Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Ketika Demam Piala Dunia yang Mulai Melanda di Desa Gerongan Kraton Pasuruan

Fuad Alyzen • Rabu, 10 Juni 2026 | 10:26 WIB
SPIRIT FOOTBALL: Sejumlah bocah di Desa Gerongan bermain sepakbola. Nampak banyak bendera negara peserta piala dunia yang dipasang. (Foto: M Zubaidillah/Jawa Pos Radar Bromo)
SPIRIT FOOTBALL: Sejumlah bocah di Desa Gerongan bermain sepakbola. Nampak banyak bendera negara peserta piala dunia yang dipasang. (Foto: Mokhamad Zubaidillah/Radar Bromo)

Pesta akbar turnamen sepak bola akan digelar dalam waktu dekat. Demam piala dunia kini mulai terasa. Tak terkecuali di kawasan Kraton, Kabupaten Pasuruan, tepatnya di Desa Gerongan. Perhelatan World Cup selalu disambut dengan antusias. 

FUAD ALYZEN, Kraton, Radar Bromo

Demam piala dunia itu salah satunya sudah mulai terasa di Desa Gerongan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan. Bagi warga di sana, piala dunia bukan sekadar ajang sepak bola. Tapi menjadi ajang untuk mempererat silaturahmi.

Tiap kali turnamen empat tahunan tiba, pasti ada ratusan bendera negara peserta World Cup berkibar di sepanjang jalan desa. Bendera-bendera itu terpasang di pagar rumah, jalanan desa hingga perahu-perahu milik nelayan. Bendera-bendera yang dipasang juga bukan ala kadernya. Ukurannya besar dan ada yang dipasang di atas tiang bambu setinggi 10 hingga 15 meter.

Menariknya, seluruh atribut tersebut dibeli secara swadaya. Warga rela merogoh kocek mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu.

Belum lagi untuk bendera besar yang harganya berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu. Bagi mereka, biaya itu sebanding dengan kegembiraan yang dirasakan selama Piala Dunia berlangsung.

Saat Jawa Pos Radar Bromo berkunjung ke Gerongan Selasa (9/6) pagi, sejumlah anak-anak bermain sepak bola di halaman rumah warga.

Sementara para orang tua berkumpul menikmati waktu senggang. Tawa dan candaan bersahut-sahutan diiringi musik dangdut yang mengalun dari pengeras suara.

Mustain, 54, salah satu warga setempat, mengaku, jumlah bendera yang terpasang saat ini sebenarnya tidak sebanyak edisi-edisi sebelumnya. Pada Piala Dunia terdahulu, hampir seluruh ruas jalan desa dipenuhi atribut negara peserta.

Kata Mustain, warga bahkan juga sudah menyiapkan puluhan titik untuk nonton bareng. Kesempatan nobar biasanya menyesuaikan aktivitas harian warga atau sesuai tim favorit mereka bertanding.

Antusiasme menyambut World Cup di Desa Gerongan, kata Mustain, bukan hanya kali ini. Tapi terhitung sejak era 90-an. Bak sudah menjadi tradisi, demam piala dunia ini berlanjut hingga sekarang. Di desa ini bahkan sengaja dipasang banner bertuliskan: “Selamat Datang di Kampung Gila Bola Desa Gerongan”

Mustain yang menjagokan Jerman itu mengaku, Der Panzer punya modal untuk menjadi juara. “Jerman punya  tim yang disiplin dan akurat. Di bawah pelatih Julian Nagelsmann, saya yakin Jerman akan jadi juaranya,” kata Mustain yakin.

Semangat serupa ditunjukkan Muhammad Syafi'i, 58. Di rumahnya dia juga memasang bendera Argentina. Tim yang berstatus juara bertahan itu, diyakini Syafi’i, bisa mempertahankan statusnya.

Syafi'i merupakan pendukung setia Argentina sejak era 1980-an. Ketertarikannya bermula saat menyaksikan aksi legenda sepak bola dunia Diego Maradona pada Piala Dunia 1986.

Menurutnya, pesona permainan Argentina tetap terjaga hingga kini melalui sosok Lionel Messi. Ia menilai kemampuan mengolah bola yang dimiliki Messi masih menjadi daya tarik utama tim Tango.

Diapun mengulas bagaimana saat Argentina menjadi juara dunia di edisi World Cup Qatar. Walau harus mengalami kekalahan di laga perdana, Syafi’i tetap mendukung timnya itu. Dia yakin tim idolanya mampu bangkit pada pertandingan berikutnya.

"Biasanya tim besar justru mendapat pelajaran lebih dulu di awal turnamen. Hingga akhirnya menjadi juara kan," ujarnya sambil tertawa.

Demi menyaksikan pertandingan Argentina, Syafi'i mengaku rela mengatur ulang jadwal pekerjaannya. Jika biasanya waktu istirahat digunakan di tambak tempatnya bekerja, saat piala dunia ia memilih pulang lebih awal atau meluangkan waktu khusus untuk menonton pertandingan. "Kalau Argentina yang main, ya harus nonton," katanya.

Sementara itu, Muhammad Samsul, 32, mengatakan, tradisi menyambut Piala Dunia dengan memasang bendera sudah berlangsung sejak lama di Desa Gerongan. Bahkan, menurut cerita orang-orang tua di desanya, tradisi tersebut telah ada sejak generasi kakek dan nenek mereka.

Bedanya, pada masa lalu, suasana itu belum banyak terekspos seperti sekarang.

Persiapan biasanya dilakukan sekitar sepekan sebelum turnamen dimulai. Warga bergotong royong menyiapkan bambu, menjahit bendera, lalu memasangnya di depan rumah masing-masing sesuai negara yang mereka dukung.

Bagi Samsul, julukan "Kampung Gila Bola" yang melekat pada warga Gerongan bukan semata karena banyaknya atribut sepak bola. Sebutan itu lahir dari keseruan saat warga menggelar nonton bareng.

Ketika pertandingan berlangsung, saling menggoda antarpendukung menjadi pemandangan biasa. Pendukung tim yang kalah harus siap menerima ledekan dari tetangga maupun teman satu kampung. Ini yang membuat suasana menonton jadi ramai dan seru.

Warga lintas generasi akan berkumpul untuk nobar. Tua, muda, dewasa, hingga anak-anak biasanya ikut nonton. Apalagi di World Cup kali ini, laga kebanyakan digelar pagi hari. Di saat bersamaan, dalam waktu dekat juga ada libur sekolah.

Di Desa Gerongan terdapat lima dusun. Masing-masing dusun biasanya menyediakan sekitar sepuluh titik nonton bareng yang bisa diikuti warga. Karena itu, setiap kali tim favorit bertanding, suasana desa berubah menjadi lebih hidup dibanding hari-hari biasa.

Samsul sendiri mengaku menjagokan Portugal sejak lama. Baginya, mendukung tim favorit dan menikmati pertandingan bersama warga lain telah menjadi bagian dari tradisi yang selalu dinantikan setiap Piala Dunia digelar.

Samian, 35, salah seorang warga, mengatakan semangat menyambut Piala Dunia sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat setempat. Tradisi itu diwariskan dari generasi sebelumnya dan terus dijaga hingga sekarang.

Tanpa perlu komando khusus, warga akan bergotong royong menyiapkan bambu, memasang bendera, hingga menata lokasi nonton bareng ketika turnamen akan dimulai. "Kalau sudah Piala Dunia, warga pasti bergerak sendiri. Semua punya tim favorit masing-masing dan ikut meramaikan desa," ujarnya.

Ia menilai kekompakan warga Gerongan tidak hanya terlihat saat Piala Dunia berlangsung. Setiap ada peringatan hari besar maupun kegiatan desa, masyarakat selalu bergotong royong dan berpartisipasi bersama.

Kecintaan terhadap sepak bola, kata dia, memang sudah mengakar kuat di lingkungan desanya. Bahkan ketika ada turnamen antardesa maupun kompetisi tingkat Jawa Timur, tim sepak bola Gerongan hampir selalu ikut ambil bagian.

Menariknya, klub sepak bola desa ini memiliki prinsip tersendiri. Mereka memilih menggunakan pemain asli Gerongan dan tidak merekrut pemain dari luar daerah untuk memperkuat tim.

Sekretaris Desa Gerongan, Kashani, mengatakan, kecintaan terhadap sepak bola hampir merata di lima dusun yang ada di wilayahnya. Namun, Dusun Karangpanas dikenal sebagai salah satu titik paling ramai saat euforia Piala Dunia berlangsung.

Menurutnya, ratusan bendera itu akan tetap berkibar hingga turnamen berakhir. Seiring berjalannya kompetisi, bendera negara yang tersingkir biasanya mulai diturunkan oleh para pendukungnya.

"Kalau sudah masuk delapan besar, biasanya jumlah bendera mulai berkurang karena ada tim yang gugur. Tapi justru antusiasme warga semakin tinggi sampai partai final," katanya. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#world cup 2026 #piala dunia