Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ketika Para Atlet Panah Adu Bidikan Gunakan Busur Pipa di Ajang Wilwaktika Archery Open Tournament

Muhamad Busthomi • Kamis, 2 Juli 2026 | 19:22 WIB
DARI PIPA: Puluhan peserta berjajar dalam kegiatan Wilwatikta Archery Open Tournamen di Pandaan. Siap melepaskan anak panah dari busur yang terbuat dari pipa PVC.
DARI PIPA: Puluhan peserta berjajar dalam kegiatan Wilwatikta Archery Open Tournamen di Pandaan. Siap melepaskan anak panah dari busur yang terbuat dari pipa PVC. (M Busthomi/ Radar Bromo)

 

Busur paralon menjadi pintu masuk anak-anak mengenal panahan. Murah, aman, dan mulai melahirkan bibit atlet dari berbagai daerah. Jadi langkah nyata, walaupun tanpa busur berharga jutaan rupiah.

MUHAMAD BUSTHOMI, Pandaan, Radar Bromo

Anak panah itu melesat pelan. Bukan dari busur berharga jutaan rupiah. Bukan pula dari perlengkapan standar atlet nasional. Busur yang ditarik bocah itu terbuat dari pipa PVC yang biasa dijual di toko bangunan.

Plak. Anak panah menancap tepat di lingkaran sasaran. Di sisi lapangan, tepuk tangan langsung pecah. Seorang ayah mengangkat kedua tangannya. Seorang ibu buru-buru mengabadikan momen lewat telepon genggam.

Sementara anak yang baru saja melepaskan anak panah hanya tersenyum tipis. Ia kembali mengambil posisi. Fokus pada sasaran berikutnya.

Suasana seperti itu berulang sepanjang gelaran Wilwatikta Archery Open Tournament di Sanggar LHSSAS Rajeg, Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, 21 Juni 2026. Ratusan pemanah dari berbagai klub di Jawa Timur memenuhi arena sejak pagi.

Mereka datang membawa semangat yang sama. Bukan hanya mengejar medali. Namun membuktikan bahwa prestasi bisa dimulai dari alat yang sangat sederhana.

Baca Juga: Turenamen Panahasan Tradisional Panaskan Persaingan sebelum Forprov

Tema yang diusung penyelenggara pun terasa berbeda. “Dari Busur Paralon untuk Prestasi Panahan Indonesia.”

Tema itu menggambarkan sebuah gagasan bahwa olahraga panahan tidak harus dimulai dengan biaya mahal. Di lapangan, busur-busur paralon berjajar di tangan para peserta. Pegangannya sebagian memakai handle sepeda warna-warni. Sesekali terdengar suara pelatih memberi aba-aba. “Tarik... tahan... lepas.”

Di nomor usia di bawah 10 tahun dan 13 tahun, sasaran dipasang sejauh lima meter. Sementara kategori U-15 hingga umum menembak dari jarak tujuh meter.

Jaraknya memang pendek. Namun bukan berarti mudah. Bagi anak-anak yang baru mengenal teknik memanah, menjaga posisi tubuh, mengatur napas, lalu melepaskan tali busur dengan tenang merupakan tantangan tersendiri.

Justru dari proses itulah mereka belajar disiplin, konsentrasi, dan kesabaran. Tak sedikit peserta yang baru pertama kali mengikuti pertandingan. Mereka terlihat gugup ketika namanya dipanggil menuju garis tembak.

Namun begitu anak panah pertama melesat, ketegangan perlahan berubah menjadi kegembiraan.

Ketua Perpani Kabupaten Pasuruan Hari Santoso menilai penggunaan busur paralon menjadi salah satu cara paling efektif memperluas pembinaan panahan usia dini. Menurutnya, selama ini banyak orang menganggap panahan identik dengan olahraga mahal karena harga perlengkapannya relatif tinggi.

Padahal, semangat olahraga ini bisa ditumbuhkan terlebih dahulu melalui busur sederhana.

“Busur paralon menjadi media pembelajaran yang sangat baik. Anak-anak bisa mengenal teknik dasar memanah lebih dulu tanpa harus terbebani biaya membeli peralatan standar,” ujarnya.

Hari menjelaskan, pembinaan atlet tidak selalu dimulai dari fasilitas terbaik. Yang jauh lebih penting adalah membangun minat dan kebiasaan berlatih sejak usia dini. Jika fondasi teknik sudah terbentuk, peningkatan peralatan dapat dilakukan secara bertahap.

“Yang dicari pertama bukan busurnya, tetapi karakter atletnya. Disiplin, fokus, dan konsisten berlatih. Itu yang nantinya membawa mereka menuju prestasi,” katanya.

Semangat itu pula yang terlihat dari penampilan Fast Surya Surapati Archery asal Pandaan. Klub tersebut menjadi salah satu yang paling menonjol sepanjang pertandingan. Para atlet mudanya bergantian naik podium.

Mereka meraih juara pertama U-10 putri, juara kedua U-10 putri, juara pertama U-10 putra, serta juara pertama kategori umum putri. Dominasi itu berlanjut di nomor beregu.

Fast Surya Surapati Archery membawa pulang juara pertama beregu U-10 putri dan juara pertama beregu U-10 putra. Di kategori mix team, mereka kembali naik podium sebagai juara pertama U-10 dan juara kedua kategori umum.

Deretan prestasi tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan melalui busur paralon lebih dari sebuah fun game.

Di sela pertandingan, orang tua sibuk memberi semangat. Pelatih terus memperbaiki posisi tangan anak didiknya. Panitia berulang kali memanggil peserta berikutnya. Anak-anak yang baru selesai bertanding berkumpul sambil saling membandingkan hasil tembakan mereka.

Tidak ada kesan kaku seperti kompetisi olahraga yang penuh tekanan. Yang terasa justru suasana kekeluargaan.

Anak-anak saling menyemangati meski berasal dari klub berbeda. Ada yang tertawa ketika anak panah meleset. Ada pula yang bersorak ketika temannya berhasil mengenai titik tengah sasaran.

Di balik kompetisi itu, mereka sedang belajar menerima kemenangan maupun kekalahan.

Hari Santoso berharap turnamen semacam ini terus diperbanyak. Menurutnya, semakin sering anak-anak bertanding, semakin matang pula mental mereka. Prestasi besar, katanya, selalu lahir dari kompetisi-kompetisi kecil yang berlangsung secara konsisten.

“Kalau pembinaan usia dini berjalan baik, kita tidak akan kekurangan atlet di masa depan. Mereka sudah terbiasa bertanding sejak kecil,” ujarnya.

Ia juga berharap semakin banyak sekolah, komunitas, hingga desa yang membuka ruang latihan panahan menggunakan busur paralon. Selain murah, olahraga tersebut dinilai mampu membentuk karakter. Anak-anak belajar mengendalikan emosi, menghormati aturan, dan bertanggung jawab terhadap setiap anak panah yang dilepaskan.

Sore mulai turun di Pandaan. Satu per satu sasaran mulai dibereskan. Busur-busur paralon kembali dimasukkan ke dalam tas sederhana. Medali telah dibagikan. Foto-foto kemenangan pun diabadikan.

Namun mungkin yang paling berharga bukanlah medali itu sendiri. Melainkan keyakinan baru yang tumbuh di kepala anak-anak. Bahwa sebuah mimpi besar tidak selalu dimulai dari peralatan mahal. Kadang, ia berawal dari sepotong pipa PVC yang dibentuk menjadi busur. (hn)

 

Editor : Muhammad Fahmi
#Pipa #pasuruan #Pandaan #panahan