Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Perjuangan Muhammad Haikal Arifin Ilham, Juara I Lomba Hafiz MHQ 2026 Nasional: Sehari Murojaah Minimal 3 Juz

Arif Mashudi • Kamis, 2 Juli 2026 | 19:40 WIB

 

HAFIZ: Muhammad Haikal Arifin Ilham mendapatkan penghargaan setelah berhasil menjadi Juara I Lomba Hafidz MHQ 2026 Tingkat Nasional.
HAFIZ: Muhammad Haikal Arifin Ilham mendapatkan penghargaan setelah berhasil menjadi Juara I Lomba Hafidz MHQ 2026 Tingkat Nasional.

 

Bagi kebanyakan orang menghafal Alquran tidak mudah. Termasuk menjaga hafalan agar tetap mutqin. Namun Muhammad Haikal Arifin Ilham mampu melakukannya. Bahkan, berhasil menjadi Juara I Lomba Hafidz Musabaqah Hifdzil Quran (MHQ) 2026 Tingkat Nasional.

ARIF MASHUDI, Kademangan, Radar Bromo

LANGKAH kaki Muhammad Haikal Arifin Ilham tampak tegap saat memasuki kantor Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Kademangan, Kota Probolinggo. Pemuda kelahiran 15 April 2007 ini baru saja membawa pulang prestasi membanggakan.

Pada 24 Juni lalu, namanya menggema di tingkat nasional. Ia menjadi juara pertama dalam Lomba Hafidz MHQ 2026 Tingkat Nasional gelaran Universitas Yudharta Kabupaten Pasuruan. Mengungguli ratusan peserta dari sejumlah daerah se-Indonesia. Termasuk perwakilan pondok pesantren maupun perguruan tinggi.

“Alhamdulillah, dapat juara I tingkat nasional untuk lomba hafiz 30 juz,” ujar warga Kelurahan/Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, ini.

Berhasil mengukir prestasi dalam menghafal 30 juz Alquran, bukan sesuatu yang instan bagi Haikal. Jiwa kompetisinya sudah teruji di berbagai panggung besar. Sejauh ini, mahasiswa semester II Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Universtias Terbuka Jember, ini tercatat sudah dua kali menembus ketatnya persaingan Lomba Tahfidz tingkat nasional.

Haikal mengaku mendapatkan informasi dari rekannya terkait adanya lomba MHQ ini. Tertarik, ia mengikuti seleksi awal secara online. Setelah melalui tahap seleksi, dari ratusan peserta ada 20 peserta dengan nilai terbaik yang diundang untuk mengikukti lomba langsung di Universitas Yudharta Kabupaten Pasuruan. “Alhamdulillah, saya bisa masuk 20 peserta yang harus mengikuti lomba tahap berikutnya,” katanya.

Mendapatkan undangan menguji hafalannya secara offline, membuat Haikal berusaha mempersiapkannya sebaik mungkin. Waktu murojaah ditambah, untuk memperkuat hafalan. Kebetulan masih ada waktu sekitar sepekan pascapengumuman 20 peserta terbaik untuk mengikuti tahap berikutnya.

Dalam lomba itu, setiap peserta harus melanjutkan ayat-ayat Alquran yang dibaca oleh juri. Ayat-ayat itu tidak ditentukan diambil dari surah apa dan juz berapa. Namun dipastikan berada dalam 30 juz Alquran. “Alhamdulillah bisa juara. Dapat uang pembinaan yang bisa digunakan untuk biaya kuliah dan mondok,” ungkapnya.

Siapa sangka, pencapaian luar biasa pemuda berusia 19 tahun ini berawal dari sebuah cerita sederhana di sudut Kelurahan/Kecamatan Mayangan. Haikal kecil bukan anak yang menghabiskan seluruh waktunya di atas sajadah sejak dini. Ia baru bisa membaca Alquran ketika duduk di bangku kelas III sekolah dasar (SD).

Setelah wisuda mengaji, intensitas mengajinya menurun. Karena itu, orang tuanya mendaftarkannya ke tempat mengaji tahfidz.

Waktu kelas III SD, saya sudah bisa mengaji Alquran. Tapi namanya anak-anak, setelah itu saya jadi jarang ngaji lagi. Malah banyakan main. Sama Ibu langsung dimasukkan ke kelas tafsir dan tahfidz di luar sekolah. Awalnya, ya karena disuruh orang tua,” ujar putra pasangan suami-istri Zainal Arifin dan Nursatik ini.

Didikan disiplin itu berbuah manis. Saat lulus dari SD Mayangan 2, Haikal kecil sudah berhasil mengantongi modal berharga, hafalan 2 juz Alquran. Selepas seragam putih-merah, ia melanjutkan pendidikannya ke pesantren demi menjaga dan menambah hafalan ayat-ayat suci.

Pilihannya, Pondok Pesantren Riyadlus Sholihin Ketapang. Di lembaga yang terkenal melahirkan para pemuka agama ini, Haikal mengambil Program Takhasus Alquran. “Di pondok saya bisa melanjutkan hafalan Alquran. Hingga akhirnya, kelas 1 MA saya lulus tes hafalan 30 juz,” ungkapnya.

Selama di pesantren, Haikal fokus menghafalkan ayat-ayat suci. Ia mengaku berusaha menghafal dengan tenang, layaknya air mengalir. Namun setiap harinya menargetkan diri harus setor hafalan. Katanya, sering dan memperbanyak murojaah sangat dibutuhkan dalam proses hafalan Alquran.

“Termasuk saat sudah hafal 30 juz, saya menjadwalkan murojaah 3 juz setiap harinya. Supaya hafalan yang telah dicapai tidak hilang atau luntur,” ungkapnya. (rud)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#hafiz #mhq #nasional #probolinggo #riyadlus sholihin