Cerpen Daerah Dulu & Kini Ekonomi-Bisnis Features Hikayat Hobi Hukum & Kriminal Kesehatan Klinik Fotografi Lifestyle Lipsus Love & Life Story Main Desain News Ono Ono Ae Opini Pendidikan Peristiwa Perspektif Politik Radar Bromo Events Sportainment Tanya Jawab

Alfian Adi Saputra, Dosen yang Membaca Dunia Lewat Fotografi di Tengah Gempuran Akal Imitasi

Muhamad Busthomi • Rabu, 29 April 2026 | 12:12 WIB
SISI LAIN: Alfian saat menjadi juri dalam sebuah lomba fotografi. Seharinya dia menjadi dosen di IAI Sunan Kalijogo Malang. (Foto: dok Pribadi)
SISI LAIN: Alfian saat menjadi juri dalam sebuah lomba fotografi. Seharinya dia menjadi dosen di IAI Sunan Kalijogo Malang. (Foto: dok Pribadi)

Sebagai dosen sekaligus juri fotografi, Alfian Adi Saputra tak sekadar menilai ketajaman gambar. Ia memburu sesuatu yang lebih dalam, “rasa” yang membuat sebuah foto hidup, berbicara, dan tinggal lebih lama di ingatan.

MUHAMAD BUSTHOMI, Purwosari, Radar Bromo

Pagi itu, cahaya belum sepenuhnya ramah. Di antara barisan rel kereta yang sunyi di kawasan Sengonagung Purwosari, seorang pemuda berdiri mematung. Kameranya digenggam tenang, tidak terburu-buru. Ia tengah menunggu. Bukan sekadar mencari objek yang estetik, melainkan menanti sebuah momen yang benar-benar jujur.

Klik.    

Satu bingkai tertangkap. Bagi mata awam, mungkin itu foto biasa. Namun bagi Alfian Adi Saputra, jepretan itu kelak menjelma menjadi sesuatu yang tak pernah ia rencanakan. Satu-satunya potret orang tua seorang teman yang bahkan tak sempat menyimpannya semasa hidup.

“Dari situ saya sadar, foto itu bisa jadi lebih dari sekadar gambar. Ia bisa menjadi kenangan terakhir yang paling berharga,” ujar Alfian pelan, mengenang titik balik dalam perjalanan visualnya.

Perjalanan Alfian di belantara fotografi tidak dimulai dari kamera berspesifikasi dewa. Segalanya berawal 13 tahun silam dari sebuah hobi sederhana untuk mengabadikan momen.

Sekitar tahun 2011–2012, sebuah ajakan kecil dari seniornya untuk menggarap proyek foto wedding dan wisuda mengubah arah hidupnya.

Sejak saat itu, ia tak lagi melihat fotografi sebagai sekadar dokumentasi. Baginya, fotografi adalah jalan hidup. Kini, sebagai dosen di IAI Sunan Kalijogo Malang, Alfian berdiri di dua dunia, akademisi dan praktisi. Ia mengajar sekaligus terus memotret. Baginya, fotografi tak akan pernah cukup jika hanya dikaji lewat tumpukan teori.

“Fotografi itu ibarat bahasa. Cara kita menyampaikan sesuatu yang mendalam tanpa harus banyak bicara,” tegas alumni Universitas Yudharta Pasuruan itu.

Eksistensi Alfian di dunia fotografi kian diakui. Sejak 2018, ia mulai dipercaya menduduki kursi juri di berbagai ajang bergengsi.

Mulai dari skala lokal seperti Alkmaart, hingga perhelatan luas macam Festival Kopi Kapal Api dan lomba fotografi kebudayaan di berbagai daerah.

Satu hal yang konsisten ia tekankan, baik di ruang kelas maupun di meja juri adalah rasa.

Ia teringat sebuah kompetisi yang menantang peserta memotret delapan objek berbeda secara langsung di lokasi dengan waktu terbatas. Di sana, Alfian menemukan fenomena menarik.

Ada peserta dengan teknis mumpuni, namun gagap saat harus berpindah genre. Sebaliknya, ada yang bersenjatakan kesederhanaan, namun idenya berdenyut kuat di setiap bingkai.

“Terlalu banyak yang fokus ke teknis. Padahal yang membuat foto itu hidup adalah ceritanya. Rasa itu ruh. Tanpa itu, foto hanya menjadi gambar mati,” ujarnya retoris.

Bagi Alfian, foto juara bukan yang paling tajam resolusinya. Melainkan yang paling mampu menyentuh sisi emosional penikmatnya.

Keyakinan itu tidak datang secara instan. Di fase awal, Alfian pun tak luput dari keraguan. Ia pernah bergulat dengan rasa minder karena keterbatasan alat.

“Dulu kamera mahal sekali, sempat ragu apakah saya layak. Tapi akhirnya sadar, yang penting bukan alatnya, tapi orang di belakangnya,” kenangnya.

Pandangan inilah yang kini ia suntikkan kepada mahasiswanya. Ia melihat generasi sekarang sangat visual, namun sering kali kehilangan kedalaman makna. Tantangan hari ini bukan lagi soal bisa memotret atau tidak, melainkan apakah foto tersebut memiliki “isi”.

Gaya fotografi Alfian pun terbentuk dari prinsip tersebut. Ia lebih memilih pendekatan dokumenter dan human interest. Bisa dibilang, ia adalah pemburu momen natural yang kerap luput dari mata biasa. Cahaya pagi dan sore menjadi favoritnya. “Itu waktu di mana suasana terasa paling natural tanpa banyak rekayasa,” ujarnya.

Pengalaman lapangan juga menempanya menjadi fotografer yang tangguh. Ia pernah bertaruh nyali ketika mengikuti program Kopassus bertajuk Ekspedisi NKRI di pedalaman Sulawesi.

Berburu gambar satwa liar kelas Aves di kawasan tebing. Tanpa lensa tele. Maka satu-satunya cara adalah mengambil gambar dengan jarak yang cukup dekat. Itupun, Alfian harus ekstra berhati-hati. Karena begitu getaran kakinya terdengar, obyek yang diburu bakal lepas sebelum sempat memotretnya.

“Posisinya juga cukup sulit. Kalau maju sedikit saja, itu sudah jurang,” ceritanya. Baginya, fotografi terkadang juga soal keberanian dan kesiapan mental menghadapi kejutan alam.

Karya-karya Alfian kini sering menghiasi berbagai ruang pameran. Mulai dari pameran tunggal bertema suku dan wisata Lombok, hingga pameran bersama tentang olahraga dan ruang publik.

Di sela kesibukannya, ia juga tengah mengembangkan PT Otak Lensa Indonesia sebagai wadah untuk memperluas dampak sosial dari karya-karyanya.

Namun, di tengah laju teknologi akal imitasi (AI), Alfian menyimpan kegelisahan tersendiri. Di satu sisi, visual semakin mudah dibuat. Di sisi lain, keaslian menjadi barang langka.

“Sekarang orang bisa bikin gambar hanya dari perintah teks atau prompt. Tapi tidak semua bisa membuat gambar yang punya nyawa dengan ceritanya,” katanya.

Ia tetap percaya, selama manusia masih memiliki perasaan, fotografi akan selalu punya tempat yang istimewa. Sebab, kecanggihan algoritma tak akan pernah bisa menggantikan ketulusan sebuah momen.

Di akhir perbincangan, Alfian kembali pada satu prinsip yang menjadi jangkar hidupnya. “Foto yang kuat itu bukan yang paling bagus secara teknis. Tapi foto yang paling jujur,” gumamnya. (fun)

Editor : Abdul Wahid
#iai #sunan kalijogo #fotografi #ai #dosen