Banyak anak muda yang terjerat tindakan kriminal lantaran tidak memiliki pekerjaan. Kondisi itu membuat Rizki Febriyan, 27, tergerak untuk bertindak. Jalan yang dipilih sederhana, membuka usaha potong rambut. Dari sana, ia pelan-pelan mengubah arah hidup anak-anak muda di sekitarnya.
Achmad Arianto, Kraksaan, Radar Bromo
Usianya tergolong muda. Namun, Rizky Febriyan memiliki kepekaan sosial yang cukup baik. Cukup untuk menggerakkan hatinya ikut mengubah keadaan.
Warga Desa Sumberan, Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, itu mengaku tak bisa menutup mata dengan kondisi sekitar.
Ia sering melihat banyak pemuda hanya menghabiskan waktu dengan nongkrong, meski berada di usia produktif. Sebagian bahkan nekat melakukan aksi kriminal karena tekanan ekonomi.
“Prihatin dengan kondisi pemuda menganggur. Jika tidak ada sumber pendapatan tentu akan terjerumus pada aksi kriminal,” katanya mengawali cerita.
Berangkat dari kegelisahan itu, Rizki memilih membuka usaha potong rambut. Ia melihat banyak pemuda sebenarnya punya keterampilan, bahkan pernah ikut kursus. Namun tidak memiliki modal untuk membuka usaha sendiri.
Selain itu, potong rambut dinilai memiliki prospek yang terus dibutuhkan.
Usaha pertamanya dirintis pada Maret 2021 di Kelurahan Semampir, Kraksaan. Saat itu, dia mempekerjakan dua karyawan. Ia menyasar remaja dan pemuda sebagai pelanggan utama.
Di awal usaha, Rizki turun langsung membina karyawan. Mulai mengajarkan pelayanan ramah, hingga memastikan hasil potongan sesuai kebutuhan pelanggan.
“Awal buka usaha langsung saya pantau. Dua orang yang saya rekrut memang punya keahlian memotong rambut. Bahkan, hasil potong rambutnya cukup bagus. Namun terkendala untuk membuka usaha,” jelasnya.
Seiring waktu, tempat potong rambut itu berkembang. Fasilitas dilengkapi, konsep diperbarui, hingga menjelma menjadi barbershop yang lebih modern.
Kebutuhan tenaga kerja pun bertambah. Hingga membuat Rizki membuka lowongan kerja. Tak disangka, peminatnya membeludak.
Selama seleksi, Rizki turun tangan. Tak hanya mengecek langsung hasil potongan rambut calon karyawan.
Tetap juga melihat attitude dan cara berkomunikasi dengan orang lain. Termasuuk menanyakan apa yang menjadi motivasi calon karyawannya itu.
Hasilnya mulai terlihat. Barbershop semakin ramai pelanggan. Hingga pada 2025, ia membuka cabang di Desa Pondokkelor, Kecamatan Paiton. Kini total karyawannya mencapai 10 orang, seluruhnya berasal dari Kabupaten Probolinggo.
“Saat ini karyawan totalnya 10 orang. Semuanya dari Kabupaten Probolinggo. Rencananya masih akan kami tambah,” terangnya.
Di balik kesibukannya sebagai ASN di Rutan Kelas IIB Kraksaan, Rizki tetap rutin meningkatkan kemampuan karyawannya. Pelatihan model rambut dan treatment rambut terkini menjadi agenda berkala agar mereka tak tertinggal tren.
Karyawan juga diikutkan berbagai lomba untuk mengasah keterampilan. Mulai lomba potong rambut, treatment, dan layanan lainnya.
“Kemampuan karyawan selalu kami upgrade agar tidak ketinggalan tren. Karena itulah rutin kami ikutkan pelatihan dan lomba,” bebernya.
Bagi Rizki, usahanya bukan sekadar mencari keuntungan. Ia ingin tempat kerjanya menjadi pijakan bagi karyawannya untuk bangkit. Bahkan, ia merasa bangga jika ke depan ada karyawannya yang memutuskan untuk berhenti dan membuka usaha sendiri.
Namun ia tetap menekankan bahwa selama bekerja di tempatnya, semua karyawan harus bekerja secara total dan profesional. Menjadikan kepuasan pengunjung sebagai tujuan akhir layanan barbershop.
Kesempatan bekerja di tempat usahanya itu bahkan ingin ia berikan kepada warga binaan. Ia mengaku siap merekrut mantan penghuni rutan yang memiliki keterampilan, namun tidak memiliki akses pekerjaan.
“Membuka usaha tidak hanya fokus pada keuntungan. Namun sejauh mana usaha bermanfaat bagi orang lain. Sudah ada satu warga binaan yang diketahui memiliki keahlian memotong. Rencananya akan kami tawarkan setelah bebas nanti,” ucap warga asli Desa Wonokerto, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang, ini.
Dari kursi-kursi cukur sederhana itu, Rizki tak hanya membangun usaha. Namun perlahan merajut harapan baru bagi para pemuda agar tetap punya jalan, sebelum salah langkah menentukan hidupnya sendiri. (hn)
Editor : Muhammad Fahmi