Aktivitas di Kantor Desa Randupitu Kecamatan Gempol tidak lagi ditandai antrean panjang atau tumpukan map berisi berkas di meja pelayanan. Beberapa warga datang, menunduk sejenak ke layar ponsel, lalu duduk menunggu. Tak lama, urusan selesai. Mudah, cepat, ringkas.
MUHAMAD BUSTHOMI, Gempol, Radar Bromo
TRANSFORMASI itu tidak datang tiba-tiba. Ada kegelisahan yang diam-diam tumbuh sejak Mochammad Fuad dilantik sebagai kepala desa pada 2022 silam.
Enam bulan pertama menjabat, ia merasa seperti berjalan dalam gelap. Bukan karena program tak ada. Bukan karena anggaran desa menipis. tetapi karena data tak tersedia.
Sebagai orang yang punya latar belakang pengusaha, Fuad terbiasa bicara dengan angka. Semua harus rigit dan terukur. “Maka kami berpikir kalau pemerintah desa ini harus punya bank data,” ujarnya.
Dari kegelisahan itu, langkah pertama dimulai dengan pendataan. Bukan sekadar jumlah warga, tetapi detail yang selama ini tercecer.
Mulai dari agama, status perkawinan, usia, pekerjaan, pendidikan, hingga jumlah kepala keluarga.
Termasuk berapa orang yang menjadi penerima bantuan sosial, siapa saja mereka. Bahkan, rumah-rumah diberi nomor, dan tanah warga dipetakan, mana yang sudah bersertifikat, mana yang belum.
Dari situ, fondasi dibangun. “Kalau data sudah jelas, kami bisa tahu mau melangkah ke mana,” katanya.
Setahun berselang, pada 2023, Randupitu melompat lebih jauh. Sebuah platform digital diluncurkan: kembangrandu.com.
Nama yang sederhana, tapi membawa perubahan besar. Lewat platform itu, berbagai layanan publik mulai dipindahkan ke ruang digital. Warga tak lagi harus datang ke kantor desa hanya untuk mengurus surat.
Mulai dari surat kelahiran, kematian, kehilangan, keterangan usaha, domisili, hingga dispensasi kerja. Semuanya bisa diakses secara daring. Syaratnya satu: nomor induk kependudukan (NIK).
Sistem yang dibangun berbasis “by NIK by address” itu memastikan hanya warga Randupitu yang bisa mengakses layanan. Lebih aman, sekaligus lebih terarah.
“Prinsipnya kami ingin pelayanan itu mudah, murah, cepat, dan efektif,” kata Fuad.
Namun digitalisasi itu, kata Fuad, yang terpenting bukan hanya memindahkan layanan ke layar. Tetapi bagaimana membangun sistem yang utuh.
Buku tamu digital, misalnya, tidak lagi berdiri sendiri. Ke depan, sistem itu akan terintegrasi dengan dasbor pelayanan.
Setiap tamu yang datang dan memilih keperluan, akan langsung mengirim notifikasi ke perangkat desa terkait, secara real time.
Di balik layar, sistem itu terhubung dengan dasbor internal. Setiap perangkat desa, mulai dari sekretaris desa, kepala urusan, hingga kepala dusun, akan tahu siapa yang memerlukan layanan mereka.
Semua aktivitas tercatat. Menariknya, kepala desa sebagai pengendali, bisa memantau semuanya.
Jika ada warga ingin bertemu sekretaris desa, misalnya, notifikasi akan langsung masuk. Waktu kedatangan tercatat. Durasi pelayanan pun terukur.
“Jadi kami bisa tahu, pelayanan itu selesai berapa lama. Kinerja juga bisa dipantau,” jelas Fuad.
Di titik ini, digitalisasi tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi menjadi instrumen kontrol. Langkah berikutnya bahkan lebih jauh.
Randupitu sedang menyiapkan integrasi ke platform berbasis Android, agar layanan semakin mudah diakses. Tak berhenti di situ, tanda tangan elektronik juga tengah disiapkan.
Dengan begitu, masyarakat tidak perlu lagi pergi ke kantor desa hanya untuk meminta tanda tangan kepala desa.
Begitu juga Fuad, di mana pun berada, selama dokumen sudah diverifikasi, tanda tangan bisa dibubuhkan secara digital.
Artinya, warga tidak perlu menunggu. “Kalau hanya menunggu tanda tangan, itu sering jadi hambatan. Dengan ini, semuanya bisa lebih cepat,” ujarnya.
Di balik semua inovasi itu, ada satu benang merah yang terus dipegang pemerintah Desa Randupitu.
Mendekatkan pelayanan kepada warga. Bukan warga yang mendatangi pemerintah, tetapi pemerintah yang hadir dalam genggaman warga.
Perubahan itu mulai terasa. Warga yang sebelumnya harus bolak-balik ke kantor desa, kini cukup mengakses layanan dari rumah. Lebih hemat waktu. Lebih efisien tenaga. Dan yang tak kalah penting, lebih transparan.
Upaya itu tidak luput dari perhatian. Pada 2024, Randupitu meraih predikat desa terinovatif keempat dalam ajang Anugerah Inovasi Daerah dan Inovasi Teknologi (Inotek Award) yang digelar Badan Riset Daerah (BRIDA) Jawa Timur.
Namun bagi Fuad, capaian itu bukan akhir. Ia justru melihatnya sebagai awal dari pekerjaan yang lebih besar. “Digitalisasi ini akan terus kami kembangkan. Tidak hanya administrasi, tapi juga layanan lain yang lebih spesifik,” katanya. (fun)
Editor : Abdul Wahid