Di tengah maraknya jual-beli batu akik melalui platform daring dan meredupnya tren batu akik, sebuah lapak sederhana di Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, masih bertahan. Bukan hanya buka setiap hari. Lapak ini juga masih didatangi pembeli dari berbagai daerah. Bahkan, hingga Karawang.
RIZAL FAHMI SYATORI, Pandaan, Radar Bromo
Lapak itu berada di trotoar Jalan Pattimura, tepat di depan pagar Kantor Kelurahan Pandaan. Hanya beralaskan terpal, deretan pedagang menggelar batu akik, pirus, permata, hingga ring berbagai jenis. Warga mengenalnya sebagai Lapak Akik Pandaan.
Keberadaan lapak tersebut bukan hal baru. Aktivitas jual-beli di lokasi itu sudah berlangsung selama 12 tahun terakhir. Meski jumlah pedagang terus berkurang dibanding masa awal berdiri, aktivitasnya tidak pernah benar-benar berhenti.
"Lapak Akik Pandaan ini aktivitasnya sejak 2014, Alhamdulilah bertahan sampai sekarang. Jualannya pakai alas banner seperti ini,” kata Sahid, salah seorang pedagang.
Saat awal berdiri, lapak itu diisi sekitar 25 hingga 30 pedagang. Kini, rata-rata hanya tersisa tujuh sampai delapan pedagang setiap harinya.
Mereka berasal dari Pandaan dan Bangil. Sesekali pedagang dari Malang maupun Surabaya juga datang untuk ikut berjualan. Lapak mulai buka pukul 08.00 hingga sekitar pukul 14.00 dengan menggunakan sebagian trotoar.
Yang menarik, pembeli ternyata masih terus berdatangan. Bukan hanya warga Pasuruan. Namun juga dari Malang, Surabaya, Jombang, Kediri, Pacitan, hingga luar Jawa Timur. Yaitu dari Karawang.
Sebagian besar merupakan kolektor dan pehobi batu akik, pirus, maupun permata. Mereka sengaja datang untuk melihat langsung kondisi batu sebelum membeli.
"Pembelinya rata-rata kolektor dan pehobi akik, pirus, dan permata. Ada yang jual-beli, juga ada yang tukar tambah," ujar Rian, 44, pedagang lainnya.
Rian mengatakan, memang saat ini penjualan akik secara daring sudah banyak. Namun lapak fisik masih diminati.
Alasannya, selain bisa melihat kualitas batu secara langsung, pengunjung juga dapat melakukan transaksi tukar tambah. Sebuah ciri khas perdagangan batu akik yang tetap bertahan.
“Kekhasannya memang di sini. Tidak hanya jadi tempat jual-beli. Pembeli bisa juga melihat, berdiskusi, hingga bertransaksi langsung. Kalau toko daring kan dak bisa begitu,” katanya.
Barang yang dijual pun beragam. Tidak hanya batu akik tetapi juga pirus, permata, hingga ring atau dudukan batu dengan bahan beragam. Mulai alpaka, kuningan, titanium, dan perak.
"Harganya mulai dari puluhan ribu, ratusan ribu, jutaan rupiah hingga lebih. Tergantung besar-kecil, kualitas barang, serta jenis batunya," beber Sahid.
Untuk ring, semua ukuran ada. Mulai ukuran untuk anak-anak hingga orang dewasa. Modelnya beragam, dengan harga terjangkau dan sesuai selera.
Memang, pembeli tidak seramai dulu saat tren batu akik sedang berada di puncaknya. Namun segelintir pedagang ini istiqamah berjualan.
Mereka menyebut, keramaian pengunjung tidak menentu. Kadang ramai, kadang sepi seperti halnya usaha dagang.
Menjelang sore, lapak ini tutup. Tempatnya strategis, asri, dan rindang, kemudian ganti ditempati para PKL aneka makanan dan minuman.
Keberadaan Lapak Akik Pandaan juga mendapat dukungan dari pemerintah kelurahan. Lurah Pandaan Heru Budi Sulistiyo mengatakan, lapak tersebut memang boleh beroperasi. Sebab, tidak mengganggu arus lalu lintas maupun pejalan kaki.
"Ada lapak akik ini, geliat ekonominya terlihat tambah ramai, juga kompleks. Selama ini berjalan baik-baik saja, tidak ada pungutan retribusi. Yang penting tetap bisa menjaga kebersihan dan tertib," ungkapnya.
Saat tren batu akik tak lagi menjadi fenomena seperti satu dekade lalu, Lapak Akik Pandaan bertahan dengan caranya sendiri. Kesetiaan para kolektor, pehobi, dan pedagang, menjaga lapak itu tetap hidup.
Bagi pedagang, nilai batu bukan sekadar komoditas. Namun juga hobi dan kepercayaan yang tak sepenuhnya bisa tergantikan oleh etalase toko daring. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi