Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Saadan Siswa MAN 2 Kota Probolinggo Raih Dua Perunggu di Ajang Master Science and Social 2026 yang Harus Bersaing dengan Ratusan Peserta Se-Indonesia

Abdul Wahid • Kamis, 4 Juni 2026 | 10:33 WIB
SENANG: Muhammad Saadan Dwipa Nusantara, siswa kelas X-F MAN 2 Kota Probolinggo menunjukkan sertifikat dan medali yang berhasil diraihnya dalam ajang Master Science and Social 2026. (Foto: Istimewa)
SENANG: Muhammad Saadan Dwipa Nusantara, siswa kelas X-F MAN 2 Kota Probolinggo menunjukkan sertifikat dan medali yang berhasil diraihnya dalam ajang Master Science and Social 2026. (Foto: Istimewa)

 

Di tengah derasnya arus informasi dan persaingan akademik yang semakin ketat, Muhammad Saadan Dwipa Nusantara memilih menambatkan minatnya pada ilmu-ilmu sosial. Ketekunan siswa MAN 2 Kota Probolinggo itulah yang kemudian mengantarkannya menorehkan prestasi membanggakan.

INNEKE AGUSTIN, Kanigaran, Radar Bromo

SISWA kelas X-F ini berhasil meraih dua medali perunggu dalam ajang Master Science and Social 2026 yang diselenggarakan secara daring oleh Smart Student.

Medali pertama diraih pada bidang studi Ekonomi tingkat SMA pada 31 Maret 2026. Selang beberapa hari kemudian, tepatnya 5 April 2026, Saadan kembali mengukir prestasi serupa pada bidang studi Sejarah tingkat SMA.

Bagi Saadan, ekonomi dan sejarah bukan sekadar mata pelajaran yang dipelajari di ruang kelas.

Keduanya menjadi jendela untuk memahami perjalanan manusia, perubahan zaman, serta berbagai faktor yang membentuk kehidupan masyarakat hingga hari ini.

Ketertarikan itu tumbuh sejak dia pertama kali menginjak bangku sekolah menengah atas.

Dari rasa penasaran yang sederhana, lahirlah keinginan untuk mendalami ilmu sosial sekaligus menguji kemampuannya melalui berbagai kompetisi.

"Saya senang mempelajari bagaimana peristiwa masa lalu dan berbagai hal yang mempengaruhi kondisi ekonomi serta kehidupan masyarakat saat ini," ujarnya.

Ketika banyak pelajar mengandalkan hafalan semata, Saadan memilih cara belajar yang lebih terstruktur. Ia memulai dari memahami konsep dasar, kemudian menyusun rangkuman dan peta konsep agar hubungan antar materi lebih mudah dipahami.

Setelah itu, ia rutin mengerjakan berbagai soal latihan dan mengevaluasi kesalahan yang pernah dibuat.

Menurutnya, memahami alasan di balik sebuah jawaban jauh lebih penting daripada sekadar mengetahui jawaban yang benar.

"Selain itu saya juga sering mengerjakan soal-soal latihan dan membahas kembali kesalahan yang pernah saya lakukan agar tidak terulang," katanya.

Menjelang perlombaan, rutinitas belajarnya menjadi semakin padat. Ia menyusun jadwal secara disiplin, mempelajari materi secara bertahap, mengerjakan latihan soal, hingga mencari referensi tambahan dari buku maupun berbagai sumber pembelajaran di internet.

Dalam sehari, Saadan biasanya meluangkan waktu sekitar dua hingga tiga jam untuk belajar. Durasi tersebut akan bertambah ketika hari perlombaan semakin dekat.

Perjuangan saat lomba tentu tidak ringan. Dalam setiap kompetisi, ia harus bersaing dengan sekitar 200 hingga 300 peserta dari berbagai daerah di Indonesia.

Para peserta dituntut menyelesaikan 50 soal pilihan ganda hanya dalam waktu 60 menit melalui platform daring yang telah disediakan panitia.

Di balik layar komputer, ketegangan tak jarang menyelimuti suasana. Terlebih ketika berhadapan dengan soal-soal yang menuntut kemampuan analisis mendalam serta menggabungkan beberapa konsep dalam satu persoalan.

Namun Saadan berusaha menjaga ketenangan. Ia meyakini bahwa kepanikan hanya akan mengaburkan logika.

Dengan bekal persiapan yang telah dilakukan selama berminggu-minggu, ia berusaha menjawab setiap soal sebaik mungkin.

Usaha tersebut akhirnya berbuah manis. Dua medali perunggu berhasil dibawa pulang sebagai buah dari proses panjang yang dijalani dengan kesungguhan.

Meski demikian, bagi Saadan, tantangan terbesar bukanlah tingkat kesulitan soal. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada kemampuan menjaga konsistensi belajar di tengah berbagai aktivitas sekolah dan kehidupan sehari-hari.

Ada saat-saat ketika rasa lelah datang menghampiri. Keraguan terhadap kemampuan diri juga pernah muncul. Namun di tengah perjalanan itu, dukungan orang tua, guru, dan teman-teman menjadi energi yang terus menguatkan langkahnya.

"Ada kalanya saya merasa lelah dan kurang percaya diri. Namun dukungan dari orang tua, guru, dan teman-teman membuat saya tetap semangat untuk terus berusaha dan berkembang," tuturnya.

Prestasi yang diraih Saadan hari ini bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan satu pijakan untuk melangkah lebih jauh.

Ia percaya bahwa keberhasilan tidak lahir dalam semalam, melainkan tumbuh dari kebiasaan belajar yang konsisten, kesabaran menghadapi kegagalan, dan keberanian untuk terus mencoba.

Karena itu, ia berpesan kepada sesame pelajar agar tidak takut melangkah dan tidak mudah menyerah saat menemui kesulitan.

"Prestasi tidak diraih secara instan, tetapi melalui proses belajar yang panjang dan konsisten. Jadikan setiap kegagalan sebagai pelajaran untuk menjadi lebih baik. Tetap semangat, percaya pada kemampuan diri sendiri, dan teruslah berusaha karena hasil terbaik akan datang kepada mereka yang tekun dan tidak mudah menyerah," bebernya.

Saadan telah membuktikan bahwa ketekunan adalah benih yang akan tumbuh menjadi prestasi. Dari lembar demi lembar rangkuman yang ia susun, dari jam-jam belajar yang dijalani dalam diam, lahirlah sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan dirinya sendiri, tetapi juga mengharumkan nama sekolah dan menjadi inspirasi bagi pelajar lainnya. (fun)

 

Editor : Abdul Wahid
#master sciense and social #lomba #man 2 kota probolinggo