Mungkin publik lebih mengenal Eddy Supriyanto dari seragam dinasnya. Dari kursi camat, kepala dinas, hingga sekretaris dewan. Tapi jauh sebelum semua itu, ia sudah mengenal NU, bahkan sebelum masuk ke lingkaran birokrasi.
MUHAMAD BUSTHOMI, Bangil, Radar Bromo
Malam sering menjadi milik Nahdlatul Ulama. Setidaknya begitu yang dialami Eddy Supriyanto selama puluhan tahun. Siang hari ia bekerja sebagai aparatur negara. Sore mengajar.
Malamnya, ketika sebagian orang sudah memilih istirahat, ia justru berangkat. Mendatangi rapat organisasi, menghadiri kegiatan warga, atau sekadar duduk berdiskusi dengan para kiai hingga larut.
Ia sudah menjalani rutinitas itu jauh sebelum namanya dikenal sebagai camat, kepala dinas, atau pejabat di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Karena sesungguhnya, sebelum menjadi birokrat, Eddy lebih dulu menjadi kader NU.
Tahun 1984. Di kampung halamannya, Dusun Talang, Desa Watuagung, Kecamatan Prigen, seorang pelajar SMA mulai aktif mengikuti kegiatan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama ranting setempat. Waktu itu, lelaki yang di kalangan NU akrab disapa Abah Eddy itu, hanya ingin belajar berorganisasi.
Tidak ada bayangan menjadi pejabat. Tidak pula terlintas bahwa kelak ia akan memimpin organisasi yang selama ini menaunginya.
“Awalnya hanya ingin belajar organisasi. Di NU itu banyak nilai-nilai yang diajarkan. Bagaimana menghormati ulama, ngalap barokah para kiai dan muassis NU,” kenangnya.
Dari IP NU, langkahnya berlanjut ke GP Ansor. Ia dipercaya menjadi pengurus di tingkat ranting hingga kecamatan.
Sementara itu, kehidupannya berjalan seperti kebanyakan anak muda desa: penuh dengan aktivitas yang saling tumpuk.
Kuliah sambil mengajar.
Ia pernah menjadi guru madrasah ibtidaiyah. Berlanjut mengajar di tingkat tsanawiyah dan aliyah. Kemudian dipercaya menjadi kepala madrasah aliyah.
Dunia pendidikan, sejak muda, sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Bahkan hingga kini, ia masih menjabat sebagai Ketua Yayasan Ma’arif NU Prigen.
Tahun 1990, Eddy lolos seleksi penyuluh keluarga berencana. Tiga tahun kemudian, ia diterima sebagai calon pegawai negeri sipil.
Karier birokrasi perlahan menanjak. jabatan datang silih berganti. Dari Kasi Kesra, Sekretaris Kecamatan, Camat Tutur, Sekretaris Dinas Pertanian, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, dan Sekretaris DPRD Kabupaten Pasuruan hingga masa pensiun awal tahun ini.
Namun NU tidak pernah benar-benar ditinggalkan. “Bisa dibagi waktunya karena kegiatan NU banyak dilakukan malam hari,” katanya, sambil tersenyum, seolah malam selama ini memang sudah ia wakafkan untuk organisasi.
Di tengah kesibukan sebagai aparatur negara, kepercayaan organisasi justru terus mengalir. Pada 1999, ayah dua anak itu dipercaya memimpin Majelis Wakil Cabang NU Prigen. Jabatan itu ia emban selama dua periode penuh. Sepuluh tahun, hingga 2009.
Ada satu detail yang menarik dari masa itu. Saat menjabat Camat Tutur, ia justru dipercaya menjadi Mustasyar MWC NU Tutur selama tujuh tahun, 2013 hingga 2020. Padahal MWC NU Tutur berada di bawah naungan PCNU Kabupaten Pasuruan.
Bagi Eddy, NU dan birokrasi bukan dua jalan yang saling bertentangan. Sebaliknya, keduanya saling menguatkan.
“Sebisa mungkin ketika memimpin perangkat daerah, saya mengingatkan staf supaya tidak melanggar aturan pemerintah maupun aturan agama,” ujar pria kelahiran 20 Desember 1965 itu.
Ia sadar pemerintahan tidak mungkin seratus persen sempurna. Namun nilai-nilai yang ia serap dari lingkungan NU menjadi kompas moral yang selalu ia bawa –ke meja rapat, ke lapangan, ke mana pun tugasnya membawa.
Dan ia meyakini, perjalanan kariernya tidak semata-mata soal kemampuan.
“Mungkin saya bisa menjadi camat sampai kepala dinas juga karena barokah ngurus NU,” katanya.
Ia mengaku, tidak pernah membayangkan menjadi Ketua PC NU Bangil. Bahkan ketika namanya mulai disebut-sebut menjelang konferensi cabang, perasaan pertama yang muncul bukan antusias. Melainkan keberatan.
Menurutnya, syarat menjadi Ketua PC NU tidak ringan. Selain harus melalui proses kaderisasi yang panjang, seorang ketua juga tidak boleh berafiliasi dengan partai politik.
“Saya tidak mencalonkan. Saya merasa syarat ketua PC NU itu berat,” tuturnya.
Namun justru rekam jejaknya sebagai ASN yang tidak pernah menyentuh politik praktis yang membuat banyak pihak memandangnya layak. Netral. Tidak terkontaminasi kepentingan politik tertentu.
Akhirnya, dalam Konferensi Cabang PCNU Bangil pada 9 November 2025 lalu, namanya dipercaya. Ia terpilih memimpin organisasi untuk masa khidmat 2026–2031.
“Saya merasa kegeden kelambi,” katanya, sambil tertawa kecil.
Ungkapan Jawa itu menggambarkan seseorang yang merasa amanah yang diterimanya jauh lebih besar dari kemampuannya. Seperti memakai baju yang terlalu longgar, belum pas di badan.
Tapi keputusan organisasi harus diterima. Itu bentuk khidmat. Dan setelah terpilih, ada yang tidak ia sangka: reuni panjang dengan masa mudanya. Wajah-wajah lama dari IP NU dan Ansor yang dulu sama-sama berjuang, kini kembali dipertemukan dalam satu barisan.
Kini hari-harinya kembali penuh. Undangan datang hampir setiap hari. Dari pesantren, masjid, badan otonom, hingga kegiatan masyarakat nahdliyin di berbagai penjuru wilayah Bangil.
Menurut Eddy, tantangan terbesar NU hari ini bukan semata soal program. Melainkan bagaimana merawat komunikasi di tengah warga yang sangat beragam.
“Ada yang dari pesantren salaf, pesantren modern, masyarakat desa, masyarakat kota. Semuanya harus bisa diselami," ujarnya.
Karena itu, silaturahmi menjadi kunci. NU, baginya, tidak bisa dibangun hanya dari balik meja rapat. Harus hadir di tengah masyarakat. Harus mau mendengar sebelum berbicara. “Karena NU itu bapaknya, kapanpun harus datang,” katanya.
Di sisi lain, tantangan kemandirian organisasi juga tidak kecil. Sebagai organisasi kemasyarakatan, NU tidak memiliki sumber pembiayaan tetap. Kreativitas dan kerja sama dengan berbagai pihak menjadi keniscayaan agar roda organisasi terus berputar.
Pekan lalu, PC NU Bangil menggelar pra-Musyawarah Kerja Cabang, bagian dari penyusunan peta jalan lima tahun ke depan.
Ada sejumlah fokus utama: dakwah, pendidikan, ekonomi, serta kesehatan dan sosial. Eddy meyakini, NU sebenarnya sudah memiliki perangkat yang sangat lengkap.
Ada lembaga pendidikan, lembaga dakwah, lembaga perekonomian, lembaga kemasjidan, bantuan hukum, hingga kebencanaan. Total 18 lembaga yang siap menjadi motor penggerak.
“Kalau lembaga-lembaga itu berjalan baik, tugas pengurus sebenarnya tinggal mengawal dan memastikan arah geraknya sesuai tujuan,” ujarnya.
Ia pun membagi tanggung jawab kepada enam wakil ketua agar seluruh bidang dapat bergerak efektif. Baginya, NU tidak boleh berhenti pada urusan keagamaan semata. NU harus hadir menjawab persoalan nyata: pendidikan anak-anak yang belum terjangkau, ekonomi warga yang terseok, perkara hukum yang membingungkan, hingga bencana yang datang tanpa permisi.
“Kalau masyarakatnya baik, otomatis pemerintah juga akan terbantu,” katanya.
Di tengah semua amanah itu, ada satu nasihat yang tidak pernah ia lepas.
Nasihat sederhana yang ia dengar dari para kiai sejak masih muda. Sejak masih berseragam putih abu-abu di kampungnya. “Sing ikhlas ngurusi NU. Ojok mikir golek kedudukan, golek materi, golek posisi. Kabeh wis diatur Gusti Allah.”
Ikhlas mengurus NU. Jangan berpikir mencari jabatan, materi, atau posisi. Semuanya sudah diatur oleh Allah. Empat puluh tahun telah berlalu. Sejak pertama kali ia melangkah masuk ke IPNU ranting Watuagung, sebagai anak SMA yang hanya ingin belajar berorganisasi.
Jalan hidup kemudian membawanya menjadi guru, penyuluh, camat, kepala dinas, hingga sekretaris dewan. Namun pada akhirnya, ia kembali ke tempat pertama kali belajar tentang pengabdian. Rumah itu bernama Nahdlatul Ulama. (fun)
Editor : Abdul Wahid