Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Cara SDN Ngadirejo I Tutur Pasuruan Atasi Problem Keterlambatan Siswa: Padukan Angkutan dengan AI- Pre Learning Session

Muhamad Busthomi • Rabu, 20 Mei 2026 | 19:20 WIB

 

SI BIRU: Beberapa siswa SDN Ngarirejo 1 bersiap berangkat ke sekolah dengan dijemput Si Biru, angkutan yang disiapkan sekolah untuk antar-jemput siswa.
SI BIRU: Beberapa siswa SDN Ngarirejo 1 bersiap berangkat ke sekolah dengan dijemput Si Biru, angkutan yang disiapkan sekolah untuk antar-jemput siswa.

Bukan sekadar angkutan sekolah. SDN Ngadirejo I, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, memadukan transportasi, teknologi AI, hingga konsep pre-learning di perjalanan. Sebuah cara baru agar anak-anak datang ke sekolah tidak lagi dalam kondisi lelah sebelum pelajaran dimulai.

MUHAMAD BUSTHOMI, Tutur, Radar Bromo

PAGI di lereng Gunung Bromo di Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan hampir selalu datang bersama dingin dan kabut. Di jalan-jalan menanjak yang membelah perbukitan, anak-anak SD dulu harus memulai hari dengan perjuangan yang tidak sederhana.

Berjalan jauh, mencari tumpangan, atau menunggu kendaraan yang belum tentu lewat. Setibanya di sekolah, sebagian dari mereka sudah kehabisan tenaga. Jam pertama pelajaran pun sering berjalan pincang.

“Ada anak yang datang dengan napas masih ngos-ngosan. Ada yang terlambat hampir setiap hari,” ujar Kepala SDN Ngadirejo I Risdiyan Tri Wahyudi.

Masalah itu cukup lama dianggap biasa. Sudah menjadi risiko geografis daerah pegunungan. Tetapi bagi Risdiyan, persoalan tersebut justru menjadi titik awal kegelisahan.

Apalagi di saat dunia pendidikan ramai berbicara tentang transformasi digital, deep learning, hingga akal imitasi (AI). Sementara sekolah-sekolah di daerah pinggiran masih bergulat dengan masalah paling dasar. Bagaimana memastikan siswa bisa datang ke sekolah tepat waktu dan dalam kondisi siap belajar.

Baca Juga: Ban Selip dan Mogok, Pikap yang Dicuri Ditinggalkan di Tepi Jalan Raya Kalipucang Tutur Pasuruan

“Pembelajaran mendalam itu tidak mungkin berhasil kalau anak-anak datang sudah lelah duluan,” katanya.

Dari situlah lahir “Si Biru”. Sebuah angkutan sekolah berwarna biru cerah yang kini menjadi ikon SDN Ngadirejo I. Fasilitas khusus untuk antar-jemput siswa.

Namun Risdiyan menawarkan konsep yang lebih besar dari sekadar kendaraan fasilitas antar-jemput. Ia menggabungkan kebutuhan akses pendidikan, teknologi, dan kesiapan belajar siswa dalam satu sistem.

Risdiyan sendiri sudah berhitung. Sebelum program berjalan, tingkat keterlambatan siswa di SDN Ngadirejo I mencapai sekitar 25 persen setiap bulan. Sebagian besar dipicu akses transportasi yang sulit.

Anak-anak yang tinggal di kawasan perbukitan harus berangkat lebih pagi dengan tenaga yang terkuras. Bahkan sebelum bel sekolah berbunyi.

“Guru akhirnya harus mengulang materi. Konsentrasi kelas pecah. Ritme belajar terganggu,” kata Risdiyan.

Alih-alih hanya menyediakan kendaraan, sekolah kemudian mencoba memetakan persoalan secara lebih menyeluruh. Mereka mulai menggunakan pendekatan berbasis data untuk membaca pola perjalanan siswa.

Lokasi rumah dipetakan, jalur paling efisien dihitung, hingga waktu keberangkatan dianalisis dengan bantuan sistem sederhana berbasis AI. “Kami ingin solusi yang tepat, bukan sekadar menyediakan mobil,” ujarnya.

Teknologi itu membantu sekolah menentukan rute paling efektif. Agar waktu tempuh untuk antar-jemput lebih singkat dan penggunaan bahan bakar lebih hemat.

Bahkan kondisi cuaca khas Tutur yang sering berkabut ikut menjadi pertimbangan dalam menentukan jadwal keberangkatan. Tak berhenti di situ, presensi siswa saat naik kendaraan juga terhubung dengan sistem digital sekolah.

Orang tua otomatis mengetahui anaknya sudah berangkat menuju sekolah. “Dengan begitu, orang tua jadi lebih tenang karena bisa memantau,” katanya.

Namun sentuhan paling menarik justru ada di dalam perjalanan itu sendiri. Risdiyan tidak ingin waktu tempuh siswa terbuang sia-sia.

Maka lahirlah konsep pre-learning session. Di dalam Si Biru, anak-anak mendengarkan audio pembelajaran ringan sebelum masuk kelas.

Bukan pelajaran penuh. Melainkan pengantar sederhana yang memantik rasa ingin tahu mereka terhadap materi hari itu.

Kadang berupa cerita. Kadang pertanyaan kecil. Tujuannya bukan membuat anak menghafal, melainkan membangun kesiapan berpikir sejak perjalanan dimulai.

“Kami ingin anak-anak sudah punya koneksi awal dengan pelajaran sebelum duduk di kelas,” ujar Risdiyan.

Konsep tersebut perlahan mengubah suasana belajar. Anak-anak datang ke sekolah tidak lagi dalam kondisi letih.

Mereka lebih siap mengikuti diskusi, lebih fokus, dan lebih mudah diajak berpikir kritis. Guru-guru pun mulai merasakan perbedaannya. “Jam pertama sekarang jauh lebih hidup,” katanya.

Menurut Risdiyan, inilah yang selama ini sering dilupakan dalam pembicaraan soal pendidikan modern: kesiapan belajar siswa.

Banyak sekolah berlomba menghadirkan teknologi di ruang kelas. Namun lupa bahwa siswa membutuhkan kondisi fisik dan mental yang siap untuk menerima pembelajaran itu sendiri.

“Teknologi tidak akan berarti kalau kebutuhan dasar siswa belum terpenuhi,” tegasnya.

Dampak kehadiran Si Biru melesat melampaui ekspektasi. Begitu roda Si Biru berputar secara reguler, angka keterlambatan siswa berkejaran turun drastis dari 25 persen hingga menyentuh angka hampir nol persen.

Anak-anak lereng perbukitan Ngadirejo kini memiliki motivasi tinggi untuk bangun lebih awal agar tidak ketinggalan angkutan sekolah.

Efek dominonya langsung terasa di dalam ruang kelas. Karena tiba di sekolah dengan kondisi bugar dan batin yang tenang, para siswa jauh lebih siap menerima model deep learning.

Diskusi sokratik dan pemecahan masalah kompleks yang menuntut konsentrasi tinggi, kini bisa berjalan efektif sejak menit pertama jam pelajaran dimulai.

Di sisi lain, pemanfaatan AI juga merambah ke meja guru. Dengan berkurangnya beban administrasi absensi berkat sistem digital Si Biru, para pendidik kini memiliki waktu lebih luang untuk merancang modul ajar yang inovatif dan melakukan asesmen diagnostik secara cepat.

Risdiyan merasa, solusi bagi persoalan yang dihadapi anak didiknya lebih dari sekadar meruntuhkan sekat geografis. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana mengembalikan marwah pendidikan yang memanusiakan siswa.

“Si Biru adalah pembuka pintu itu, memastikan setiap anak memiliki hak dan kesiapan yang sama untuk menjemput masa depan mereka,” pungkas Risdiyan mantap. (hn)

Editor : Muhammad Fahmi
#ai #pasuruan #bromo #sekolah #Tutur