Tiap pemimpin ditempa dengan cara berbeda. Ada yang lahir dari ruang rapat, ada pula yang dibentuk oleh kerasnya medan operasi. Letkol Marinir (Mar) Alamsyah, termasuk pada kelompok kedua. Sebelum memimpin Yonif 15 Marinir LIBAS di Pasuruan, jejak pengabdiannya telah melintasi daerah konflik, misi perdamaian PBB, hingga pendidikan militer bergengsi yang mengantarkannya menjadi salah satu lulusan terbaik.
FUAD ALYZEN, Grati, Radar Bromo
DERAP sepatu lars menggema di Markas Batalyon Infanteri 15 Marinir LIBAS, Pasuruan pagi itu. Seorang komandan baru resmi memimpin batalyon itu sejak 3 Juli 2026: Letkol Marinir Alamsyah, S.H., M.Tr.Opsla.
Bagi sebagian orang, jabatan sebagai Komandan Yonif (Danyonif) 15 Marinir mungkin hanya pergantian pimpinan biasa. Namun, bagi Alamsyah, amanah itu adalah buah dari perjalanannya mengabdi.
Perwira lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-53 tahun 2007 itu bukan sosok yang lahir dari kenyamanan. Karier lelaki 41 tahun itu dibangun setahap demi setahap.
Mulai memimpin peleton (Danton) di Yontaifib 1 Marinir tahun 2010, Komandan Kompi C Yontaifib 1 Marinir (2014) dan Komandan Kompi Markas Yontaifib 1 Marinir (2017). Dia juga bertugas di staf operasi, hingga dipercaya memimpin Pusat Latihan Khusus (Danpuslatsus) Korps Marinir tahun 2024.
Alamsyah juga ditempa di sejumlah daerah operasi. Baik di dalam negeri, juga lintas negara. Somalia menjadi salah satu saksi pengabdiannya saat tergabung dalam Satgas Merah Putih pada 2011.
Empat tahun kemudian, ia menjalankan misi perdamaian PBB di Lebanon sebagai Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-J/UNIFIL. Lalu tahun 2023, langkahnya menembus benua Afrika sebagai Satgas Minusma di Mali. Di dalam negeri, Alamsyah juga pernah diterjunkan dalam operasi penanganan keamanan di Poso pada 2021.
Pengalaman-pengalaman itulah yang membentuk cara pandangnya sebagai seorang pemimpin. Baginya, seorang komandan tidak cukup hanya piawai menyusun strategi.
“Pemimpin juga harus mampu memahami anak buah, mengambil keputusan di bawah tekanan, namun tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan,” terangnya saat ditemui di ruang kerjanya.
Di luar penugasan lapangan, Alamsyah dikenal sebagai perwira yang tak pernah berhenti belajar. Ia mengoleksi berbagai pendidikan militer, mulai Brevet Tri Media (Taifib) pada 2009, Diksarcab Marinir (2011), Diklapa TNI (2018), hingga kursus Accelerated Freefall (AFF) atau terjun payung di Amerika Serikat.
Puncaknya pada 2024 saat mengikuti Pendidikan Reguler Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Dikreg Seskoal) Angkatan ke-62 pada 2024. Tidak sekadar lulus. Alamsyah berhasil menorehkan prestasi sebagai salah satu siswa terbaik.
Bekal akademiknya juga lengkap. Selain menyandang gelar Sarjana Hukum, ia meraih gelar Magister Terapan Operasi Laut. Perpaduan yang mencerminkan keseimbangan antara kemampuan berpikir strategis dan pengalaman memimpin di lapangan.
Kini, seluruh pengalaman itu dibawanya ke Pasuruan. Yonif 15 Marinir LIBAS menjadi rumah pengabdian berikutnya. Satuan yang selama ini dikenal memiliki prajurit-prajurit tangguh itu kini berada di bawah komandonya.
Bagi Alamsyah, keberhasilan sebuah satuan tidak hanya diukur dari kemampuan tempur. Yang lebih penting adalah bagaimana prajurit tetap menjaga disiplin, loyalitas, dan kehormatan Korps Marinir.
"Yonif 15 Marinir LIBAS memiliki sejarah panjang dan kehormatan yang harus terus dijaga. Saya ingin seluruh prajurit terus meningkatkan kemampuan, menjaga soliditas, dan melaksanakan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab serta profesionalisme," ujar Alamsyah.
Ia menegaskan akan melanjutkan tradisi baik yang telah dibangun para pendahulunya. Sembari terus meningkatkan kualitas latihan dan pembinaan personel agar Yonif 15 Marinir semakin siap menghadapi tantangan tugas ke depan.
"Saya percaya kekuatan satuan bukan hanya terletak pada persenjataan, tetapi juga pada karakter prajuritnya. Karena itu kami akan membangun prajurit yang tangguh, berintegritas, humanis, dan selalu siap mengabdi kepada bangsa dan negara," tegasnya.
Perjalanan Letkol Marinir Alamsyah masih panjang. Namun satu hal yang pasti, setiap jejak yang pernah ia tinggalkan kini bermuara di Pasuruan. Di tempat inilah ia memulai babak baru, memimpin Yonif 15 Marinir LIBAS untuk terus menjaga kehormatan Korps Marinir dan Merah Putih. (hn)
Editor : Fandi Armanto