Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Mengumpulkan Balung Pisah ala Trah Karjodisastro, 400 Keturunan Generasi Kelima Dicatat Pakai Kode

Muhamad Busthomi • Rabu, 8 Juli 2026 | 08:10 WIB
KELUARGA BESAR: Perjamuan keluarga Karjodisastro saat berkumpul di Kampong Pancar Air di Purwodadi, Minggu (5/7) lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah. (Foto: Istimewa)
KELUARGA BESAR: Perjamuan keluarga Karjodisastro saat berkumpul di Kampong Pancar Air di Purwodadi, Minggu (5/7) lalu. Mereka berasal dari berbagai daerah. (Foto: Istimewa)

Ada yang datang dari Manado. Ada yang menempuh perjalanan dari Cilegon. Sebagian besar bahkan belum pernah saling bertemu. Yang mempertemukan mereka bukan media sosial, melainkan nama seorang leluhur yang telah lama tiada.

MUHAMAD BUSTHOMI, Purwodadi, Radar Bromo

Suara tawa anak-anak bersahutan di halaman Kampoeng Pancar Air, Desa Cowek, Kecamatan Purwodadi, Minggu (5/7). Di sudut lain, orang-orang dewasa tampak saling menatap sejenak sebelum berjabat tangan. Beberapa masih menyipitkan mata, mencoba mengenali wajah yang terasa akrab tetapi sulit diingat.

Panjenengan B berapa?” tanya seorang bapak.

“B-7,” jawab yang ditanya sambil tersenyum.

Percakapan seperti itu terdengar berkali-kali pagi itu. Yang disebut bukan nomor peserta, bukan pula nomor undian. Melainkan kode silsilah keluarga.

Sebagian besar tamu yang usianya lebih muda berhenti cukup lama sebelum duduk. Bukan karena mengisi daftar hadir. Bukan juga kebingungan mencari tempat.

Mereka berdiri di depan sebuah papan besar yang terpampang di depan venue. Di sana terbentang pohon keluarga yang mereka sebut Trah Eyang Karjodisastro. Nama demi nama berjajar, foto beberapa keturunan terpasang, dan kode-kode sederhana: A-1, A-2, A-3 hingga B-10.

Mereka menunjuk satu nama, berpindah ke nama lain, lalu saling bertatapan. “Berarti kita satu jalur, ya?” celetuk seorang pemuda kepada kerabat yang baru dikenalnya pagi itu.

Yang lain baru memahami mengapa selama ini dipanggil “saudara” oleh seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya.

Pasamuan atau perjamuan ini mengumpulkan keluarga dari berbagai penjuru. Ada yang datang dari Surabaya, Cilegon, hingga Manado. Mereka bersalaman, berpelukan, lalu sesekali tertawa karena baru sadar masih memiliki hubungan darah.

Di balik semua itu, ada seorang lelaki 77 tahun yang merintis pertemuan ini sejak delapan tahun lalu. Dia adalah Suhartoyo. Pensiunan Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Rambutnya masih hitam, suaranya berat, ingatannya tentang silsilah keluarga masih tersusun rapi. Ia banyak dibantu kerabatnya, Gesang Raharjo, Mulyadi, dan Mari. Semuanya bermula dari pesan terakhir ayah dari Gesang Raharjo.

“Sebelum meninggal, ayah Mas Gesang itu berwasiat supaya balung pisah dikumpulkan lagi,” tuturnya.

Balung pisah –saudara sedarah yang telah lama berpencar. Sebagian menetap di Jawa Timur, sebagian merantau hingga luar pulau.

Pesan sederhana itu berubah menjadi pekerjaan panjang. Suhartoyo mulai menghubungi satu per satu kerabat yang masih bisa dilacak. Nomor telepon berpindah tangan. Cerita keluarga dikumpulkan. Nama-nama lama dicocokkan kembali. Modalnya hanya selembar kertas.

“Catatannya cuma satu lembar. Isinya hanya sampai generasi eyang,” katanya.

Dari secarik kertas itulah ia menyusun ulang pohon keluarga. Butuh hampir lima tahun hingga silsilah itu tersusun lebih lengkap. Kini, hampir 400 keturunan generasi kelima sudah berhasil didata.

Lalu siapa Karjodisastro? Menurut cerita keluarga, ia hidup pada masa Hindia Belanda sekitar abad ke-19. Berasal dari Loano, Purworejo, Jawa Tengah. Dalam perjalanan hidupnya, ia merintis kawasan yang kini menjadi jalur Purwodadi menuju Nongkojajar dan pernah tinggal di kawasan Dau dekat Sengkaling, Kota Batu.

Setelah wafat, ia dimakamkan di Solo, sementara istrinya dimakamkan di Sumberwaras, Lawang. Karjodisastro menikah dua kali. Pertama dengan Ambarwati, dikaruniai lima anak.

Kelimanya itulah yang diberi kode A-1 hingga A-5. Setelah itu, ia menikah dengan Ambariyah, adik kandung Ambarwati. Dan dari pernikahan kedua, lahir sepuluh anak, dikodekan B-1 hingga B-10.

Pengkodean itu sengaja dibuat agar setiap cabang keluarga mudah dikenali. Siapapun yang datang ke pasamuan tinggal mencari nomor cabangnya. Tak sedikit yang baru mengetahui hubungan keluarga setelah melihat papan tersebut.

Menurut Suhartoyo, pernah ada keluarga yang baru sadar masih memiliki hubungan kekerabatan setelah proses pernikahan salah satu anggota keluarga. “Baru ketahuan setelah silsilahnya disusun,” ujarnya sambil tersenyum.

Di atas panggung terpampang kalimat yang menjadi tema pasamuan tahun ini: Mikul Dhuwur Mendhem Jero. Bagi keluarga besar Karjodisastro, kalimat itu bukan sekadar slogan.

Suhartoyo menjelaskan, setiap anak cucu punya kewajiban mengangkat nama baik orang tua dan leluhur. Sebaliknya, kekurangan keluarga tidak perlu diumbar ke orang lain. “Itulah makna mikul dhuwur mendhem jero,” katanya.

Nilai itu pula yang diwariskan Karjodisastro kepada keturunannya. Bukan warisan tanah atau kekayaan. Melainkan cara hidup. Berperilaku baik, mencari rezeki yang halal, berlaku jujur, tidak melawan hukum, menjaga alam sebagai tempat hidup bersama.

“Jadi ada satu harapan eyang itu supaya anak cucunya menjaga kaluhuran budi. Urip luhur, turun luhur, mati luhur. Itu nilai-nilai yang saya kira berbasis kearifan lokal budaya Jawa dan keyakinan dari kitab suci,” beber Suhartoyo.

Di sela acara, anak-anak bermain di halaman. Orang tua duduk berbincang mengenang keluarga yang telah tiada. Generasi muda kembali mengerumuni papan silsilah. Ada yang memotret nama buyutnya, ada yang baru pertama kali tahu asal-usul keluarganya.

Suhartoyo berharap pasamuan seperti ini tidak berhenti pada generasinya.

“Harapan kami, paseduluran ini tetap langgeng. Tetap kumpul selawase,” katanya.

Orang-orang memang datang untuk bertemu keluarga. Tapi sebelum saling mengenal, mereka terlebih dulu mencari satu nama yang sama di papan itu.

Karjodisastro. Seorang leluhur yang telah lama tiada, tapi masih sanggup mempertemukan hampir 400 keturunannya dalam satu halaman. (fun)

Editor : Fandi Armanto
#keluarga besar #arisan keluarga #perkumpulan