Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Keseruan Gledekan Ketanireng Prigen yang Kini Jadi Wisata Alternatif Warga: Jalur Lebih Ekstrem, Geliatkan UMKM

Rizal Syatori • Minggu, 21 Juni 2026 | 20:51 WIB

 

LAGI NGETREN: Sejumlah warga menikmati permainan Gledekan di Ketanireng, Prigen, Kabupaten Pasuruan (foto kanan), papan gledekan yang digunakan untuk berseluncur.
LAGI NGETREN: Sejumlah warga menikmati permainan Gledekan di Ketanireng, Prigen, Kabupaten Pasuruan (foto kanan), papan gledekan yang digunakan untuk berseluncur.

 

Di Prigen, Kabupaten Pasuruan, permainan gledekan sedang jadi tren baru. Selain di Palembon, Kelurahan/Kecamatan Prigen, permainan serupa juga berkembang di Desa Ketanireng. Meski sama-sama disebut gledekan, warga menyebut ada perbedaan yang cukup terasa antara keduanya. Terutama pada karakter jalur dan suasana pelaksanaannya.

RIZAL FAHMI SYATORI, Prigen, Radar Bromo

Gledekan di Ketanireng mulai dikenal sejak Ramadan lalu, ketika sekelompok pemuda Dusun Wilo  mencoba membuat lintasan sederhana di jalan desa. Tak disangka, dalam waktu singkat permainan ini justru berkembang pesat.

Dalam dua bulan terakhir, jumlah peserta meningkat hingga puluhan orang. Bahkan, terus bertambah dari berbagai daerah.

“Awal merintis gledekan ini, pesertanya hanya enam orang. Semuanya pemuda dari Dusun Wilo. Sekarang bertambah banyak, makin ramai,” ucap Mudik, 29, warga setempat sekaligus koordinator Gledekan Ketanireng.

Jika dibandingkan dengan lokasi lain seperti Gledekan Tretes, jalur di Ketanireng punya karakter yang lebih ekstrem dan terbuka. Di sini, jalan kabupaten penghubung Desa Ketanireng–Durensewu–Sukolilo disulap menjadi lintasan yang disebut Sirkuit Katut Ketanireng Wilo (K2W).

Baca Juga: Tak Kalah Seru dengan Tokyo Drift, Gledekan Tretes: Permainan Tradisional yang Kini Jadi Magnet Wisata usai Viral

“Sirkuit K2W itu singkatan dari gabungan tiga dusun. Karena lokasi jalan atau jalur gledekan-nya memang meliwati tiga dusun itu,” katanya.

Lintasan ini menjadi salah satu pembeda utama. Permukaannya berupa aspal dengan kombinasi tikungan, tanjakan, dan turunan yang cukup tajam. Panjang lintasan sekitar 250 meter untuk gledekan roda laker dan 550 meter untuk roda skateboard. Kondisi ini membuatnya lebih menantang dibanding beberapa lokasi lain.

“Jalurnya cukup menantang, lebih ekstrem. Elevasinya 70 sampai 40 derajat. Kemudian aspalnya bagus, juga ada jamping dan kelokannya. Pokoknya lengkap,” tuturnya.

Gledekan di sini dilakukan tiap sore pada hari Senin, Kamis, dan Sabtu. Lalu, khusus hari Selasa digelar tiap malam.

 “Kalau sore mulai pukul tiga sampai lima. Untuk malam hari mulai pukul delapan sampai sepuluh. Pakai sistem buka tutup untuk jalannya dan di masing-masing titik persimpangan jalan ada petugas yang stand by,” ucap Sukron, 25, koordinator lainnya.

Menariknya, peserta Gledekan Ketanireng datang dari berbagai kalangan. Tidak hanya warga sekitar, tetapi juga dari luar kecamatan hingga luar kabupaten. Mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa ikut mencoba, termasuk pelajar SD hingga mahasiswa.

“Peserta wajib safety, pakai sepatu dan helm. Juga dilengkapi dengan pelindung sikut kaki dan tangan. Sebelum peserta di berangkatkan di start, panitia melakukan pengecekan dulu,” ungkapnya.

Karena semakin dikenal, setiap jadwal kegiatan selalu dipadati peserta dan penonton. Suasana di lokasi pun berubah menjadi seperti arena hiburan rakyat yang ramai dan penuh antusiasme.

Peserta yang datang tidak hanya dari Prigen dan sekitarnya. Namun juga dari Pandaan, Sukorejo, Beji, Gempol, Purwosari, hingga luar daerah. Seperti Trawas dan Pacet di Mojokerto. Bahkan ada juga yang datang dari Sidoarjo hingga Surabaya.

“Peserta dari luar daerah juga ada, seperti Trawas dan Pacet, Kabupaten Mojokerto. Kemudian juga ada dari Sidoarjo dan Surabaya,” cetusnya.

Dari sisi keselamatan, panitia juga menyiapkan tim medis yang selalu siaga di lokasi. Jika terjadi insiden jatuh, peserta langsung dievakuasi dan mendapat penanganan di tempat.

Soal kendaraan yang digunakan, gledekan di Ketanireng memiliki bentuk yang mirip dengan di tempat lain. Namun tetap ada variasi.

Ada yang menggunakan roda laker, ada pula roda skateboard, dengan rangka pelat besi yang dialasi matras, dilengkapi setir, serta beberapa sudah memakai rem tangan dan lampu untuk malam hari.

“Harga modifikasi per gledekan-nya beragam. Paling murah sekitar Rp 500 ribu dan paling mahal bisa sampai jutaan rupiah. Tergantung bahan dan cat,” bebernya.

Kepala Desa Ketanireng Luluk Atun Nasiha menyebut, kegiatan ini membawa dampak positif bagi warga. Selain menjadi hiburan dan wisata alternatif, kegiatan ini juga menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

“Pas ada acara gledekan, banyak pedagang yang berjualan dan laku. Secara otomatis meningkatkan pendapatan UMKM,” ujarnya.

Luluk pun mendukung kegiatan ini. Sebab, dinilainya merupakan hal positif. “Daripada melakukan kegiatan menjurus negatif, mending bermain gledekan saja tandasnya.” (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#geledekan #jalur ekstrem #pasuruan #umkm #prigen