Di era digital saat ini, tak mudah untuk menumbuhkan semangat literasi. Termasuk di lingkungan sekolah. Butuh pembiasaan. Ini yang dilakukan SMP Negeri 1 Pasuruan. Siswa dan guru diajak menulis. Karya mereka dibukukan dalam sebuah majalah sekolah.
FAHRIZAL FIRMANI, Panggungrejo, Radar Bromo
Puluhan siswa SMP Negeri 1 Pasuruan tampak memadati ruang multimedia, Selasa (26/5). Mereka begitu antusias menunjukkan karya tulis yang dibuat. Satu per satu mereka menceritakan kisah dibalik pembuatan cerita dalam majalah itu.
"Satu karya saya dimuat dalam media PGRI Jawa Timur. Judulnya, Indahnya Berbhinneka Tunggal Ika," ucap salah satu siswa, Muhammad Kenzi Helga dengan lantang.
Kenzi menyebut, awal mula pembuatan tulisan itu karena ia diminta oleh sekolah membuat artikel populer. Ia pergi ke perpustakaan untuk mencari referensi.
Dia lalu memilih tema tentang Bhinneka Tunggal Ika. Artikel populer ini memuat tentang keanekaragaman suku dan budaya di Indonesia.
Seakan sudah mengetahui tahapannya, tulisan itu disusun dengan perencanaan. "Dari mencari ide pokok, lalu menuliskan berdasarkan fakta yang diperoleh dari buku. Sumbernya dari buku yang saya dapatkan di perpustakaan," sebut siswa kelas 9B itu.
Kepala Sekolah SMPN 1 Pasuruan, Agung Budiarti menuturkan, awalnya banyak siswa dan guru yang menganggap menulis itu sulit.
Untuk menghilangkan stigma ini, ia mengajak guru dan siswa menulis. Setiap siswa dan guru diminta membuat satu buah karya.
Karya mereka lantas disusun dalam sejumlah majalah sekolah. Ada majalah Sahabat Pustaka Pinus, ada majalah Duta dan OSIS, ada pula majalah Bahasa Inggris. Semua majalah ini dibuat sejak dirinya menjadi kepala sekolah pada 2024 silam.
"Saya mengajak setiap guru dan siswa untuk menulis. Minimal satu buah karya. Jadi menulis itu sebenarnya mudah," jelasnya.
Siswa 9B Muhammad Zinedine Zidane menyebut, majalah Duta dan OSIS disusun oleh pemenang duta dan anggota OSIS sekolah periode 2025/2026.
Tidak hanya memuat tentang kegiatan duta dan OSIS. Tapi juga ada karya berupa cerita pendek, pengalaman pribadi, hingga sejarah Pasuruan.
Agar lebih menarik, majalah ini dibuat dengan tema berbeda. Menyesuaikan momen di bulan penyusunan.
Seperti Januari, mengangkat tema tahun baru, sementara Maret, siswa memuat tema Ramadan. Lalu, April menerbitkan majalah bertema hari Kartini sedangkan Mei seputar hari Pendidikan Nasional (Hardiknas).
"Seperti pada Maret yang mengambil tema Ramadan. Di dalamnya juga membahas seputar bulan suci mulai dari makna puasa, tata cara puasa hingga lailatul qadar," jelas Ayunda Zahra Aulia, siswa kelas 8B.
Berbeda halnya dengan majalah Pustaka Pinus. Majalah ini ditulis oleh para guru. Yang diulas beragam, mulai soal kegiatan di SMPN 1, event yang diselenggarakan hingga soal prestasi yang diperoleh siswa dan guru. Majalah ini disusun setiap dua bulan sekali.
"Kegiatan yang ada di sekolah juga diulas dalam majalah," sebut guru bahas Inggris, Wahyu Hariwiyoko.
Sementara majalah Bahasa Inggris ditulis oleh siswa. Majalah ini disusun oleh setiap kelas. Masing masing kelas membuat karya tulis sesuai kesepakatan. Ada yang membuat cerita pendek, adapula yang membuat teks narasi. Disesuaikan dengan kemampuan setiap siswa.
"Majalah ini disusun mendadak. Tiap kelas isinya berbeda. Kami memang mendorong agar literasi siswa dalam berbahasa Inggris juga baik," jelas Yulkus Samawati, guru Bahasa Inggris kelas 9.
Agung Budiarti, kepala SMPN 1 Pasuruan menyebut, majalah Duta dan majalah OSIS terbit kondisional. Berbeda dengan majalah Sahabat Pustaka Pinus yang terbit tiap dua bulan sekali. Alasannya menyesuaikan siswa. Sejauh ini penerbitan masih konsisten.
Menurutnya, majalah sekolah karya siswa dan guru itu menjadi contoh jika setiap siswa dan guru bisa menulis asal ada pembiasaan. Kuncinya, rajin membaca. Sebab dengan suka membaca, maka ide kreatif bisa muncul.
"Sebelumnya banyak siswa yang bilang menulis itu susah. Buktinya mereka bisa menulis, asal dibiasakan," jelas mantan guru SMPN 2 ini. (fun)
Editor : Abdul Wahid