Kreativitas sering lahir dari keterdesakan. Itulah yang dialami Mutaalimin, 35, warga Desa Duren, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo. Karena terdesak secara ekonomi, dia mengolah singkong menjadi keripik dengan cita rasa kentang. Kini, olahan itu dipasarkan hingga keluar Pulau Jawa.
AGUS FAIZ MUSLEH, Kraksaan, Radar Bromo
Sekilas, tak ada yang istimewa dari tampilannya. Berwarna putih pucat, bentuknya tipis seperti keripik pada umumnya. Namun begitu masuk ke mulut, sensasinya berbeda.
Renyahnya ringan, dengan rasa mengecoh lidah. Mirip keripik kentang yang selama ini identik dengan bahan impor.
“Memang konsepnya dibuat seperti keripik kentang. Jadi orang yang makan sering tidak percaya kalau ini dari singkong,” ujar Mutaalimin pemilik usaha keripik singkong rasa kentang ini.
Tentu saja, perjalanan usahanya ini tidak instan. Awalnya Mut (panggilannya) dikenal sebagai pengusaha spons busa kasur. Namun saat pandemi Covid-19 terjadi pada 2021, usahanya itu gulung tikar.
Sumber pendapatannya pun hilang. Sementara kebutuhan hidup tidak pernah hilang, justru terus bertambah.
Di titik itulah, ia mulai memutar otak mencari peluang usaha baru. Dan singkong menjadi pilihannya. Alasannya sederhana. Singkong mudah didapat, bahkan ketersediaannya melimpah di Kabupaten Probolinggo.
Mut melihat kondisi itu sekaligus jadi peluang untuk mengangkat nilai jual singkong sebagai komoditas lokal. Sehingga akhirnya bisa membantu petani singkong.
“Niat awalnya memang ingin mencari usaha yang bahan bakunya mudah dan tidak banyak dilirik. Sekaligus membantu petani singkong di sekitar sini,” tuturnya.
Karena niat itu pula, Mut kemudian membeli sebagian besar singkong dari petani lokal. Mulai Krucil, Tiris, dan beberapa daerah penghasil singkong lainnya di Probolinggo.
Dalam sehari, ia membutuhkan sekitar 6 kuintal singkong segar yang kemudian diolah menjadi 4 kuintal keripik setengah jadi.
Proses produksinya pun mempertahankan sentuhan manual. Mulai dari pencacahan singkong, pencampuran adonan dengan bahan sederhana seperti kanji, garam, dan air. Hingga proses pengovenan, pencetakan, dan penjemuran.
“Semua dikerjakan manual. Dari awal sampai akhir, termasuk mencetaknya,” jelasnya.
Meski sederhana, proses tersebut justru menjadi kunci kualitas. Keripik yang dihasilkan memiliki tekstur khas. Renyah namun tidak keras. Ringan di lidah dan tidak membuat enek.
Dalam sehari, dapur produksinya mampu menghasilkan hingga 4 kuintal keripik setengah jadi. Produk tersebut kemudian dikemas dalam berbagai ukuran.
Harganya beragam, mulai Rp 80 ribu hingga Rp 90 ribu per 5 kilogram. Tergantung ukuran dan permintaan pasar.
Tak hanya rasanya yang khas. Produk ini juga telah mengantongi label halal. Item yang menjadi nilai tambah di tengah persaingan industri makanan ringan.
Kunci lain yang tidak kalah penting, Mut memproduksi olahan ini menjadi keripik setengah jadi. Keripik setengah jadi inilah yang kemudian dipasarkan. Tidak ada proses menggoreng keripik di tempatnya berproduksi.
Namun justru ini menjadi daya tarik kuat. Banyak pengusaha rumahan yang membeli keripik setengah jadi ini ke Mut. Kemudian, digoreng sendiri dan diberi nama sesuai merek dagang masing-masing.
Ada yang dijual dengan rasa orisinil. Ada juga yang diberi beragam rasa. Mulai rasa balado, keju, manis, dan yang lain.
Seiring waktu, permintaan terus mengalir. Tak hanya dari Probolinggo, keripik “rasa kentang” ini justru lebih banyak dikirim ke luar Jawa. Pasar Sumatera dan Sulawesi menjadi salah satu penyerap terbesar, disusul Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Bali.
“Paling banyak kirim ke luar daerah. Sumatera itu rutin. Kemudian Jawa Barat, Jawa Tengah, Bali juga ada,” ungkapnya.
Untuk menunjang distribusi, ia bahkan telah memiliki sistem pengiriman sendiri. Jaringan pemasaran dibangun secara bertahap hingga kini produknya tersebar luas.
Kesuksesan tersebut turut berdampak pada pemberdayaan masyarakat sekitar. Saat ini, usaha yang ia rintis telah menyerap 13 tenaga kerja, mayoritas warga setempat.
“Memang sengaja memberdayakan warga sekitar. Biar sama-sama merasakan manfaatnya,” katanya.
Dari usaha ini, omzet yang diraih pun tidak main-main. Dalam sebulan, perputaran uang bisa mencapai Rp 70 juta. Angka yang cukup signifikan untuk usaha rumahan berbasis bahan lokal.
Namun di balik capaian itu, ada proses panjang yang dilalui. Mutaalimin mengaku sempat belajar langsung ke Jawa Tengah untuk mendalami teknik pengolahan. Ia bahkan mengajak seorang rekan dari sana untuk menjadi mentor, hingga usahanya benar-benar berjalan stabil.
“Saya belajar ke Jawa Tengah, kemudian membawa teman dari sana untuk membantu. Dari situ usaha pelan-pelan berkembang,” tuturnya.
Kini, keripik singkong rasa kentang dari Desa Duren bukan sekadar camilan biasa. Ia telah menjelma menjadi produk unggulan yang mampu bersaing di pasar luar daerah.
Sebuah bukti bahwa inovasi sederhana, mampu mengangkat potensi lokal menjadi komoditas bernilai tinggi. Asalkan digarap dengan tekun,
Di tengah gempuran produk modern, camilan ini hadir dengan identitasnya sendiri yang unik, bersahaja, namun berdaya saing. Dari desa kecil di lereng Probolinggo, singkong pun naik kelas. Menjelma menjadi “kentang” yang menggoda selera lintas pulau. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi