliling.
Kadang, semuanya berawal dari secangkir kopi, obrolan sederhana, dan kepercayaan yang tumbuh di antara dua insan yang sama-sama ingin melihat kotanya tetap aman.
Di balik jaket para pengemudi ojek online, terselip kepedulian yang tak pernah lelah menyusuri jalan. Dan di balik seragam polisi, ada tangan yang terus berusaha hadir ketika masyarakat membutuhkan. (fun)
Editor : Fandi Armanto